mohon saran untuk yang ini..^^
Kaca Cinta Tomy
Saat memilihnya, tak pernah ada syarat agar ia memilihku...Saat melepasnya, juga tak akan ada syarat agar ia kembali padaku...
Inka
Hari ini hari pertamaku pergi dari rumah sebagai seorang mahasiswi. Akhirnya setelah 12 tahun menimba ilmu dengan harus mengenakan seragam, mulai hari ini aku bebas menentukan pakaian apa yang akan ku pakai untuk pergi ke kampus!
“Waduh, anak mama udah jadi mahasiswi!” Mama menyambutku yang baru turun dari tangga.
“Hehe.. Iya donk! Mahasiswi fakultas kedokteran lagi!” aku memeluk Mama.
“Masih mau diantar Papa nggak nih?” Papa muncul dari kamar.
“Hmmm.. gimana, ya? Hehe.. boleh juga tuh. Tapi, ntar mobil baru Inka nganggur lagi. Hehe..”
“Hahaha...” Mama, Papa, dan aku tertawa sambil menuju meja makan.
Aku tidak main- main. Sebagai hadiah kelulusan dan diterimanya aku di fakultas kedokteran universitas ternama di kota ini, Papa membelikan aku sebuah mobil sedan baru.
Kami sarapan dengan penuh rasa senang. Aku berangkat lebih pagi. Karena waktu yang harus kutempuh untuk sampai ke kampus mencapai setengah jam. Sekarang sudah jam tujuh, satu jam lagi kelas pertamaku dimulai.
“Ma, Pa, Inka berangkat duluan, ya,” aku mencium tangan Mama dan Papa.
“Hati- hati ya. Jangan ngebut! Pelan- pelan aja, masih pagi,” pesan Mama.
“Iya.. daaah..!”
Aku meraih kunci mobil dari atas meja. Hari ini, aku menebak apa yang akan terjadi hari ini. apa hari ini akan berjalan lebih baik, atau lebih buruk dari masa orientasi? Apa hari ini tujuanku masuk fakultas kedokteran universitas ini akan tercapai?
Ya, sebenaranya aku punya beberapa tujuan memilih masuk fakultas kedokteran di kampusku sekarang ini. Selain karena kau ingin mencapai cita- citaku untuk menjadi seorang psikiater sukses, aku masih mempunyai segudang alasan. Kalian akan tau nanti.
“Hai, Ka!” Arin, teman baru yang kukenal saat masa orientasi menyapaku dari belakang.
“Hai! Udah siap untuk hari ini?”
“Siap nggak siap, harus siap, kan?”
“Hahahaha..” kami berdua tertawa.
Nampaknya Arin akan menjadi teman yang baik untukku. Namun, tak lama pandanganku tertarik ke satu sudut. Seorang senior cowok, nampaknya sedang asyik ngobrol dengan teman- temannya. Aku menganali wajahnya. Wajah yang lekat sekali di pikiranku. Dia kah? Seperti itukah rupanya sekarang?
****
Kelas berakhir tepat jam satu siang. Aku memutuskan untuk menyempatkan diri (sekali lagi) berkeliling kampus sendiri (selama masa orientasi, aku sering menyempatkan diri berkeliling kampus yang besar ini). Arin pamit pulang duluan karena masih ada urusan. Jadi, kesempatan ini kugunakan untuk berkeliling dan mencari apa yang selama ini aku cari.
“Tom!” terdengar seseorang berteriak dari arah belakang.
Siapa yang dia panggil dengan panggilan “Tom”? aku menoleh ke belakan sejenak dan melihat seorang senior mempercepat langkahnya untuk menghampiri seseorang.
“Oi, Ni!” yang di panggil menoleh.
Aku terpaku untuk sesaat. Diam, mematung seperti orang bodoh. Itu kah dia? Seperti itukah rupanya sekarang?
***
Namanya Tomy. Tomy Ferando. Dia salah satu alasan mengapa aku berada di kampus ini. Dia yang selama ini mengisi setiap pikiranku, hingga kadang aku bertindak bodoh, karena otakku hanya berisi tentangnya. Klise, di cinta pertamaku.
