cerita lagi..
PENANTIAN DI BALIK JENDELA
Lima tahun yang lalu, jendela kamar ini, selalu terbuka, setiap petang. Saat jam para pekerja pulang dari rutinitas. Pulang ke tengah keluarga. Lalu, tak lama dari itu seorang gadis akan duduk di depan jendela ini. Menerawang jalanan yang memang terlihat dari kamar di lantai dua ini. Ia duduk bertopang dagu seperti menunggu seeorang yang tak kunjung datang. Ia akan bertahan dalam posisi seperti itu, sampai matahari benar- benar tenggelam dan jalanan benar- benar sepi.
Bila itu terjadi, malam menjemput dan yang ia nanti- entah siapa- tak kunjung datang, ia akan menutup jendela dengan raut muka yang amat kecewa. Terkadang, ia seperti tidak yakin untuk menutup jendela itu. Ia terpaku untuk beberapa saat dengan posisi tangan telah bersiap menutup dua daun jendela kamar itu.
Gadis itu, adalah seseorang yang amat misterius. Tak ada yang pernah melihatnya keluar rumah, selain untuk mengecek kotak surat. Ia memeriksa satu per satu surat- surat yang terdapat di dalamnya. Bila seolah tak menemukan surat yang ia cari, ia akan mengembalikan semua surat itu ke tempatnya dan masuk ke rumah. Tak peduli tetangga- tetangga-termasuk aku- memperhatikannya dengan bingung. Ia tak pernah berinteraksi.
Sering sekilas kudengar beberapa tetangga membicarakannya, “Kabarnya orang tuanya berpisah dari sejak gadis itu kecil. Sejak itu ayahnya tak pernah mengunjunginya. Makanya dia jadi sedikit tidak waras”.
Atau, ”Mungkin dia itu sudah setengah gila, lantaran ditinggal pergi kekasihnya?”
Ada juga, ”Kasihan, masih muda, cantik, tapi tidak waras. Atau mungkin dia memang terbelakang mental?”
Yang lain berkata, “Ia bisu dari lahir”.
Begitulah, banyak orang mengungkapkan banyak kemungkinan yang tengah terjadi pada gadis itu. Aku tak berani menyalahkan mereka atas anggapan mereka. Aku hanya bisa maklum.
Sore itu, sekali lagi aku melihatnya duduk bersandar di pinggir jendela yang terbuka lebar. Sekali lagi ia memperhatikan setiap pengguna jalan yang berlalu- lalang. Meski begitu, tatapan matanya menunjukan adanya kehampaan. Dan aku yakin, pikirannya pun tak benar- benar terfokuskan pada jalanan itu.
Tapi kemudian tiba- tiba ia seperti tersentak oleh sesuatu. Ia buru- buru turun dari kusein jendela yang sedari tadi ia duduki. Tanpa menutup jendela, pergi dari sana. Terbawa rasa penasaran, aku pun beranjak dari jendela kamarku yang tepat berada di seberang jendela kamarnya- tapi entah kenapa ia tak pernah sadar aku perhatikan dan menuju pintu depan rumah. Tapi, sebelum berhasil kuraih hendel pintu, kudengar suara jeritan yang sepertinya berasal dari jalan.
Aku bergegas keluar rumah. Kulihat gadis itu telah jatuh terduduk di tengah jalan. Berteriak- teriak seperti orang tidak waras. Baru sekali itu, aku mendengar suaranya, sejak empat tahun lalu ia datang.
“Tunggu!!!” teriaknya lagi.
Ia seperti memanggil seseorang, tapi tak ada siapa pun di situ. Para tetangga yang sama terkejutnya dengan ku segera keluar rumah masing- masing. Meski telah melihat apa yang terjadi, tak ada seorang pun dari mereka yang menghampiri gadis itu, untuk sekedar membangunkannya. Kuputuskan untuk mendekat.
“Ada apa?” tanyaku padanya yang masih terlihat histeris dan syok.
“Tuungguu...” sautnya lirih.
Aku membantunya berdiri, tak peduli apa yang akan orang- orang katakan tentang peristiwa ini. Saat itulah,aku menyadari ada yang lain dari dirinya. Kakinya. Ya, kaki kanannya bukanlah kaki yang semestinya. Itu adalah kaki palsu. Saat itu kegetiran merambat ke seluruh tubuhku.
“Syafa!” seseorang memanggil dari arah rumah tempat gadis itu tinggal, “Kenapa keluar rumah?” tanya wanita paruh baya itu.
Selanjutnya ia memapah gadis yang dipanggilnya Syafa itu. Syafa terlihat tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Wanita paruh baya itu pun terlihat kewalahan. Aku memutuskan untuk membantunya. Kami membawa syafa ke kamarnya. Kamar yang... jauh lebih mengagumkan dari apa yang pernah kubayangkan. Kapert, seprai, tirai, semua yang ada di kamar itu warnanya senada dengan cat temboknya. Berada di kamar itu, seolah membawaku ke sebuah pantai dengan pemandangan laut yang amat luas. Indah, cantik.
Kami membaringkan Syafa di tempat tidurnya yang dihiasi kelambu dan gantungan berbentuk kerang di keempat sisi kayu penahan kelambu. Setelah itu, wanita yang ternyata adalah ibunya membawaku ke ruang makan. Nampaknya ibu Syafa begitu pandai mengatur rumah. Tak hanya kamar Syafa yang mengagumkan, tapi seluruh isi rumah.
“Ini semua Syafa yang mengatur,” cetusnya saat kami hendak menuju ruang makan di lantai satu. Rupanya beliau menangkap rasa kagumku.
“Oh, saya pikir, ibu yang mendesain,” jawabku salah tingkah.
“Syafa itu, dia tidak gila, juga tidak terbelakang mental. Dia itu istimewa. Ia bisa membayangakan sesuatu yang indah dan mewujudkannya ke dunia nyata,” lanjutnya sambil mempersilahkanku duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan kecil berbentuk bundar.
