lagi^^

Cerita seorang Psikopat


Siang itu, sekali lagi, tak kutemukan ia di kelas.
”Eh, si Yunani Boy, nggak masuk lagi?” aku menghampiri sahabat- sahabatku di jam istirahat ke tiga itu.
”Hmm.. seharian ini sich, nggak kelihatan,” jawab Fairyn.
”Kalo nggak masuk terus gini, gimana dia mau lulus UN ntar?” tanyaku cemas.
”UN bukan ntar kali? Empat belas hari lagi. Hari Senin, kan?” Aline mulai ngejayus.
”Serius, Al!”
”Serius juga, Lin. Ujian tuh dua minggu lagi, bukan hari ini!”
”Terserah lo dech. Gue ke kelas dulu. Mau ngerjain PR matem. Pinjem punya lo, ya, Dre?” aku menepuk bahu Dresia.
”Lilin, Lilin, saban hari menjem PR orang terus!”
Kelas hari itu benar- benar sepi. Biasanya selalu ada saja kericuhan yang dibuat Putra. Tapi, sudah dua hari ini, si Yunani Boy itu tak kelihatan batang hidungnya. Sebenarnya dia memang sudah biasa absen. Tapi, mengingat hari dua minggu berikut kami akan menghadapai UN, aku rasa kelewatan kalau dia sampai tidak masuk hari ini.
Putra dikenal sebagai pembuat onar. Jarang masuk sekolah, sering kedapatan nongkrong di stadion dekat sekolah dengan anak- anak nggak jelas, pernah tertangkap tangan merokok di saat jam pelajaran. Aku sendiri tak tahu bagaimana bisa ia melakukan itu semua. Maksudku, aku tahu Putra sejak SD, dia anak yang cukup terkenal, tapi bukan karena perilaku negatif seperti sekarang. Kalau tidak salah, dulu dia merupakan salah satu pemain voli dan sepak bola di sekolahku. Muka Indo-nya yang lumayan tampan juga membuatnya mudah dikenali.
Hanya saja sejak menginjakkan kaki di SMP ini, dia semakin berubah. Terjerumus di pergaulan yang salah. Menurtuku, Putra yang sekarang hanyalah seorang anak laki- laki yang tenggelam dalam pelariannya. Dia lari sesuatu. Sesuatu yang sepertinya berkaitan dengan keadaan mental dan psikisnya. Pasti ada sesuatu yang salah dengan hari- harinya. Tapi, apa?





Hari ini amat melelahkan. Kulihat jam dinding yang menggantung di kamar. Sudah jam setengah enam sore. Huuuh..
Drrt..drrt..
Kurasakan sebuah getar yang berasal dari handphone- ku. Ada SMS. Dari siapa?
”Hi! Siapa di sana? Boleh kenalan?”
”Dasar orang iseng!Siapa ya?” gumamku. Lalu kubalas SMS itu.
”Ini siapa, y?” tanyaku.
Dan tak lama, aku telas berbalas SMS dengan orang tak dikenal itu.
”Kealin namaku Yoyo. Kamu siapa?”
”Namaku Lilin. Dari mana kamu tahu nomor aku?”
”Kamu anak sekolah Citra Bangsa, kan?”
”Kok tahu?”
“Aku tahu semua. Rumah kamu warna biru, depan gardu listrik jalan Diponegoro. Iya, kan?”
Aku mulai jengah. Aku makin penasaran dengan orang bernama Yoyo ini. Siapa sebenarnya dia?
”Ini siapa sih? Kok bisa tahu alamat aku segala?”
”Hmm.. anggap saja aku pengagum rahasia kamu!”
Setelah SMS terakhir itu, aku tak membalas SMS- nya lagi. Dan itu membuat Yoyo mengirim sebuah SMS yang berisikan puisi.
”Aku bukanlah oran yang sempurna..Aku hanya bisa lari dari perasaan sakitku..Di dalam pelarian itu, kutemua seorang teman bercerita tentang bidadari di beranda.. Dan ia memperlihatkannya padaku.. Bidadari cantik duduk menunggu sesuatu.. Mataku tak bisa lepas darinya.. Hingga aku menyadar.. iDengan sihirnya.. Hatiku yang sakit terbawa..Hilang.“
Aku terkejut setengah mati dibuatnya. Apa maksudnya dengan mengirimkan puisi itu. Kuputuskan untuk menyimpan nomor hp Yoyo. Di tengah kebingunganku, tiba- tiba saja bayangan Putra kembali mengusik pikiranku. Dia lagi apa, ya? Apa dia belajar untuk UN hari Senin nanti?