Dia tinggal di perumahan yang sama denganku saat usiaku baru delapan tahun. Kami dipertemukan oleh berbagai kebetulan. Kebetulan ia tinggal di sebelah rumah temanku (aku baru tau setelah menyukainya selama satu tahun, dan berteman dengan temanku itu selama lima tahun!), kebetulan ia masuk di tempat kursus yang sama denganku, dan kebetulan Mama menyuruhku masuk fakultas yang sama dengannya. Padahal Mama tak pernah tahu apapun tentangnya.
Masih banyak keajaiban lain yang ia ‘tinggalkan’ untukku. Sampai hari ini, sepuluh tahun setelah terakhir aku melihatnya, ia ada di depanku, meski tak menyadari kehadiranku.
***
“Hahaha.. masa?” aku tersadar dari lamunanku.
“Iya.. gila...” samar aku mendengar percakapan mereka, yang sepertinya seru sekali.
Sesekali mereka tertawa, dan aku masih tetap mematung.
“Waduh! Sorry sob! Gue harus nyamperin Vivi dulu! Hehe..”
“Ah, dasar lo! Ya, udah sana. Ntar ngambek lagi.”
“Nggak lah! Cewek gue bukan tukang ngambek kayak cewek lo!” Tomy berlalu dari hadapan temannya dan aku.
Siapa? Vivi? Cewek? Pacar maksudnya? Jadi....
Aku mengikuti langkahnya secara diam- diam. Kemana dia akan pergi. Menjemput pacarnya itu? Kenapa tidak mengarah ke parkiran dan justru... fakultas ekonomi. Mungkinkah..
“Hai!” seorang gadis berambut sebahu dengan tatanan busana dan aksesoris yang simple tapi modis, menghampiri Tomy.
“Hey! Udah lama?”
“Belum kok. Kita mau kemana?” tanya gadis itu.
“Hmm.. laper nih. Cari makan, yuk!”
“Boleh!” gadis itu menggandeng tangan Tomy mesra.
Aku tak percaya. Ia dan gadis itu.. mereka sepasang kekasih!? Hatiku hancur melihat kemesraan mereka. Harusnya aku tahu sejak dulu. Harusnya aku sadar! Aku berlari ke mobil dengan air mata tertahan di pelupuk mata.
***
Setelah hari pertama yang buruk itu, niatku untuk pergi ke kampus demi menimba ilmu berkurang separuh dari sebelumnya. Aku tak sanggup menerima kenyataan yang belum bisa aku pastikan ini. Semuanya membingungakan. Aku tau Tomy kuliah di kampus yang sama denganku dari temannya, tapi aku terlalu naif untuk bertanya apakah ia masih sendiri atau...
“Au!” aku terpleset di anak tangga pertama saat hendak menuju kelasku.
“Hey, kamu nggak apa- apa?” seseorang hendak menopak tabuhku yang masing limbung dari belakang.
“Oh, nggak apa- apa. Saya nggak apa- apa,” aku berlari menaiki anak tangga tanpa menoleh pada orang yang telah membantuku tadi.
Sedikit tidak tau terima kasih, memang. Tapi, aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku.
“Lho? Ka, kok kayak abis lari- lari gitu, sih?” tanya Arin.
“Hmm.. nggak apa- apa.” Aku duduk di sebelahnya dan langsung membuka buku.
Ternyata kesialanku tak berhenti sampai di anak tangga. Buku catatanku ikut menghilang. Itu adalah buku catatan pribadi! Dimana, ya?
“Ck, dimana, sih?” aku sibuk mencari di dalam tas.
Nggak ada. Yang kutemukan justru sepucuk surat di dalam amplop berwarna biru. Surat yang tak seharusnya ada di dalam tasku.
“Kenapa kamu masih di situ. Hari ini, kamu udah harus berpindah tangan!” aku ‘berbicara’ pada amplop itu.
Aku mencari sosok Tomy. Oh, itu dia. Dia baru ingin masuk ke kelasnya. Aku menuggunya keluar. Dan.. jackpot!