“Dia itu..” kata- kataku terpotong.
“Iya, dia bisa melakukannya. Dia sering membantu teman- temmannya membuat tarian, lagu, lukisan, bahkan membantu mereka dalam memperindah kehidupan mereka. Pernah ada seorang temannya yang kabur dari rumah dan mengadu pada Syafa. Katanaya ia selalu dianak tirikan di rumahnya. Waktu itu umur Syafa baru sepuluh tahun. Tapi, dengan berani ia mengantar temannya itu pulang dan bicara pada ibu temannya itu. Jangankan ibu temannya, saya saja terkejut bukan main. Syafa juga dulu gadis yang ceria. Dia dekat dengan ayahnya,” cerita ibu Syafa terhenti sejenak, diselingi suara isakkan. Saat itu ia sedang membuat teh hangat untukku.
“Tapi, ya, itu dulu. Semenjak ayahnya pergi meninggalkan kami, Syafa seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia tetap menata rumah, tetap membuat hasil karya, tapi tidak dengan senyuman seperti dulu. Dia seperti hanya ingin menunjukkan pada saya bahwa ia baik- baik saja. Mungkin dia tidak tahu, bahwa perasaan seorang ibu sangat kuat.”
“Jadi, yang selama ini di tunggu adalah ayahnya?” tanyaku tak mampu membendung rasa ingin tahu.
“Iya. Pasti kamu sering memperhatikannya, ya? Dia mengulang kebiasaannay saat kecil. Menunggu ayahnya pulang dari kantor. Bila motor ayahnay mulai terlihat, dia akan berlari menghambur ke pelukan ayahnya. Syafa pasti tertawa lepas di pelukan ayahnya. Sayang, ternyata ayahnya tak tahan terhadap godaan. Kami mendapatinya tengah bermerasaan dengan wanita lain di sebuah rumah. Syafa mengamuk. Menampari muka wanita itu, tanpa bertanya, tanpa berkata apa- apa lagi. Baginya apa yang telah dia lihat sudah cukup membuktikan bahwa wanita itu bersalah. Ia terus melampiaskan kekecewaannya dengan mengacaukan isi rumah wanita itu.”
Semua pot, bingkai foto, bahkan bila tak dihentikan ayahnya, Syafa hampir melempari wanita itu dengan vas bunga. Ia terus bertanya pada ayahnya sambil menangis.
“Apa ayah tidak sayang lagi pada Syafa? Apa syafa begitu nakal dan buruk sampai ayah melakukan semua ini? Kalau ayah tidak suka Syafa ,menari ayah boleh marah. Ayah boleh pukul Syafa! Kalau ayah tidak memperbolehkan Syafa main sama teman- teman Syafa lagi, ayah boleh usir mereka! Ayah boleh usir Syafa! Tapi, kalau ayah lakuakan ini, ayah menyakiti Ibu! Ibu nggak salah! Bukan ibu yang mau Syafa nari, bukan Ibu yang ngajari Syafa bandel! Kenapa ayah? Kenapa perempuan ini yang ayah pilih!”.
Waktu itu umur Syafa 13 tahun. Merasa tak mendapatkan jawaban, ia berlari keluar rumah. Berdiri di tengah pembatas jalan. Seperti orang yang putus asa, dia melihat truk yang akan melintas, ia bermaksud menabrakkan diri.
“Kalau ayah sudah tidak sayang Syafa, biar Syafa yang pergi!” dia berlari ke tengah jalan.
“Waktu seperti berhenti, waktu saya melihat truk itu akan mengahantam bagian tubuh Syafa yang sebelah kanan. Untunglah supir truk itu sempat memperlambat laju kendaraannya. Sehingga nyawa Syafa tak jadi melayang. Saya dan ayahnya segera mengahmpiri Syafa yang waktu itu pingsan. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dengan menumpang mobil orang baik hati yang lewat.” Air mata mengalir perlahan di pipi wanita itu.
Ia menggambarkan semua situasi yang amat kacau waktu itu. Ia dan mantan suaminya sangat panik memikirkan keadaa Syafa. Begitu paniknya sehingga mereka tidak sempat untuk saling menyalahkan. Mereka hanya mampu mengucap doa, yang bahkan sudah tak jelas maksudnya.
Mereka sempat menunggu selama setengah jam, hingga akhirnya sang dokter yang menangani Syafa keluar dari ruang UGD, dan memberi mereka kabar yang amat menyayat hati, terutama bagi ibunda Syafa.
“Waktu itu perasaan saya sudah tidak enak. Ditambah raut muka si dokter yang kusut. Dunia benar- benar seperti akan kiamat, waktu dokter itu menyampaikan kabar bahwa kami harus menandatangani persetujuan untuk mengamputasi kaki Syafa yang sebelah kanan. Yang terlintas dalam pikiran saya saat itu adalah, bagaimana Syafa bisa bermain seperti dulu bila harus kehilang satu kaki. Tapi dokter bilang kalau itu cara satu- satunya agar Syafa bisa selamat.
“Ternyata bukan hanya itu masalah kami. Setelah kejadian itu Syafa mengalami trauma yang luar biasa. Di jadi membisu. Tidak pernah bicara, melakukan kontak dengan orang lain, dia hidup membentuk dunianya sendiri. Awalnya ayah Syafa masih menemani kami berdua di rumah. Mungkin dia sadar bahwa ini semua adalah salahnya. Tapi, sebulan kemudian dia tidak tahan dan pergi dari rumah. Meninggalkan Syafa yang masih butuh perhatiannya. Dari sejak itu lah, Syafa selalu menunggu ayahnya pulang dan memeluknya seperti sebelum kecelakaan itu datang. Melihat kondisi Syafa yang begitu, saya memutuskan untuk membawa Syafa pindah ke kota ini. Dengan harapan kondisinya kan membaik. Tapi, ternyata sama saja. Dia tidak mau sekolah lagi, tidak mau berteman, bahkan mengobrol dengan saya pun jarang. Kerjanya hanya melamun dan menulis di buku catatannya. Kadang juga ia menggambar. Eh, saya jadi ngelantur, ya?” Ibu Syafa mengusap pipinya untuk menghapus air mata yang sedari tadi mengalir.