Aku memutuskan untuk mencari angin dengan keluar menuju beranda kamar. Kamarku yang terletak di lantai dua, memang cukup strategis. Pemandangannya ke arah jalan. Kalau malam seperti ini, aku bisa melihat lampu- lampu kota.
”Jam delapan,” aku kembali bergumam.
Tak terasa sudah dua jam aku berdiri di beranda yang sejuk itu. Tapi, tiba- tiba aku merasa sedang diperhatikan orang dari bawah. Di depan rumahku memang sedang banyak anak- anak gank motor yang berkumpul di dekat gardu listrik. Namun, aku tak begitu khawatir. Lampu kamar yang kupadamkan, membuat keberadaanku di beranda sulit diketahui. Tapi, kenapa kali ini lain? Seperti ada yang mengetahui keberadaanku.
Drrt.. drrt..
SMS lagi? Dari Yoyo.
”Aku melihatnya lagi.. Di bawah sinar bulan ia nampak anggun.. Meski samar..“.
Aku segera memperhatikan sekitarku. Apa Yoyo adalah bagian dari gank motor itu? Tapi, bagaimana mungkin dia mengetahui nomorku? Ah! Ngapain aku pusing- pusing mikirin orang nggak jelas. Lebih baik aku mencari info tentang Putra. Kuraih lagi handphone di atas meja kecil di sampingku dan mengorom SMS untuk Fairyn.
”Punya nomor hp Putra?
Tak lama Fairyn menyahut.
”Nggak punya. Kenapa? Kayaknya akhir- akhir ini lo peduli banget sama dia? Bukannya dulu lo benci banget sma dia?”
“Nggak tahu nih.. feeling gue ngomong kalau dia butuh sedikit bantun dari gue.”
”Hahahahaha.. Ge-er lo! Awas! Jangan- jangan lo suka lagi sama dia?”
”Nggak lah! Gue cuma kasihan sama dia. Kayaknya dia lagi ada masalah.”
“Hmm.. Iya, sih. Kayaknya dia kurang perhatian deh. Orang tuanya kan, sama- sama sibuk,” Fairyn mulai mengerti maksudku.
“Mungkin. Karena itu, gue mau pendekatan sama dia. Bukan sebagai pacar, tapi sahabat. Gue kangen sama Putra yang dulu. Yag selalu kita kasi support waktu tanding voli.”
”Lo yakin? Putra lho. Keras, kasar. Apa dia mau nerima lo yang jelas berolak belakang sama sifatnya?”
”Gue harus coba, dan harus bisa. Kalau nggak... ga tahu dech. Selama ini ue nggak pernah bisa nunjukin rasa peduli gue ke orang lain. Sekarang, gue mau coba. Mulai dari Putra.”
“Gimana caranya? Lo tahu dimana dia aja, nggak,”pertanyaan dan pernyataan Fairyn barusan agaknya membuatku bungng untuk sesaat.
“Lo pernah bilang ke gue, kalau Putra ikut gank motor, kan? Agaknya mereka lagi nongkrong di depan rumah gue, deh,” intuisiku baru saja memberikan jalan terang.
“Serius, lo?! Terus?”
“Gue mau nyamperin dia!”
Setelah itu kumasukkan handphone-ku ke kantong celana dan bergegas turun untuk melihat, apakah dugaanku benar, atau tidak.
Saat di teras, kumatikan semua lampu taman dan teras. Jadi gank motor itu tak bisa melihatku. Dan kuamati satu per satu.
”Putra?!” aku terkejut saat mendapati sosok Putra sedang asik tertawa sambil menghisap rokok.
Saat itu juga tanpa pikir panjang, aku berjalan keluar. Membuka pagar, dan menghapirinya.
”Sorry. Putra?” tanyaku.
Putra menoleh, tak senang dengan kedatanganku. Ternyata dia tak hanya sedang merokok, tapi minum alkohol!
”Ngapain, lo?!” tanyanya dengan nada tidak senang.
”Gue.. rumah gue kan di situ.”