“Maaf, kak. Kakak yang namanya Tomy, ya?” aku bertanya seolah tak mengenalnya.
“Iya. Kenapa, ya?” ia menatapku penuh curiga.
“Hmm.. ini, Kak. Tadi ada cewek di sana yang nyuruh saya ngasi ini ke Kakak,” aku memberikan amplop berisi surat itu pada Tomy.
“Oh, siapa?” ia menerimanya dengan ragu.
“Ng..nggak tau Kak. Dia cuma titip pesan supaya surat ini dikasih langsung ke Kakak.
“Kamu tau dari mana kalo saya Tomy?”
“Tadi cewek itu nujukin ke saya foto Kakak. Hmm.. permisi, Kak. Saya masih ada kelas,” aku segera meninggalkan Tomy yang terdiam di belakangku.
Aku tau pasti isi surat itu. Tapi, biarlah ia membacanya dulu.
***
Keesokan paginya aku baru saja selesai memarkir mobilku, saat aku melihat Tomy dan pacarnya baru saja keluar dari mobil sedan sport warna hitam, yang sepertinya kepunyaan Tomy. Aku bergegas turun dari mobil dan tergesa- gesa menuju kelas. Kalau saja kelas tidak dimulai lima menit lagi, tentu aku akan memilih untuk menuggu di mobil sampai mereka pergi. Tapi, sayang aku tidak mau dicap sebagai mahasiswi tukang telat di semester pertama ini.
Aku mempercepat langkahku sambil menunduk saat lewat di hadapan mereka berdua. Saat itu juga, aku bisa merasakan sesuatu. Ada yang mengamatiku. Ya, ada yang mengamatiku dari belakang. Apakah Tomy?
Aku sampai di kelas tepat waktu. Belum ada tanda- tanda dari Dosen yang seharusnya mengisi kelas pagi ini. tapi...
“Selamat pagi semua!” seseorang muncul dari balik pintu.
Bukan, dia bukan dosen yang seharusnya mengajar. Dia..
“Perkenalkan saya Tomy, asisten Pak Din, dosen yang seharusnya mengajar di kelas pagi ini. beliau berhalangan hadir, jadi saya diminta untuk menggantikan beliau hari ini.”
Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Bagaimana mungkin? Begitu banyak kebetulan yang hadir di tengah kami sampai hari ini.
“Oke, sebelum kita mulai kelas kita pagi ini, saya mau kenal anda satu- persatu dulu berdasarkan daftar absensi yang sudah anda isi. Kita mulai. Arini Setiani!”
Arin mengangkat tangannya. Tomy terus membaca keseluruhan daftar hadir sampai...
“Last, Alinka Carnia!”
Dengan ragu aku mengangkat tanganku sambil menunduk. Tomy terdiam untuk sesaat. Kemudian ia meletakkan daftar hadir itu di meja.
“Oke. Kita mulai pembahasan kita pagi ini.” ia mulai menerangkan.
Aku tak dapat berkonsentrasi selama kelas berlangsung. Rasanya bagitu campur aduk. Bingung, cemas, gembira, sekaligus tersiksa. Kenapa orang yang sedang berdiri di depan kelas adalah cinta pertamaku yang sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya?
“Oke. Sampai di sini dulu kelas kita hari ini. selamat siang!”
Sampai kelas kosong aku masih duduk di bangkuku. Aku baru menyadari bahwa saat itu hanya aku dan Tomy yang masih sibuk merapikan buku- bukunya. Sejenak kami saling berpandangan bingung. Lalu ia berjalan ke arahku. Ke arah tempat dudukku! Ia mengahmpiriku!
“Hah..hahaha.. kamu belum berubah Alinka. Atau harus kupanggil Kaca? Alin-KACA-rnia?”
“Ng..” aku terdiam.
“Kamu masih bodoh. Sama seperti waktu aku lihat kamu di tempat kursus sembilan tahun lalu. Masih ceroboh dan aneh. Ini..” Tomy menyodorkan sebuah buku kepadaku. “Kamu, udah ditolongin, bukannya bilang makasih, malah pergi gitu aja. Aku terpaksa ngebaca isi buku itu untuk cari tahu nama pemiliknya. Tapi, begitu buka halaman pertama udah ada namaku tertulis di situ. Jadi, aku berhak baca, donk?”