“Maaf kalau saya membuat Ibu sedih,” kataku merasa tidak enak.
“Oh, tidak. Ini bukan salah nak...” nampaknya ia lupa kalau kami belum berkenalan secara resmi.
“Nama saya Rafael. Tapi, rafa saja sudah cukup,” jawabku memperkenalkan diri.
“Oh, iya. Saya Nuri, ibunya Syafa. Nak Rafa, ini bukan salah kamu. Saya justru harus berterima kasih, karena kamu mau menolong Syafa dan mau mendengarkan cerita saya.”
“Sama- sama, Bu. Jadi ibu dan Syafa hanya tinggal berdua?”
“Ya, begitulah. Kami tidak punya sanak saudara di kota ini. Untunglah saya masih bisa hidup mandiri. Bisa bekerja sebagai karyawan swasta dan bisa mendapat rumah dinas ini,” lanjutnya.
“kalau ibu bekerja, Syafa bagaimana? Kondisinya, kan..” lagi- lagi aku merasa tak enak melanjutkan kata- kataku.
“Pintu rumah saya kunci dari luar. Begitu juga pintu menuju dapur dan ruang- ruang yang sekiranya bisa membahayakan Syafa kalau dia sedang tidak senang. Jadi, Syafa hanya akan bisa pergi ke ruang keluarga, kamarnya dan kamar mandi. Ngomong- ngomong, nak Rafa tinggal dengan siapa?”
“Saya tinggal dengan seorang teman saya. Kami mengontrak rumah tepat di depan rumah ini. Orang tua saya tinggal di lain kota. Tadinya saya hanya berniat untuk melanjutkan SMA di sini, tapi ternyata tergoda juga untuk lanjut kuliah. Saya kuliah di fakultas kedokteran, baru semester dua.”
“Wah, hebat sekali. Ternyata tetangga saya calon dokter.”
“Ah, biasa saja, Bu.”
Aku dan Bu Nuri keasyikan mengobrol. Tiba- tiba terdengar suara gaduh yang berasal dari anak tangga. Seperti ada orang yang turun dengan terburu- buru. Lalu, tak lama muncul lah wajah yang sudah tak asing lagi bagiku. Syafa. Ya, ternyata dia sudah sadar, setelah satu jam yang lalu ibunya memberi obat penenang agar ia bisa tidur.
“Syafa? Sudah bangun, sayang?” tanya ibunya.
Syafa hanya mengangguk dengan senyum tipis yang nampak dipaksakan. Lalu ia memalingkan wajahnya padaku. Memperhatikan ku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Tadi Syafa lihat motor ayah, jadi Syafa kejar. Tapi, ayah tidak berhenti. Apa ayah benar- benar tidak sayang lagi pada kita?” ekspresi mukanya berubah seketika.
Bu Nuri menghampiri Syafa dan merangkul putrinya itu.
“Tidak sayang. Ayah pasti masih sayang sama Syafa. Tapi, mungkin ayah belum bisa pulang.”
“Bu, Syafa bukan anak umur sepuluh tahun lagi. Umur Syafa sekarang sudah 18 tahun. Syafa tahu, semua yang Ibu bilang cuma untuk menghibur Syafa.”
Kata- kata Syafa terang saja membuatku keget. Ternyata dia tak sepenuhnya lupa siapa dia.
“Ayah bahkan tidak pulang waktu ulang tahun Syafa yang ke tujuh belas. Padahal itu adalah saat dimana seorang anak menjadi dewasa,”
Pemikirang yang sama sekali di luar dugaanku.
“Kalau Syafa tahu, kenapa Syafa bilang kalau Syafa lihat Ayah tadi?” tanya Bu Nuri dengan nada sehalus mungkin.
“Karena itu memang motor Ayah. Karena itu memang betul Ayah.”
Yang ini kembali membuatku bingung. Dia tahu bahwa ayahnya tak akan kembali, tapi dia bisa mengatakna kalau Ayahnya lewat di depan rumahnya. Sedangkan tadi, tak kulihat siapa pun di jalanan itu.
“Syafa yakin? Mungkin Syafa salah lihat?”
“Syafa tidak salah lihat. Syafa tahu itu Ayah,”
“Ya sudah. Kita duduk dulu, yuk! Minum teh, biar ibu siapkan.”
Lalu dia mengangguk lagi.
Kami minum teh dalam keheningan sampai..
“Terima kasih.” Kalimat itu terlontar dari bibir gadis manis berambut panjang itu.
“Ya?” aku bingung dan tak sadar bertannya.
“Terima kasih, karena sudah menolong saya dan ibu.” Di bicara masih tanpa ekspresi.
Dia hanya mengaduk- aduk tehnya.
“Iya sama- sama. Hmm.. kalau begitu, saya pamit dulu. Sudah hampir malam rupanya.”
“Kamu boleh main lagi kapan- kapan.” Jawab Syafa yang lagi- lagi mengejutkanku.
“Oh, iya. Mari Bu. Syafa.” Aku pamit.
Malamnya, seperti yang sudah kuduga, Ardo menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
“Kok, bisa- bisanya lo nolong tuh cewek. Siapa namanya?”
“Syafa. Ya, masa harus gue diemin dia duduk di tengah jalam kayak orang gila?”
“Loh? Bukannya dia emang agak ga waras, ya?”
“Sembarangan! Dia waras kali. Buktinya dia bisa bilang makasih ke gue. Cuma..”
“Cuma apa?”
“Ya, cuma dia emang pindiam.”
“Ohh.. jadi selera sohib gue ini, cewek yang begitu?”
“Begitu apa? Selera apa?”
“Ya, ternyata selera lo kalau untuk cewek, tuh yang diem, miterius, dan agak ga waras.”
