Pengadilan Diri #nulisrandom2015
Belakangan ini, saya dituntun untuk melihat bahwa menjadi baik tidak selalu sama dengan menjadi jujur. Kita bisa menjadi baik, bersikap dan berkata baik kepada orang lain, berusaha tida menyakiti hati mereka. Namun, sering kita "kebablasan". Kebaikan-kebaikan itu alhirnya hanya untuk memenuhi tuntutan nilai dan moral yang berlaku di masyarakat.
Kita lupa untuk memasukkan unsur rasa ke dalamnya. Padahal rasa itu harusnya yang menjadi dasar kita bergerak dan berlaku. Kita lupa untuk jujur dan hanya fokus untuk memenuhi standar kebaikan.
Contoh sederhana, saya sendiri sering memuji penampilan teman, padahal sebenarnya saya tidak menyukai gayanya. Atau yang lebih sering, mengobrol dan berbagi cerita dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Lebih parah, mungkin kita semua pernah, menawarkan diri untuk mendengarkan curhatan orang yang sering kita bicarakan di belakang (wow).
Tindakan demikian sering didasari pola pikir yang melihat kebaikan sebagai kewajiban. Lebih parah, kita menganggap diri kita tidak berhak untuk menolak kesempatan berbuat baik. Bahasa yang lebih frontal: munafik.
Akhirnya, kebaikan-kebaikan itu hanya tinggal formalitas. Mereka kehilangan makna.
Bisa jadi kita tetap mendapat predikat sebagai orang baik, tapi di dalam hati kita, pernah kah tersirat pertanyaan,"Apakah saya benar-benar orang baik? Sebaik itu kah saya? Atau sebenarnya saya hanya bersikap baik, tanpa pernah benar-benar menghayatinya? Apakah saya tergoling orang munafik?"
Hidup memang panggung sandiwara. Namun, bukan berarti kita harus berlakon setiap waktu, kan? Jangan sampai diri kita sendiri yang mempertanyakan kebaikan-kebaikan kita.
Kita lupa untuk memasukkan unsur rasa ke dalamnya. Padahal rasa itu harusnya yang menjadi dasar kita bergerak dan berlaku. Kita lupa untuk jujur dan hanya fokus untuk memenuhi standar kebaikan.
Contoh sederhana, saya sendiri sering memuji penampilan teman, padahal sebenarnya saya tidak menyukai gayanya. Atau yang lebih sering, mengobrol dan berbagi cerita dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Lebih parah, mungkin kita semua pernah, menawarkan diri untuk mendengarkan curhatan orang yang sering kita bicarakan di belakang (wow).
Tindakan demikian sering didasari pola pikir yang melihat kebaikan sebagai kewajiban. Lebih parah, kita menganggap diri kita tidak berhak untuk menolak kesempatan berbuat baik. Bahasa yang lebih frontal: munafik.
Akhirnya, kebaikan-kebaikan itu hanya tinggal formalitas. Mereka kehilangan makna.
Bisa jadi kita tetap mendapat predikat sebagai orang baik, tapi di dalam hati kita, pernah kah tersirat pertanyaan,"Apakah saya benar-benar orang baik? Sebaik itu kah saya? Atau sebenarnya saya hanya bersikap baik, tanpa pernah benar-benar menghayatinya? Apakah saya tergoling orang munafik?"
Hidup memang panggung sandiwara. Namun, bukan berarti kita harus berlakon setiap waktu, kan? Jangan sampai diri kita sendiri yang mempertanyakan kebaikan-kebaikan kita.
Comments
Post a Comment