“Kak..” aku menatapnya tak percaya.
“Kenapa harus lewat surat segala, sih? kalau kamu mau, kan kamu bisa ngomong langsung ke aku kalau kamu temenku pas masih di Taman Indah? Kamu malu? Atau takut? Takut aku cuekin kayak waktu aku nyuekin comment- comment kamu di facebook dulu? Sembilan tahun... sembilan tahun kamu tinggal di luar kota dan ga ketemu aku secara langsung, sekarang kamu muncul dengan cara yang mengejutkan lagi. Hahaha... Kaca...Kaca...makasih.. maaf kalau dulu aku sempat nyuekin kamu dan bersikap jutek ke kamu. Aku udah berubah, kok, Ca. Aku mau belajar lebih menghargai orang lain. Dan sekarang aku mau menghargai perasaan kamu ke aku. Tapi, sekali lagi maaf, kamu benar, aku nggak bisa membalas perasaan kamu. Aku udah punya Vivi. Dan aku sayang sama dia. Dan kalau kata- kata kamu di surat dan di buku itu benar, kamu mau ‘merelakan’ aku, aku seneng banget. Kita bisa berteman lagi, kan?”
***
Tomy
“Kak...” aku bisa melihat mata Kaca berkaca- kaca, menahan air mata.
Kaca adalah anak perempuan yang aku kenal waktu kelas dua SMP. Saat itu, aku mengikuti kursus bahasa di tempat yang sama dengannya. Dia anak yang aneh dan, menurutku bodoh. Dia pernah bercerita ke tetanggaku kalau dia menyukaiku, dan tentu saja tetanggaku itu menceritakanya padaku. Aku dan tetanggaku sahabat sejak kecil, meski aku cowok normal dan dia cewek biasa. Kami sering bermain sepeda bersama. Jadi, tak heran bila ia mengatakan bahwa Kaca menyukaiku.
Nama Kaca, Alinka Carnia, tapi saat kecil ia memang lebih sering dipanggil Kaca. Aku menyadarinya dari saat ia meninggalkan buku hariannya di tangga saat terpleset tempo hari. Aku memungutnya dan hendak mengembalikannya. Tapi, baru saja ingin memanggil, ia sudah kabur duluan mungkin malu.
Aku membaca halaman pertama buku itu, untuk megetahui siapa gadis tak tahu terima kasih yang telah aku tolong. Tapi, yang kudapatkan bukan hanya nama lengkapnya, tapi juga nama lengkapku yang turut tertulis di halaman pertama. Lengkap dengan seluruh curahan isi hati Kaca terhadapku.
Terakhir, ia menghampiriku dengan dalil dititipi surat oleh gadis tak dikenal. Padahal aku telah mengenalinya dan tahu surat itu berasal darinya sendiri. Aku tak menyangka, ternyata ia yang begitu, entah apa namanya, bisa begitu polos mengirimkan surat berisi puisi kepadaku..
Saat itu,
Pertama kujatuh dalam tatapan matamu..
Kaki kecil ini bergetar..
Mendapati rasa yang
Aku tak tahu harus menyebutnya apa..
Aku hanya bisa memndamnya..
Aku menunggu
Menunggu untuk bertanya..
Sampai akhirnya kudapati bidadari lain merangkulmu mesra..
Sampai hari ini aku bertanya..
Adakah kaca di hatimu..
Agar kau mampu melihat bening hatiku..
Hatiku yang sebening kaca..
Hatiku yang kini harus mampu melepasmu...
Melepas untuk senyummu..
Kacamu, yang tak pernah ada di hatimu...
Aku hanya bisa tersenyum geli membaca suratnya itu. Apa sepolos itu pikirannya. Seperti anak TK yang mau bilang SUKA.
Satu lagi yang membuat aku tak habis pikir. Waktu itu Oni memanggilku untuk membicarakan tugas kelompok kami. Tapi, tiba- tiba ia berkata bahwa ada junior yang berdiri mematung memperhatikan kami. Aku hanya bisa tertawa tak percaya. Tapi, aku masih belum menyangka kalau itu Kaca. Jujur aku sempat lupa padanya. Hahaha..