“Sialan lo! Ga, lah!! Gue murni mau ngebantu dia. Dan dia itu nggak gila!!”
“Hahaha.. iya, iya... sorry.. tapi, kasihan juga, ya. Gue nggak kebayang kalau gue jadi di Syafa itu. Ditinggal ayahnya, padahal dia sayang banget sama ayahnya itu.” Ardo mendadak simpati.
“Iya. Gue juga nggak kebayang kalau gue yang jadi dia. Eh, kenapa lo jadi mendadak suram gitu?” aku melihat ada perubahan di air mukanya.
“Nggak apa- apa. Cuma ngbayangin sengsaranya jadi dia. Eh, kalau lo main ke rumah Syafa lagi, gue ikut, ya?”
“Kenapa gue harus ngajakin lo? Waduh! Jangan- jangan lo lagi, yang suka sama dia?” ledekku.
Tapi Ardo hanya diam dan tersenyum. Aku jadi makin curiga. Bukan lantaran cemburu, karena aku pun tak punya perasaan untuk Syafa. Namun, Ardo tak biasanya bersikap seperti ini. Ah, sudah lah. Mungkin aku saja yang terlalu sensitif.
Malam makin larut. Tapi, mataku belum juga mampu kupejamkan. Aku terbayang peristiwa sore tadi. Menyadari hal- hal yang tak aku duga sebelumnya. Syafa, gadis yang selama ini aku perhatikan, ternyata bukan gadis gila seperti yang dibicarakan ibu- ibu tukang rumpi komplek ini. Dia waras, hanya kurang beruntung. Nenyadari begitu banyak kehilangan yang ia alami. Ayahnya, kakinya, keceriaannya, teman- temannya, bahkan dirinya yang utuh.
Akhirnya kuputuskan untuk duduk di beranda kamar yang biasa kugunakan untuk mengamati Syafa. Ternyata lampu kamarnya juga belum padam. Apa itu berarti dia juga belum tidur? Apa mungkin dia sedang memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan?
“Hush! Sembarangan,” aku merutuki otakku yang berpikir sembarangan.
Beberapa hari kemudian, Bu Nuri mengundangku untuk makan malam bersama di rumahnya. Katanya, Syafa yang mengundang. Ternyata ia sangat senang mempunyai teman baru yang sebaya denganya. Sebaya? Sebenarnya tidak juga. Dia dua tahun lebih muda dari ku dan Ardo.
Seperti janjiku, malam itu aku minta ijin kepada Bu Nuri untuk mengajak Ardo. Dan untunglah Ibu yang baik hati ini mengijinkannya.
Seperti yang dijanjikan, aku mengetuk pintu rumahnya tepat pukul 19.00- kata Bu Nuri, Syafa tidak suka orang yang datang terlambat. Tebak siapa yang membukakan pintu! Syafa! Dengan terusan berwarna putih. Ia terlihat cantik. Apalagi ditambah dengan senyum tipisnya.
“Selamat datang, Rafa.” Ia meyambutku dengan ramah.
“Terima kasih. Oh, iya hari ini saya mengajak teman saya. Ardo.” Aku hendak memperkenalkan Ardo pada Syafa. Saat kusadari raut wajah Ardo tengah menunjukkan kekagetan yang luar biasa.
“Ibu sudah cerita. Selamat datang Ardo. Mari masuk!” Syafa menutup intu dan mempersilahkan kami langsung duduk di ruang makan.
Saat itu raut ekspresi Ardo masih seperti baru melihat setan.
“Kenapa lo?” tanyaku berbisik sambil meyikut lengan Ardo.
“Hah? Eh, hmm.. ga apa- apa.” Ardo gugup.
“Nak Rafa. Sudah lama, ya? Maaf Ibu baru selesai berbenah,” Bu Nuri menyapa kami.
“Oh, belum lama, Bu. Baru saja duduk. Oh, iya, Bu, kenalkan ini Ardo, teman satu kontrakan saya.” Aku memperkenalkan Ardo pada Bu Nuri.
“Ardo,” Ardo mencium tangan Bu Nuri.
“Kenapa kamu bersalaman dengan Ibu? Sedang tadi, mengucap salam saja, tidak.” Aku dan Ardo tersentak mendengar pernyataan Syafa barusan.
“Syafa!” tegur Bu Nuri. “Maaf, ya nak Ardo. Syafa memang sedikit sensitif. Ajaran ayahnya waktu kecil. Untuk selalu tepat waktu dan berlaku sopan,” dari pernyataan Bu Nuri, sepertinya ayah Syafa bukan lah orang yang mudah goyah. Bertentangan denagn semua kisah yang diceritakannya tempo hari.
“Oh, tidak apa- apa, Bu. Saya yang salah. Tidak menghargai tuan rumah yang cantik ini,” Ardo mendekati Syafa dan hendak menjabat tangannya. “ Maaf Syafa. Perkenalkan, nama saya Ardo. Teman satu kontrakannya Rafa.”
“Iya. Lain kali, jangan harus ditegur dulu baru melakukan, ya!” Syafa langsung meniggalkan Ardo yang terbengong, menuju dapur.
“Harap maklum ya, nak Ardo! Ayo silahkan duduk lagi!”
Aku dan Ardo jadi merasa tidak enak pada Syafa dan Ibunya. Bagaimana pun peringatan Syafa bagi Ardo tadi, mengena juga padaku.
Makan malam kami nikmati dengan keheningan. Sekali lagi, Syafa tidak suka orang yang makan sambil berbicara. Selesai makan, aku dan Ardo ikut memberesakan ruang makan sebelum akhirnya dijamu di ruang tamu dengan segelas soda dan sepiring buah- buahan.
“Terima kasih banyak, Bu. Malam ini kami sudah dijamu seperti ini.”
“Oh, tidak usah sungkan, nak Rafa. Ini kan permintaan Syafa. Kalau Syafa senang, saya juga senang.”
“Itu benar. Saya yang mengundang kalian. Jadi tidak perlu sungkan. Ngomong- ngomong, sudah berapa lama sudah berapa lama kalian kenal dan berteman?” Syafa membuka perbincangan.