”Ya, gue tau! Yang gue tanya ngapain lo nyamperin gue? Dasar tukang ikut campur!”
“Gue nggak mau ikut campur, kok. Gue Cuma mau nanya. Kok dua hari ini lo nggak masuk? Dua minggu lagi, kan kita udah ujian.”
“Bukan urusan lo! Dasar sinting!” ia membentakku.
”Siapa sih, bro?” tanya seorang temannya.
”Cewek yang pernah gue ceritain!” Putra menjawab dengan acuh.
Ternyata ia pernah membicarakanku?
”Oh, temen lo yang lo bilang psikopat itu?”
”Hmm..”
Apa? Psikopat? Aku dibilang psikopat? Psikopat itu kan... orang nggak waras?!
”Lo mau ngapain di sini? Mau gabung sama kita- kita?” salah seorang lagi mendekatiku.
”Nggak. Gue Cuma mau ketemu Putra.”
”Hah! Lo udah ketemu gue. Terus?” Putra lagi- lagi acuh.
”Kenapa lo nggak pulang? Belajar gitu?” tanyaku.
”Bukan urusan lo! Nyokap bokap gue aja nggak peduli. Siapa lo?”
”Gue peduli! Karna gue mau jadi temen lo!” aku setengah berteriak.
”Mendingan lo pulang! Ntar dicariin sama MAMI PAPI lo itu!” Putra setengah menyindir.
”Mereka lagi nggak ada. Put, gue bener- bener perduli sama lo! Gue bener- bener mau jadi temen lo!”
”Kalau lo benar- benar mau jadi temen gue, nih!” dia menyodorkan sebungkus rokok, benda yang paling aku benci.
Aku jadi ingat alasan utama aku ingin ’menyelamatkan’ Putra. Karena aku takut ia merokok. Rokok merupakan barang paling mengerikan bagiku. Kakeku meninggal karena kanker paru- paru, kenapa lagi kalau bukan karena merokok. Dan rokok juga sering menyebabkan asmaku kambuh. Aku tak mau ada orang di sekitarku menjadi korban rokok lagi. Termasuk Putra. Cowok yang diam- diam.... aku sukai.
”Lo?” aku tak percaya ia menyodorkan rokok itu padaku.
”Kalau lo mau jadi temen gue, lo harus jadi kayak gue!”
Ditantang seperti itu, naik pitam juga aku.
”Oke! Lo nantangin gue? Lo bilang gue psikopat, kan? Gila, kan? Gue akan bener- benar jadi gila!” aku menarik sebatang rokok dengan kasar.
Aku bisa rasakan Putra menatapku dengan tajam. Seperti tak percaya. Aku tambah menjadi, ku rebut korek api dari tangannya. Kuhisap rokok itu, berusaha agar tidak tersedak. Dan.. aku berhasil. Semua tercengang.
”Dasar psikopat! Gila!” katanya marah.
”Emang gue psikopat! Gila! Kenapa?! Walaupun gue psikopat, hati dan otak gue masih berfungsi dengan baik. Dari pada lo?! Orang paling bodoh, tolol, begok -yang pernah gue kenal! Lo buang dengan sia- sia semua jerih payah orang tua lo! Prestasi lo! Cuma buat lari dari masalah yang sepele!” aku menunjuk muka Putra, masi sambil memegang rokok.
”Lo nggak tahu masalah gue! Orang tua gue udah nggak perduli sama gue! Mereka hanya perduli dengan kerjaan mereka dan diri mereka. Ada waktu buat gue! Lo enak! Anak tunggal! Manja!” got you!
”Lo nggak berhak menilai gue seperti itu! Lo pikir orang tua lo sibuk buat apa?! Buat lo! Buat sekolah lo!”
“Lo bias ngomong gitu karena lo punya segalanya!”
”Tutup mulut lo! Lo nggak tahu apa yang gue rasakan. Sendiri! Di tengah tuntutan untuk jadi dewasa! Orang tua kita sama sibuk! Tapi, beda maksud! Orang tua lo sibuk cari nafkah buat lo dan sodara- sodara lo! Sedang orang tua gue sibuk untuk menghindar satu sama lain! Gue lebih broken home dari lo! Lo sadar nggak! Hah?! Kemarin Mama lo ke sekolah! Nangis, cerita ke wali kelas kita kalau lo sering kasar sama dia! Lo mestinya malu!” aku terus memaki Putra.