“Kak..Tomy..ng..”
“Walaupun sekarang kamu junior aku, kamu masih boleh panggil aku Tomy. Ga perlu pake sebutan ‘Kak’,” aku tersenyum melihatnya salah tingkah.
“Maaf... aku ga tau.. Kaca bodoh!!! Bodoh!!huuuhhuuu..” ia mulai menangis seperti anak kecil.
“Hey! Hahaha... kenapa nangis.. eh, kamu ga malu? Hey.. stop.. Kaca, nanti aku dikira macam- macam sama kamu,” aku mulai gugup.
Bagaimanapun hanya kami berdua yang ada di ruangan ini. kalau ada yang salah paham, bisa gawat!
“Tom..haha.. aku...kamu pasti nganggep aku bener- bener freak sekarang. Tapi, aku bener- bener soal perasaan aku. Walaupun aku masih belum bisa mendefinisikannya sebagai rasa suka, sayang atau cinta. Yang aku tahu.. sampai saat ini..”
“Cuma aku yang bisa buat kamu nunggu selama sepuluh tahun. Cuma aku yang bisa muncul di mimpi kamu dan bilang makasih seperti yang aku bilang barusan. Cuma aku yang ada di pikiran kamu. Kamu nggak perlu ngasi tau aku lagi. Aku udah baca semua isi hati kamu..” aku mengusap air mata di pipinya.
Sekarang aku benar- benar merasa seperti laki- laki sesungguhnya. Yang bisa lebih dewasa dan menghargai perasaan perempuan. Lebih tepatnya, baru kini aku sadari, Kaca ternyata bisa jadi seorang adik yang... lucu. Seandainya dari dulu aku sadari. Mungkin kini ia tak akan menangis di hadapanku. Melainkan menjadi adik angkat yang manis.
“Tomy?” sebuah suara mengaggetkanku.
“Vivi? Kamu ngapain di sini?”
“Kata temen- temen kamu, tadi kamu ngisi kelas di sini. Jadi aku ke sini.”
“Oh.. hmm.. Vi, kenalin, ini..”
“Kenalin aku Kaca, temen lamanya Tomy. Hmm.. sorry aku nggak maksud..” Kaca menyeka air matanya, lalu mengulurkan tangan.
“Oh, aku Vivi. hmm..”
“Ca, ini Vivi pacarku yang aku ceritain barusan. Kaca lagi curhat sama aku. Maklum baru ketemu jadi lepas kangen dulu. Kamu ga cemburu, kan?” aku menggoda Vivi.
“Haha.. apaan sih? kamu mahasiswi baru, ya? Aku juga baru semester tiga di gedung sebelah. Fakultas ekonomi,” Vivi tersenyum tulus.
“Iya. Hmm.. aku ngganggu, ya? Aku duluan deh. Sampai ketemu, ya!” Kaca bangkit dari tempat duduknya.
“Eh, Kaca!” aku mengejarnya sampai di depan pintu kelas.
“Ya?” ia berbalik.
“Hmm.. aku..”
“Aku tahu, Tom. Vivi cewek yang baik untuk kamu. Dia pengertian, tulus, dan... modis. Gayanya oke!” Kaca berbisik untuk pujian yang terakhir. “Aku tau dia bisa buat kamu bahagia. Dan selama kamu bahagia, aku udah cukup bahagia. Tom, waktu aku memutuskan untuk “jatuh cinta” sama kamu, aku nggak bikin syarat supaya kamu juga membalas perasaanku. Dan sekarang, kalau aku disuruh ngelepas kamu untuk kebahagiaan, aku juga nggak bikin syarat supaya kabahagiaan itu adalah aku.”
“Sebening itu perasaan kamu. Tapi, kamu ga serapuh kaca yang mudah pecah, kan?” aku menggodanya.
“Hahaha.. aku harap. Kita teman, kan?”
“Kalau kamu mau, aku bisa jadi kakak kamu.”