“Sejak kami SMA. Waktu itu kami satu sekolah. Waktu kelas 2 SMA, kami sempat satu kelas, bahkan. Tadinya, saya menempati rumah kontrakan itu bersama kakak saya waktu SMP. Tapi, saat saya kelas 3 SMP, kakak saya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak itu saya tinggal di rumah itu sendiri, bertekad menyelesaikan sekolah saya. Setelah dekat dengan Rafa, saya tahu bahwa Rafa juga jauh dari orang tua. Jadi saya ajak saja, dia untuk pindah ke rumah itu.” Ardo menerangakan.
“Oh. Kalian sama- sama calon dokter?” tanyanya lagi.
“Iya. Itu kebetulan juga. Kami punya minat di bidang yang sama.” Jawab Ardo lagi.
Kami asyik mengobrol. Saling menanyakan hobi, kegemaran dan hal- hal menyenangkan. Kemudian terdenger suara motor lewat di depan rumah itu.
“Ayah?!” Syafa bangkit dari sofa yang ia duduki. Reaksi yang sama seperti kejadian sore waktu itu.
“Syafa!” Bu Nuri, aku, dan Ardo menyusul Syafa yang sudah duluan berlari menuju pinti depan.
“Ayah! Tunggu!!!” Syafa berteriak lagi.
Beberapa tetangga keluar rumah mereka. Lagi- lagi dengan ekspresi kaget dan kesal.
“Syafa! Itu bukan Ayah!” Bu Nuri mengejar Syafa yang terus berlari dengan kakinya yang pincang mengikuti jejak motor barusan.
Kemudian kulihat Ardo berlari makin cepat mendahului aku dan Bu Nuri. Dan dalam sekejap menangkap Syafa!
“Stop Syafa! Itu bukan ayah kamu!” Ardo menahan Syafa yang meronta.
“Kamu nggak tahu! Itu ayah aku!”
“Bukan! Itu bukan ayah kamu! Ayah kamu tinggal di luar kota! Bukan di sini!” Ardo berteriak di hadapan muka Syafa.
Aku terkejut setengah mati. Begitu pula Bu Nuri. Bagaimana mungkin Ardo bersikap seolah ia mengetahui segalanya tentang Ayah Syafa?
“Ayo kita bawa Syafa pulang dulu, Bu!”
Bu Nuri hanya sanggup mengangguk. Aku membantu Ardo memapah Syafa sampai ke kamarnya. Setelah memastikan bahwa Syafa sudah tertidur- akibat obat tidur yang diberikan ibunya-, kami meengobrol di ruang tamu.
“Kira- kira, siapa, ya yang Syafa kira ayahnya itu?” aku memancing obrolan.
“Ibu juga nggak tahu. Tapi, memang motor itu mirip dengan motor ayahnya Syafa,” Bu Nuri menimpali.
“Pantas saja, kalau Syafa mengira itu adalah ayahnya.” Jawabku.
“Bukan Cuma mirip, Bu. Tapi, itu memang motor Ayah Syafa.” Ardo bergumam.
“Hah? Bagaimana mugkin itu adalah motor Ayah Syafa? Dia tidak mungkin tinggal di kota ini.”
“Lo tahu dari mana?” aku penasaran.
“Motor itu, motor yang sama seperti di foto itu, kan?” Ardo menujuk sebuah pigura kecil yang terdapat selembar foto di dalamnya. Foto seorang ayah yang membonceng putrinya di sebuah motor.
“Saya kenal orang itu. Lelaki yang di foto itu. Namanya Pak Ruslan,” beber Ardo.
“Itu nama Ayah Syafa!” Bu Nuri tersentak.
“Memang. Karena itu saya bilang, kalau itu memang motor Ayahnya Syafa. Karena asal Ibu tahu, sejak pertama kali melihat Ibu dan Syafa pindah ke kompleks ini tiga tahun lalu, saya melihat ada kemiripan yang sangat mencolok di muka Syafa. Muka itu langsung mengingatkan saya kepada wajah Pak Rusli. Beberapa tahun lalu, dia sempat tinggal di gang sebelah. Beliau terkenal sebagai salah satu orang kaya di kompleks ini.”
“Bagaimana mungkin. Ruslan hanyalah seorang pegawai biasa.”
“Pangkatnya memang hanya pegawai biasa. Tapi cukup strategis untuk menyelundupkan uang perusahaan, kan? Itu sudah menjadi rahasia umum. Yang saya tahu, saat pindah ke sini, dia tidak sendiri. Ia memiliki seorang istri dan seorang anak laki- laki. Istrinya bernama Maya dan anaknya Andre. Waktu itu anaknya berumur 3 tahun. Kalau Ibu benar, sebagai orang kaya baru, kehidupan mereka memang amat glamour. Baru seminggu pindah ke kompleks ini, kami sudah melihat di membeli sebuah mobil yang cukup mewah untuk ukuran seorang pegawai biasa. Lalu sering juga kami lihat ‘istrinya’- entah sah atau tidak- hilir mudik ke mall, kemudian pulang dengan tas belanjaan yang bahkan mungkin lebih berat dari dari sekarung beras.”
“Kami dulu selalu berusaha hidup sederhana, Nak. Ibu tak pernah diperlakukan seperti itu, menjalani hidup mewah. Karena Ibu sadar, kondisi Ayah Syafa tidak memungkinkan. Yang Ibu tahu, Ayah Syafa juga merupakan orang kepercayaan atasannya. Jadi, dia tidak mungkin berlaku curang.” Kepiluan tergambar jelas di wajah Bu Nuri.
Air matanya kembali mengalir. Mengingat masa- masa-entah manis atau pahit-bersama suaminya dulu.
“Kalau boleh tahu, apa ibu sudah bercerai secara resmi dengan suami Ibu?” tanyaku.
“Belum. Belum pernah ada surat cerai yang dia layangkan pada Ibu.”