Aku pintar acting, ya?
Aku menangis. Kisah tragis itu begitu saj meluncur dari bibirku.
”Lo?” Putra kehabisan kata- kata.
”Hidup gue nggak sesempurna itu, Put. Gue sendiri, menghadapi kenyataan bahwa orang tua gue bakal pisah. Gue berusaha sendiri untuk tetap tegar! Terlihat bahagia!” (amit- amit! Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini).
“Kenapa lo masih perduli sama gue?”
“Karna gue nggak mau lo menyesal. Masalah lo cuma satu. Orang tua lo sibuk, lo kurang perhatian. Tapi, kalau lo mau sadar, lo masih punya kakak, adik. Lo nggak seharusnya di sini Putra!” aku menangis sejadinya sambil menutupi mukaku.
Sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku terjadi. Salah seorang dari mereka mencabut rokok di genggamanku.
”Dia bener, Tra!” kata orang itu. ”Lo masih punya kakak lo, adik lo, dan gue.”
”Yo?” Putra seakan tak percaya. Yang lainnya juga.
Sejak aku mengamuk tadi, mereka diam. Seolah baru saja melihat seorang anak perempuan mengamuk dan mempora- porandakan dunia.
”Pulang, Tra! Masa depan lo masih panjang,” sambung orang itu.
”Yo, lo?” Putra masih kehabisan kata- kata.
”Putra, apa lo nggak bisa lihat ketulusan temen lo ini? Dia cewek, tapi dia mau ngambil resiko untuk nyamperin lo ke sini. Lo sendiri pernah bilang, kalau dia paling anti sama anak- anak kayak kita. Tapi, malam ini, dia bahkan bicara, mencurahkan semua yang selama ini mungkin dia tutupi, ke kita.”
”Yoyo..”
Apa? Dia panggil orang itu apa? Yoyo? Aku menengadah. Melihat cowok yang sedari tadi berada di sampingku.
”Yoyo?” aku bertanya dengan suara yang sangat kecil. Mungkin hanya dia yang bisa dengar.
”Lin, sorry.” Putra mendekatiku.
Ia mengangkat mukaku. Postur tubuhnya memang sedikit lebih tinggi dariku.
Bruuk!!
Tiba- tiba ia mendorongku. Aku terjatuh, tak berdaya. Nafasku sesak. Asamaku kambuh akibat mengangis dan berteriak. Apalagi ditambah isapan rokok tadi.
”Putra!” Yoyo menampar muka Putra.
”Lilin, lo nggak apa- apa?” ia berjongkok hendak mengangkat tubuhku.
”Nggak. Cuma agak sesak. Putra, apa hati lo memang benar- benar udah tertutup?” dan semua gelap. Aku pingsan.




Aku tersadar oleh suara Fairyn.
”Lin, lo nggak apa- apa?” ia menepuk pipiku.
”Ryn?” aku tak percaya.
Di sekelilingku sudah ada Dresia dan Aline juga.
”Gue dimana?” tanyaku.
”Di rumah sakit. Kata si Bi Inah, lo pingsan di teras kemarin malam. Lo nggak apa- apa?” tanya Dresia cemas.
Aku ingat itu. Aku keluar rumah tanpa sepengetahuan Bi Inah. Orang tuaku memang sedang keluar kota, karena ada acara keluarga.
”Hah? Oh, nggak. Putra mana?” tanyaku masih bingung.
”Putra? Kok lo nanyain dia?” Aline ikut- ikutan bingung.
”Kemarin malam gue didorong sama dia makanya gue pingsan.” aku memegangi kepalaku yang masih pusing.
”Nggak ada Putra. Kemarin malam lo sendiri. Nggak ada siapa- siapa. Asma lo kambuh.” Aline makin bingung.
”Iya, tapi..”
”Permisi!” ada yang membuka pintu kamarku.
”Iya. Ada apa?” Dresia bertanya pada orang itu.
”Ada kiriman bunga untuk Lilin. Ini benar kamarnya?” tanya kurir itu.
”Iya. Dari siapa?” Fairyn ikutan bertanya.
”Ada kartunya di situ,” jawab kurir itu sambil memberikan bunga dan buku tanda terima pada Aline.
”Ok. Makasih ya!” Dresia mengantar kurir itu.