“Makasih, Tomy. Daaahhh, Kak Vivi!” Kaca melambaikan tangannya padaku dan Vivi yang masih terdiam di dekat tempat duduk Kaca tadi.
“Temen kamu lucu, ya? Abis nangis bisa langsung ketawa gitu.”
“Itulah Kaca.”
Aku yakin, nama Kaca menunjukkan bagaimana jernih perasaannya, bukan seberapa rapuh hatinya...
“Waduh, anak mama udah jadi mahasiswi!” Mama menyambutku yang baru turun dari tangga.
“Hehe.. Iya donk! Mahasiswi fakultas kedokteran lagi!” aku memeluk Mama.
“Masih mau diantar Papa nggak nih?” Papa muncul dari kamar.
“Hmmm.. gimana, ya? Hehe.. boleh juga tuh. Tapi, ntar mobil baru Inka nganggur lagi. Hehe..”
“Hahaha...” Mama, Papa, dan aku tertawa sambil menuju meja makan.
Aku tidak main- main. Sebagai hadiah kelulusan dan diterimanya aku di fakultas kedokteran universitas ternama di kota ini, Papa membelikan aku sebuah mobil sedan baru.
Kami sarapan dengan penuh rasa senang. Aku berangkat lebih pagi. Karena waktu yang harus kutempuh untuk sampai ke kampus mencapai setengah jam. Sekarang sudah jam tujuh, satu jam lagi kelas pertamaku dimulai.
“Ma, Pa, Inka berangkat duluan, ya,” aku mencium tangan Mama dan Papa.
“Hati- hati ya. Jangan ngebut! Pelan- pelan aja, masih pagi,” pesan Mama.
“Iya.. daaah..!”
Aku meraih kunci mobil dari atas meja. Hari ini, aku menebak apa yang akan terjadi hari ini. apa hari ini akan berjalan lebih baik, atau lebih buruk dari masa orientasi? Apa hari ini tujuanku masuk fakultas kedokteran universitas ini akan tercapai?
Ya, sebenaranya aku punya beberapa tujuan memilih masuk fakultas kedokteran di kampusku sekarang ini. Selain karena kau ingin mencapai cita- citaku untuk menjadi seorang psikiater sukses, aku masih mempunyai segudang alasan. Kalian akan tau nanti.
“Hai, Ka!” Arin, teman baru yang kukenal saat masa orientasi menyapaku dari belakang.
“Hai! Udah siap untuk hari ini?”
“Siap nggak siap, harus siap, kan?”
“Hahahaha..” kami berdua tertawa.
Nampaknya Arin akan menjadi teman yang baik untukku. Namun, tak lama pandanganku tertarik ke satu sudut. Seorang senior cowok, nampaknya sedang asyik ngobrol dengan teman- temannya. Aku menganali wajahnya. Wajah yang lekat sekali di pikiranku. Dia kah? Seperti itukah rupanya sekarang?
****
Kelas berakhir tepat jam satu siang. Aku memutuskan untuk menyempatkan diri (sekali lagi) berkeliling kampus sendiri (selama masa orientasi, aku sering menyempatkan diri berkeliling kampus yang besar ini). Arin pamit pulang duluan karena masih ada urusan. Jadi, kesempatan ini kugunakan untuk berkeliling dan mencari apa yang selama ini aku cari.
“Tom!” terdengar seseorang berteriak dari arah belakang.
Siapa yang dia panggil dengan panggilan “Tom”? aku menoleh ke belakan sejenak dan melihat seorang senior mempercepat langkahnya untuk menghampiri seseorang.
“Oi, Ni!” yang di panggil menoleh.
Aku terpaku untuk sesaat. Diam, mematung seperti orang bodoh. Itu kah dia? Seperti itukah rupanya sekarang?
***
Namanya Tomy. Tomy Ferando. Dia salah satu alasan mengapa aku berada di kampus ini. Dia yang selama ini mengisi setiap pikiranku, hingga kadang aku bertindak bodoh, karena otakku hanya berisi tentangnya. Klise, di cinta pertamaku.