“Kalau begitu, seharusnya semua rekan kerjanya tahu tentang kebusukan Pak Ruslan?”
“Belum tentu.” Suara seseorang menimpali dari balik pintu.
“Syafa?” kali ini Ardo yang nampak terkejut.
“Ayah adalah orang yang cerdas, meski mungkin juga licik. Pasti ada yang dia rekayasa.”
“Tapi sudah tiga tahun sejak kejadian itu. Masa tidak ada yang melihat adanya kejanggalan?” aku berusa mengerti.
“Pak Ruslan sering terlihat tidak bekerja di hari- hari tertentu. Mungkin itu yang dijadikannya alasan, mengunjungi keluarga di luar kota.”
“Lo tahu banget tentang Pak Ruslan?” tanyaku penasaran.
“Kakak saya, meniggal bukan karena kecelakaan. Dia memang sempat mengalami kecelakaan, motor yang dia kendarai menghantam mobil Pak Ruslan yang baru saja dia beli. Mulanya Kak Arman hanya luka- luka. Tapi, Pak Ruslan menuduhnya sengaja menabrak mobil barunya lantaran iri. Kejadian itu terjadi di gapura depan kompleks. Pak Ruslan memaki Kakak saya di depan orang banyak. Dia juga menyuruh Kak Arman untuk mengganti Rugi kerusakan mobilnya. Tentu saja Kak Arman menolak. Itu bukan sepenuhnya salahnya. Pak Ruslan yang seenaknya mencuri jalan, jadi dia menolak mentah- mentah keinginan Pak Ruslan.
“Tidak terima dengan hal tersebut, Pak Ruslan menuntut Kakak saya ke kantor polisi. Menjebloskan Kak Arman ke dalam penjara tanpa basa- basi dan rasa kasihan. Kakak saya baru mau menyusun skripsi saat itu, tapi harus mendekam di dalam tahanan atas kesalahan yang tidak ia perbuat.”
“Kalau Kakakmu tidak bersalah bagaimana mungkin..” kata- kata ku terpotong.
“Jaman sekarang apa yang tidak bisa dibeli dengan uang. Keluarga saya dan Pak Ruslan jelas berbeda status sosial dan ekonomi. Keluarga saya bukan keluarga tidak mampu, tapi harta kami jelas tak sebanyak harta kotor Pak Ruslan. Tidak tanggung- tanggung, Kak Arman di fonis 3 tahun penjara. Ditempatkan di tengah narapidana yang merupakan pencopet, pembunuh, perampok. Tak usah menunggu waktu yang terlalu lama, Kak Arman sudah menjadi bulan- bulanan mereka. Suatu hari, ada kericuhan besar di Lapas tersebut. Bentrok antar penghuni Lapas. Mereka saling adu fisik, lempar batu. Banyak yang menjadi korban.”
“Termasuk Kakak kamu?” sambung Syafa.
Ardo hanya menunduk. Ia jelas sedang menahan pilu dan dendam.
“Kalau saja si tua bangka Ruslan itu tidak pindah ke kompleks ini, kalau saja dia tidak terlalu jahat untuk menjebloskan Kak Arman ke sel. Hari ini mungkin Kak Arman sudah menjadi pegacara sukses!” tangannya terkepal.
“Kasihan Kakakmu. Jangan memperberat jalannya. Ayo kita pikirkan bagaimana mencari Ayah Syafa. Agar dia bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.” Aku menepuk bahu Ardo.
“Terakhir, saya dengar dia dan keluarganya pindah ke perumahan elit di tengah kota. Kita bisa cari alamatnya. Saya rasa tidak akan sulit menemukan orang kaya nan kikir seperti dia.”
“Ehem.. maaf mencela. Tapi, apa kamu tidak ingat kalau kami ini masih merupakan keluarga dari orang kaya nan kikir itu?” Syafa kelihatan tersinggung.
“Maaf.”
“Hmm.. sepertinya sudah sangat malam, Bu, Syafa. Kami harus pamit. Tidak enak kalau jadi pembicaraan tetangga,” aku memutuskan untuk pamit.
“Oh, iya. Terima kasih atas informasinya.”
“Sama- sama, Bu.” Jawabku dan Ardo hampir bersamaan.
“Besok pagi, saya mau kita mulai mencari.” Syafa seperti mengeluarkan komando.
“Hah?!” aku, Bu Nuri, dan Ardo terkejut denagn permintaan Syafa.
“Harus berapa lama saya menunggu saat untuk bertemu Ayah? Apa sampai saya mati? Aku mau besok kita berangkat. Sebelum semuanya terlambat.”
“Kita diskusikan besok, ya, Syafa.” Pinta Bu Nuri.
“Nggak perlu, Bu. Kalau Syafa sudah siap untuk mencari besok, saya bersedia mengantarkannya.” Jawab Ardo mantap.
“Saya juga, Bu” susulku.
“Bu?” Syafa mencari kepastian.
“Baiklah. Besok ibu tunggu jam tujuh pagi.”
Kami bertiga tersenyum. Besok akan menjadi hari yang mendebarkan. Saat ini posisiku adalah yang paling tidak tahu apa- apa dan tidak memiliki kepentingan.
Keesokan paginya, kami berkumpul tepat jam tujuh. Syafa sepertinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu ayahnya. Ia nampak gelisah saat menunggu taksi yang kami pesan.
Dalam perjalanan, tak ada yang mampu mebuka percakapan. Semua sibuk dengan spekulasi masing- masing tentang ayah Syafa. Bagaimana kehidupannya sekarang? Bagaimana rupanya?
“Apa masih lama?” Syafa nampak tak sabar untuk segera sampai ke rumah itu.
“sebentar lagi. Pak belok kiri di depan. Masuk ke perumahan itu!” Ardo memberi komando pada sang supir taksi.
“Itu Ayah!” Syafa menunjuk sebuah sedan yang baru saja keluar dari halaman rumah yang cukup besar.
