Lakon Sam-Muel
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku.
***
Setiap orang memiliki panggungnya sendiri. Di atas panggung itu, mereka bebas beraksi, menari, menyanyi, berlakon dalam sebuah pemantasan bernama hidup. Aku dan Sam didaulat untuk berlakon dalam sebuah kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda.
Sam dan dunianya yang tenang. Bibirnya seperti air terjun yang mengalirkan kata-kata indah, memanjakan penonton. Matanya jernih, memampukan siapa saja untuk masuk dan melihat sampai dasar terdalam hatinya.
"Sam jelas adalah motivator paling menginspirasi tahun ini," begitiukata mereka yang melihatnya dari layar kaca.
Kami berlakon dalam kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda. Aku hidup dalam goa batuku. Bersembunyi dari orang-orang yang memegang obor dan siap menerawang duniaku. Aku dihukum oleh tatapan benci dari seorang bidadari cantik yang kusebut istri. "Aku sudah tidak tahan! Apa salahku, Muel, sampai hampir tiap hari kamu meluapkan semua amarahmu padaku?"
Tiap malam, itu lah yang kudengar. Tiap malam pula, kubagi dua sisi cermin dengan Sam. Sam dan Muel. Kami berlakon dalam kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda. Tiap pagi dan malam, kami berbagi panggung dan peran seorang Samuel.
***
***
Setiap orang memiliki panggungnya sendiri. Di atas panggung itu, mereka bebas beraksi, menari, menyanyi, berlakon dalam sebuah pemantasan bernama hidup. Aku dan Sam didaulat untuk berlakon dalam sebuah kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda.
Sam dan dunianya yang tenang. Bibirnya seperti air terjun yang mengalirkan kata-kata indah, memanjakan penonton. Matanya jernih, memampukan siapa saja untuk masuk dan melihat sampai dasar terdalam hatinya.
"Sam jelas adalah motivator paling menginspirasi tahun ini," begitiukata mereka yang melihatnya dari layar kaca.
Kami berlakon dalam kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda. Aku hidup dalam goa batuku. Bersembunyi dari orang-orang yang memegang obor dan siap menerawang duniaku. Aku dihukum oleh tatapan benci dari seorang bidadari cantik yang kusebut istri. "Aku sudah tidak tahan! Apa salahku, Muel, sampai hampir tiap hari kamu meluapkan semua amarahmu padaku?"
Tiap malam, itu lah yang kudengar. Tiap malam pula, kubagi dua sisi cermin dengan Sam. Sam dan Muel. Kami berlakon dalam kisah yang sama, sebagai dua karakter berbeda. Tiap pagi dan malam, kami berbagi panggung dan peran seorang Samuel.
***
Comments
Post a Comment