”Dari siapa, Lin?” Fairyn nampak tak sabar.
Aku membuka kertu ucapan yang terselip di rangkaian bunga segar itu dan membacanya.
”To: Lilin
Lin, sorry kalau gue udah keterlaluan sama lo kemarin.(maklum orang mabuk). seharusnya gue justru mengucapkan terima kasih sama lo, karena lo masih perduli sama gue.Yoyo marah banget waktu tahu lo pingsan gara- gara gue dorong. Di maki- maki gue di depan anak- anak yang lain. Kata- katanya nggak jauh beda dari lo. Dia bilang gue nggak tahu diri, lha, bajingan lha. Pokoknya bahkan lebih sakit dari kata- kata lo.
Oh, ya, mungkin lo belum kenal Yoyo. Dia temen gue. Putus sekolah di tahun keduanya di SMA. Dikeluarin gara- gara tawuran. Sejak itu gue ngerasa senasib sama dia, kurang perhatian. Dia dan gue jadi sama- sama cuek, apalagi kalau depan cewek.
Tapi, kemarin, gue lihat matanya bener- bener marah karena dia menilai kalau gue udah nyakitin lo. Dia bilang,” Lo beruntung punya temen secantik dan sebaik dia! Gue aja iri sama lo! Lo tuh banci nyakitin cewek kayak gitu” haha.. kayaknya Yoyo suka sama lo dech.. dia juga yang mati- matian nyuruh gue minta maaf.
Lo bener- bener buat gue dan dia sadar tentang kelurga dan hidup. Gue juga minta maaf karena udah menilai lo dengan sepele.
Sekali lagi, Lin, thanks atas perhatian lo selama ini. Gue harap setelah ini lo nggak berubah pikiran untuk mau jadi teman gue.
Oh, iya. Sorry juga karena kita cuma berani niggalin lo yang pingsan di teras. Abis anak- anak yang lain takut dikira yang macam- macam sama orang rumah lo.
Salam,
Putra, Yoyo, dan anak- anak Motor loverz

”Jadi, kemarin malam lo bener- bener nyamperin Putra?” tanya Fairyn.
”Iya..” aku menahan rasa geli.
”Dan Yoyo itu, cakep nggak?” Tanya Aline.
“Nggak ingat thu. Besok aja kita lihat!” kataku
“Kenapa harus nunggu besok?” sebuah suara yang kukenal terdengar dari balik pintu.
“Kalian?” aku tak percaya.
Putra, Yoyo dan teman- temannya masuk satu per satu. Kini kamar VIP itu terasa sesak.
”Lin, walaupun gue udah minta maaf di surat, tapi, boleh, kan gue minta maaf lagi sekarang?” tanya Putra malu-malu.
Geli rasanay melihat Putra yang bisanya keras, tiba- tiba tersipu seperti sekarang.
”Hmmm.. boleh aja. Karena dosa lo sama gue emang nggak cukup dimaafkan melalui surat,”
Putra kaget mendengar kata- kataku barusan.
”Jadi lo mau maafin gue?” tanyanya lagi.
”hmmm.. nggak ah!“
”Kenapa?“
”Ya, dosa lo udah kebanyakan. Ngatain gue psikopat, nyuruh gue ngerokok, dorong gue, buat asma gue kambuh, marah-marah, dan lo tahu yang paling tidak bisa gue terima? Gara- gara asma gue kambuh, besok gue nggak bisa ikut persiapan ujian! Gue, kan jadi harus belajar sendiri!“
”Ya, sorry. Please..“ Putra memohon.
“Kenapa lo bilang kalau gue psikopat?”
“Karena, menurut gue lo nggak tahu malu. Cuma lo cewek yang berusaha deket sama gue. Ngorek- ngorek informasi tentang gue. Ya, menurut gue itu udah cukup gila,” Putra memasang tampang polos takut amarahku meledak.
“HAhahahahah….. huh.. iya gue maafin! Haha.. baru tahu rasa, kan lo! Dikerjain dan dikejar sama orang gila! Hahahahah...” aku tertawa puas.
”Eh, lo bener di suruh ngerokok sama Putra?” Dresia seolah mencatat sebuah poin penting.
“Ya, gitu. Tapi Cuma satu isapan kok!” jawabku enteng.
