EXPLORE!! #nulisrandom2015
Sharing non-fiksi yang lain.
Kali ini, karena saya menjumpai banyak hal terkait eksplorasi, imajinasi dan pengenalan. Mulai dari yang paling sederhana, hari ini saya mendapat kelas "membentuk imajinasi". Tugasnya adalah menjadikan sebuah kursi sebuah benda sesuka kita dan mengenalinya. Semua itu harus dilakukan dengan mata tertutup. Di satu sisi, itu mempermudah kita untuk berimajinasi, di sisi lain, kita benar-benar harus meraba dan mengenali morfologi "benda itu" supaya imajinasi kita terproyeksi secara nyata. Beberapa berhasil, ada yang memeragakan komputer, piano, mobil, sampai senapan, Saya sendiri memilih sepeda. Tapi, banyak juga yang gagal. Kebanyakan hanya menggerak-gerakan kursi tanpa alasan, beberapa bahakan seperti memeragakan sesuatu, padahal mereka mengaku tidak memikirkan apa-apa.
Mungkin kah kita "menggunakan" diri kita seperti itu? Apakah kita benar-benar mengenal diri kita dan mengaryakan secara tepat?
Topik ini juga dibawa oleh novel yang baru saya baca beberapa hari lalu. Judulnya Sylvia's Letters. Bercerita tentang anak SMA yang mengidap Anorexia nervosa (bahkan menurut saya sudah mengacu ke bulimia). Sepanjang cerita, selain diajak menelusuri kisah hidup, percintaan dan masalah tokoh-tokoh di dalamnya, saya juga seperti diingatkan pada beberapa hal yang sudah sering saya abaikan dalam hidup.
Misalnya di bagian awal, si tokoh utama mendapat tugas untuk mengenal diri. Ia mendeskripsikan apa yang ia lihat di dalam cermin setiap kali ia berkaca. Morfologi tubuhnya, sampai sifat-sifatnya secara mendetail. Lucu, karena mungkin sehari-hari, di dunia nyata, kita bahkan tidak sempat memperhatikan warna iris dan rambut kita secara mendetail. Kita paling sebatas memperhatikan bagaimana baju yang kita kenakan, apakah riasan kita sesuai dengan muka kita, atau hal-hal sepele lain.
Seberapa jauh kita mengenal sosok di dalam cermin kita? Mana yang lebih sering kita kenal, mata dengan lensa kontak, eye liner, kaca mata dan riasan lain atau mata sipit, besar, dengan iris warna hitam atau cokelat (atau mungkin biru, bahkan hijau)?
Ada lagi kutipan yang saya suka dari novel itu,"Tubuh kita adalah avatar kita." Bagi penikmat film fiksi ilmiah, tentu tahu film Avatar, produksi Amerika tahun 2009. Di film itu, Avatar dibuat sesuai dengan genetika operatornya dan untuk "mengemudikannya", si operator pun harus benar-benar "menyatu" dengan avatarnya.
Apakah kita benar-benar sudah mengenal dan menyatu dengan diri kita? Diri kita yang di dalam, yang sejati.
Kalau tidak, mungkin kita hanya sekadar menggerakkan badan kita. Kita seperti menghidupi hidup kita, padahal di dalamnya kosong. Mungkin sebenarnya gerakan-gerakan "nyata" yang kita buat tidak seharmonis itu dan suatu waktu, kita bisa terjatuh karenanya.
Mungkin belum terlambat untuk melihat cermin lebih dalam dan mengekplorasi avatar yang sedang kita gunakan. Sebelum limbung lalu jatuh. :)
Kali ini, karena saya menjumpai banyak hal terkait eksplorasi, imajinasi dan pengenalan. Mulai dari yang paling sederhana, hari ini saya mendapat kelas "membentuk imajinasi". Tugasnya adalah menjadikan sebuah kursi sebuah benda sesuka kita dan mengenalinya. Semua itu harus dilakukan dengan mata tertutup. Di satu sisi, itu mempermudah kita untuk berimajinasi, di sisi lain, kita benar-benar harus meraba dan mengenali morfologi "benda itu" supaya imajinasi kita terproyeksi secara nyata. Beberapa berhasil, ada yang memeragakan komputer, piano, mobil, sampai senapan, Saya sendiri memilih sepeda. Tapi, banyak juga yang gagal. Kebanyakan hanya menggerak-gerakan kursi tanpa alasan, beberapa bahakan seperti memeragakan sesuatu, padahal mereka mengaku tidak memikirkan apa-apa.
Mungkin kah kita "menggunakan" diri kita seperti itu? Apakah kita benar-benar mengenal diri kita dan mengaryakan secara tepat?
Topik ini juga dibawa oleh novel yang baru saya baca beberapa hari lalu. Judulnya Sylvia's Letters. Bercerita tentang anak SMA yang mengidap Anorexia nervosa (bahkan menurut saya sudah mengacu ke bulimia). Sepanjang cerita, selain diajak menelusuri kisah hidup, percintaan dan masalah tokoh-tokoh di dalamnya, saya juga seperti diingatkan pada beberapa hal yang sudah sering saya abaikan dalam hidup.
Misalnya di bagian awal, si tokoh utama mendapat tugas untuk mengenal diri. Ia mendeskripsikan apa yang ia lihat di dalam cermin setiap kali ia berkaca. Morfologi tubuhnya, sampai sifat-sifatnya secara mendetail. Lucu, karena mungkin sehari-hari, di dunia nyata, kita bahkan tidak sempat memperhatikan warna iris dan rambut kita secara mendetail. Kita paling sebatas memperhatikan bagaimana baju yang kita kenakan, apakah riasan kita sesuai dengan muka kita, atau hal-hal sepele lain.
Seberapa jauh kita mengenal sosok di dalam cermin kita? Mana yang lebih sering kita kenal, mata dengan lensa kontak, eye liner, kaca mata dan riasan lain atau mata sipit, besar, dengan iris warna hitam atau cokelat (atau mungkin biru, bahkan hijau)?
Ada lagi kutipan yang saya suka dari novel itu,"Tubuh kita adalah avatar kita." Bagi penikmat film fiksi ilmiah, tentu tahu film Avatar, produksi Amerika tahun 2009. Di film itu, Avatar dibuat sesuai dengan genetika operatornya dan untuk "mengemudikannya", si operator pun harus benar-benar "menyatu" dengan avatarnya.
Apakah kita benar-benar sudah mengenal dan menyatu dengan diri kita? Diri kita yang di dalam, yang sejati.
Kalau tidak, mungkin kita hanya sekadar menggerakkan badan kita. Kita seperti menghidupi hidup kita, padahal di dalamnya kosong. Mungkin sebenarnya gerakan-gerakan "nyata" yang kita buat tidak seharmonis itu dan suatu waktu, kita bisa terjatuh karenanya.
Mungkin belum terlambat untuk melihat cermin lebih dalam dan mengekplorasi avatar yang sedang kita gunakan. Sebelum limbung lalu jatuh. :)
Comments
Post a Comment