“Stop, Pak!” Ardo segera membayar dan turun dari taksi itu. Diikuti Syafa, Bu Nuri, dan aku.
Tanpa pikir panjang, Ardo mengambil kerikil dari jalanan dan melemparnya ke kaca mobil itu. Tentu saja si pengendara geram dan turun dari mobilnya. Dan dia lah orang yang kami maksud.
“Ayah!” Syafa memanggil Ayahnya. Tapi, sepertinya dia enggan melangkah mendekati beliau.
Lelaki paruh baya itu memandangi gadis yang berdiri di depannya dengan tatapan setengan tak percaya.
“Tidak! Tidak mungkin!” lelaki itu bergumam.
Ia kembali masuk ke mobilnya. Tapi, di luar dugaan semua orang, Ardo telah lebih dulu naik dan duduk di kursi penumpang.
“Anda mau lari kemana lagi, Pak?” Ardo bertanya dengan sinis.
“Keluar kamu dari mobil saya!” usir Pak Ruslan.
“Dasar pengecut! Anda lari dari keluarga anda sendiri?! Laki- laki macam apa anda?!” Ardo mengantam pipi Pak Ruslan dengan kepalan tangannya.
Kemudian ia keluar dari mobil itu dan menyeret Pak Ruslan pula.
“Lihat! Lihat baik- baik siapa mereka.” Ardo menghempaskan tubuh Pak Ruslan ke arah Syafa dan Bu Nuri.
“Ayah..” panggil Syafa dengan lirih. “Apa ayah udah ga sayang sama Syafa dan Ibu?” matanya berkaca- kaca.
“Syafa...” Pak Ruslan bersujud di depan Syafa.
Mendengar ada keributan di depan rumahnya, ternyata si ‘istri’ keluar juga.
“Ada apa ini?!” ia bertanya dengan kesal, sebelum terkujut setengah mati melihat siapa yang ada bersama suaminya.
“Maya...?” aku mengenali si ‘istri’.
“Rafa?” Maya tak kalah kagetnya dengan aku.
“Jadi, Maya yang lo maksud, Maya..” aku meminta penjelasan dari Ardo.
“Lo kenal perempuan ini? dia yang gue ceritain.”
“Dia... gue nggak pernah kenal sama dia.” Aku membuang muka
“Rafa! Jangan kurang ajar kamu!” Maya nampak tersinggung.
“Siapa yang lebih kurang ajar?! Aku atau KAKAK?!” aku membentak Maya yang tak lain adalah Kakakku.
Maya pergi dari rumah lima tahun yang lalu. Bertengkar dengan orang tuaku lantaran tidak disetujui untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Sejak itu, nama maya seolah dicoret dari anggota keluarga.
“Rafa...” Maya mulai menangis.
“Jadi ini laki- laki pilihan Kakak? Laki- laki yang sudah mempunyai seorang istri dan seorang anak?! Lihat, Kak! Lihat apa akibat perbuatan Kakak! Lihat Syafa! Lihat Bu Nuri! Apa Kakak ga bisa mikir dengan otak yang jernih?! Karena Kakak mereka kehilangan kebahagiaan mereka. Syafa kehilangan ayah dan kakinya! Coba Kakak bayangin kalau Kakak ada di posisi mereka!” emosiku meledak.
“Tapi..” Maya berusaha menjelaskan.
“Apa kata Mama Papa, Kak, kalau mereka tahu semua ini?”
“Rafa! Cukup! Kamu nggak ngerti apa- apa! Coba kam jadi Kakak! Kakak cinta sama Ruslan dan begitu juga dia! Mereka berdua cuma masa lalu dia!”
“Ayah.. siapa wanita ini?” Syafa menunjuk muka Maya,”Dia yang waktu itu, kan?”
“Syafa.. Maya ini..” belum sempat Pak Ruslan menyelesaikan kalimatnya, Syafa sudah pergi.
Dia melangkah ke dalam rumah. Tak ada yang tahu apa yang dia cari.
“Andre!” Maya seolah mengerti apa yang Syafa cari.
“Mama...” terdengar suara seorang anak kecil memanggil Ibunya.
Syafa memandang anak itu dengan tatapan tajam.
“Kakak, siapa?” tanya anak itu yang tak lain adalah Andre, anak Maya dan Ruslan.
“Kamu!” Syafa menunjuk muka Andre, “Keluar kamu!” Syafa menghampiri Andre dan menyeret anak itu keluar rumah.
“Syafa! Berhenti!” Ruslan berlari menarik Andre dari tangan Syafa.
Maya langsung memeluk Andre.
“Sekarang Syafa mengerti, Ayah. Syafa mengerti. Ayah benar- benar tidak sayang pada Syafa. Tapi pada anak ini. apa Syafa harus kehilangan kaki Syafa yang satu lagi, agar Ayah bertahan lebih lama dengan Syafa dna Ibu? Atau malah Syafa harus mati dulu, baru Ayah kembali? Jawab, Ayah! Jawab! Apa Ayah mau Syafa mati di hadapan Ayah!?” Syafa mengamuk.
“Kejadian ini terulang lagi,” aku mendengar Bu Nuri yang masih syok bergumam.
“Ayo Syafa! Tidak ada gunanya kamu meminta jawaban dari Ayah kamu. Dia hanya bisa diam,” Bu Nuri hendak membujuk Syafa.
“Nuri!” Ruslan tersinggung.
“Apa? Apa kata- kata saya salah? Kamu lihat? Berapa orang yang menanggung kesalahan kamu? Pertama Syafa dan saya, lalu Ardo, sekarang bahkan Rafa juga terlibat! Apa yang akan kamu katakan! Demi perempuan jalang itu kamu meninggalkan Syafa dan saya. Kamu tahu? Syafa selalu meunggu kamu pulang setiap sore! Dia selalu bertanya kapan ayahnya akan pulang! Tapi, kamu malah senang- senang dengan perempuan ini dan anaknya!”
“Maya dan Andre itu istri dan anakku!”