”Wah, parah lo!” dan Fairyn, Dresia, serta Aline memukuli Putra.
“Ampun!” Putra meringis.
Aku dan yang lainnya tertawa.
”Gue mewakili temen- temen juga mau minta maaf,” suara Yoyo menghentikan tawa kami.
”Hmm?” aku pura- pura tidak mengerti.
”Ya, sebenarnya kita juga udah punya banyak salah sama lo. Terutama sama pembantu lo itu,” Bi Inah yang merasa dibicarakan keget juga.
”Saya? Kenapa?” tanyanya.
”Ya, maaf ya, Bi. Tapi, waktu itu kami pernah nggak sengaja nyenggol pot tanaman sampai pecah. Terus buang sampah di halaman rumah Lilin sangking kesalnya sama dia.” sambung teman Putra yang lain.
”Oh, jadi kalian yang mengotori halaman rumah? Saya harus kerja capek- capek gara- gara kalian! Dasar anak- anak nakal!” dan Bi Inah menjewer telinga dua di antara delapan anak- anak anggota gank motor Putra.
”hmm.. jadi yang SMS gue itu, lo?” tanyaku pada Yoyo.
”I..Iya...” ia gugup.
”Tahu nomor gue dari mana?” tanyaku.
”Dikasih Putra. Waktu itu dia pernah nyuruh gue ngerjain lo.”
”ooo.. terus puisi itu?”
”Itu....hmmm” Yoyo makin grogi.”Ya, anggap aja bentuk kekaguman gue sama lo. “
”Huuuuuuuuuu!” sorakan terdengar dari Putra, Dresia dan yang lain.
”Ehem.. hmm.. thanks.. gue juga tahu kalau lo sampai maki- maki putra, gara- gara ngdorong gue?” aku menatap matanya. Maksudnya membuat dia makin grogi.
”Itu... ya, gue salut aja sama lo. Lagian menurut gue, cowok yang nyakitin cewek itu banci. Jadi, ya semata- mata menghargai lo sebagai cewek dan teman sekolah Putra.” Benar sja. Dia terlihat makin grogi.
”Oke.. kalau gitu gue maafin dech kalian semua. Kita semua sekarang temenan, kan?” aku melihat ke mata mereka semua.
Dan semua tersenyum. Tanda setuju.
”Pesan gue.. jauhin rokok dan alkohol ya. Kalian nggak bakal mau tahu apa yang dapat menimpa kalian gara- gara dua barang itu,” pesanku.



Sebulan sejak saat itu, aku masih berteman dengan Putra, Yoyo, dan teman- teman mereka. Sekarang mereka semua adalah sahabatku yang bersih dari rokok dan alkohol. Dan untuk merayakan kelulusanku, Putra, Dresia, Aline, dan Fairyn, kami memutuskan untuk main arung jeram di sebuah sarana out bond. Sebenarnya orang tua dan dokter melarangku mati- matian untuk ikut main. Tapi, benar kata Putra, Lilin, kan beda. Nekat dan GILA! Jadi, dengan bantuan tema- tamanku, datambah menandatangani surat pernyataan bahwa aku tidak akan bermain sampai terlalu lelah –yang akan membuat asmaku kambuh- orang- orang dewasa itu, pun mengijinkan.
”Gimana masalah orang tua lo?” tanya Yoyo di sela istirahat kami setelah lelah bermain arung jeram.
”Hmm.. hahaha.. lo percaya sama cerita gue malam itu? Lo percaya sama omongn cewek yang dianggap gila sama sobat lo?! Haha.. itu semua karangan fiksi! Buat mendramatisir suasana aja. Hahah..”
Yoyo menatapku penuh arti. Tapi, kemudian..
Byuuurr....
Teman- temanku yang lain menyiram kami berdua dengan seember air.
”Biar sekalian basah!” teriak Putra sambil tertawa dan berlari dari kejaranku dan Yoyo.
”PUTRA!!!” aku dan Yoyo berteriak dalam waktu bersamaan.
Sekarang hidup kami lebih baik. Putra sudah mendapatkan kembali perhatian dari orang tuanya. Aku senang melihatnya tertawa riang seperti waktu ia memenagkan kompetisi voli waktu SD.
Dan sekarang si Psikopat dan Gank Tolol bersahabat. Aku harap untuk selamanya..

Comments

Popular Posts