“Lalu aku dan Syafa apa?! Sampah?!”
“Bukan..” jawab Syafa, “Mereka yang sampah,” lagi ia menunjuk Maya dan Andre yang masih menangis.
Syafa sekali lagi menghampiri mereka.
“Apa kalian sudah puas? Merebut semua yang saya punya,” tanya Syafa.
“Saya mohon, Syafa. Mengertilah kami! Saya dan Ayah kamu saling mencintai.” Maya bersimpuh di kaki Syafa.
“Lalu kapan kalian akan mengerti saya? Kalian mendapatkan Ayah saya, nafkah darinya, tawanya, kasih sayangnya. Sementara saya? Saya kehilangan semua!”
Syafa menangis, dan lari ke arah jalan.
“Jangan lagi..” Bu Nuri mencoba menebak apa yang akan dilakukan Syafa.
“Syafa tunggu Ayah di neraka!” Syafa berteriak dari tengah jalan.
“Syafa!” Ardo menyusul Syafa.
Kami semua mengikutinya.
“Kamu gila!?” Ardo berusaha menarik Syafa ke tepi jalan.
“Kamu mau ikut?” Syafa justru bertanya pada Ardo.
“Syafa! Sadar! Jangan gegabah!” aku menyusul mereka berdua.
“Ayo!” Ardo dan aku menarik Syaf ke pinggir.
“Hahahaha..” Syafa tertawa. “ Kalian berlebihan. Siapa yang gila? Ini jalanan kompleks. Ingat? Tak akan ada truk yang akan menyambar aku lagi! Hahah,” Syafa seperti orang yang kerasukan.
Tapi, di satu sisi, dia benar.
“Entah lah, Ayah. Syafa bingung. Seperti ada dua jiwa dam tubuh Syafa. Yang satu ingin agar Syafa terus membujuk Ayah agar kembali. Tapi, yang lain memaksa Syafa untuk membenci Ayah. Syafa bingung, sampai kadang Syafa berpikir untuk mati saja. Tapi, itu bodoh. Syafa masih punya Ibu. Ibu yang butuh Syafa. Jadi sekarang, terserah Ayah. Syafa capek, Yah. Capek menunggu Ayah, capek marah sama Ayah dan dua orang ini. Syafa sudah cukup puas karena sudah bisa memastikan Ayah baik- baik saja. Bahwa Ayah mungkin lebih bahagia tanpa Syafa. Jadi, Syafa pamit, Ayah. Syafa dan Ibu mau melanjutkan hidup kami. Restui Syafa, Yah. Ayo, Bu, Do, Fa! Syafa mau pulang, ke rumah Ibu. Dah, Ayah! Dah, adik kecil. Jaga Ayah, ya!” Syafa pamit pada Ayahnya dan MENCIUM TANGAN Ruslan seperti seorang anak yang santun pamit saat ingin pergi dari rumah.
Syafa masuk ke dalam taxi yang ternyata masih belum beranjak meski sudah dibayar. Mungki sang supir taxi merasa sayang untuk melewatkan adegan dramatis seperti yang ada di reality show di TV.
Semua seolah tak mengerti dengan jalan pikiran Syafa yang berubah 180 derajat. Tapi, Syafa itu spesial, kan?
“Itulah anakmu, Ruslan. Dia selalu tahu apa yang harus dia lakukan, meski itu mengejutkan dan menyakitkan. Tapi, aku percaya, dia bisa memperindah kehidupan semua orang,” Bu Nuri berbicara pada Ruslan dengan mata berkaca- kaca, sebelum akhirnya menyusul Syafa masuk ke taxi.
“Saya harap, kalian masih punya rasa malu saat melihat bijaksananya gadis itu,” susul Ardo.
“Jujur, Kak. Aku kecewa sama Kakak. Sangat kecewa. Aku yakin, Mama dan Papa juga pasti sangat kecewa sama Kakak. Tapi, melihat Syafa barusan, aku akan sangat malu jika tidak bisa memaafkan Kakak. Aku akan bilang sama Mama Papa kalau Kakak sudah bahagia. Sesekali tengoklah Mama Papa. Aku yakin mereka masih sayang sama Kakak, walaupun tingkah Kakak sangat mengecewakan. Permisi!” aku menyusul yang lainnya.
Keluarga itu, Ruslan, Maya, dan Andre –yang nampak tak mngerti- hanya tertegun melihat taxi kami melaju meninggalkan mereka. Syafa membuang muka, tak mau lagi melihat ke arah tiga orang yang telah menyakitinya itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Apapun itu, aku bangga pernah mengenal gadis sekuat dia.
Lima tahun berlalu, tak pernah kudengar kabar dari Ruslan atau Maya. Syafa pun nampak tak perduli lagi. Kini hidupnya dan Bu Nuri sedah lebih mapan. Sejak peristiwa itu, tekad Syafa muncul lagi, untuk memperbaiki hidupnya. Bekal dari kursus membuat kue, ia menjadi pengusaha roti dan kue yang sukses. Dan rumah ini, kini hanya bagian dari lembaran lama yang sebentar lagi akan menjadi bagian hidup orang lain.
“Kamar ini punya menyimpan banyak kenangan,” Syafa membuyarkan lamunanku.
“Iya. Dari saat pertama aku kenal kamu. Kamu yakin mau pindah?”
“Kamu lupa? Ini hanya rumah dinas. Ibu sudah tidak bekerja di perusahaan itu, jadi rumah ini bukan hak aku dan Ibu lagi. Ayolah! Jangan mendramatisir! Aku hanya pindah satu gang dari sini. Ke rumah lama Ayah!”
kayaknya seru nie cerita cuman
ReplyDeletekepanjangan,
kalo mw diterbitin pasti ga ada yg mau nampung,. kalo ni dianggep cerpen
mending besok kalo buat max 2000karatkter aja, kalo bisa khusus cerpen2ringan.
mkasih...
ReplyDeletehehe iy...
soalnya suka keasyikan klo udah nulis...
mkasih komentarnya...