Dia tinggal di perumahan yang sama denganku saat usiaku baru delapan tahun. Kami dipertemukan oleh berbagai kebetulan. Kebetulan ia tinggal di sebelah rumah temanku (aku baru tau setelah menyukainya selama satu tahun, dan berteman dengan temanku itu selama lima tahun!), kebetulan ia masuk di tempat kursus yang sama denganku, dan kebetulan Mama menyuruhku masuk fakultas yang sama dengannya. Padahal Mama tak pernah tahu apapun tentangnya.
Masih banyak keajaiban lain yang ia ‘tinggalkan’ untukku. Sampai hari ini, sepuluh tahun setelah terakhir aku melihatnya, ia ada di depanku, meski tak menyadari kehadiranku.
***
“Hahaha.. masa?” aku tersadar dari lamunanku.
“Iya.. gila...” samar aku mendengar percakapan mereka, yang sepertinya seru sekali.
Sesekali mereka tertawa, dan aku masih tetap mematung.
“Waduh! Sorry sob! Gue harus nyamperin Vivi dulu! Hehe..”
“Ah, dasar lo! Ya, udah sana. Ntar ngambek lagi.”
“Nggak lah! Cewek gue bukan tukang ngambek kayak cewek lo!” Tomy berlalu dari hadapan temannya dan aku.
Siapa? Vivi? Cewek? Pacar maksudnya? Jadi....
Aku mengikuti langkahnya secara diam- diam. Kemana dia akan pergi. Menjemput pacarnya itu? Kenapa tidak mengarah ke parkiran dan justru... fakultas ekonomi. Mungkinkah..
“Hai!” seorang gadis berambut sebahu dengan tatanan busana dan aksesoris yang simple tapi modis, menghampiri Tomy.
“Hey! Udah lama?”
“Belum kok. Kita mau kemana?” tanya gadis itu.
“Hmm.. laper nih. Cari makan, yuk!”
“Boleh!” gadis itu menggandeng tangan Tomy mesra.
Aku tak percaya. Ia dan gadis itu.. mereka sepasang kekasih!? Hatiku hancur melihat kemesraan mereka. Harusnya aku tahu sejak dulu. Harusnya aku sadar! Aku berlari ke mobil dengan air mata tertahan di pelupuk mata.
***
Setelah hari pertama yang buruk itu, niatku untuk pergi ke kampus demi menimba ilmu berkurang separuh dari sebelumnya. Aku tak sanggup menerima kenyataan yang belum bisa aku pastikan ini. Semuanya membingungakan. Aku tau Tomy kuliah di kampus yang sama denganku dari temannya, tapi aku terlalu naif untuk bertanya apakah ia masih sendiri atau...
“Au!” aku terpleset di anak tangga pertama saat hendak menuju kelasku.
“Hey, kamu nggak apa- apa?” seseorang hendak menopak tabuhku yang masing limbung dari belakang.
“Oh, nggak apa- apa. Saya nggak apa- apa,” aku berlari menaiki anak tangga tanpa menoleh pada orang yang telah membantuku tadi.
Sedikit tidak tau terima kasih, memang. Tapi, aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku.
“Lho? Ka, kok kayak abis lari- lari gitu, sih?” tanya Arin.
“Hmm.. nggak apa- apa.” Aku duduk di sebelahnya dan langsung membuka buku.
Ternyata kesialanku tak berhenti sampai di anak tangga. Buku catatanku ikut menghilang. Itu adalah buku catatan pribadi! Dimana, ya?
“Ck, dimana, sih?” aku sibuk mencari di dalam tas.
Nggak ada. Yang kutemukan justru sepucuk surat di dalam amplop berwarna biru. Surat yang tak seharusnya ada di dalam tasku.
“Kenapa kamu masih di situ. Hari ini, kamu udah harus berpindah tangan!” aku ‘berbicara’ pada amplop itu.
Aku mencari sosok Tomy. Oh, itu dia. Dia baru ingin masuk ke kelasnya. Aku menuggunya keluar. Dan.. jackpot!
“Maaf, kak. Kakak yang namanya Tomy, ya?” aku bertanya seolah tak mengenalnya.
“Iya. Kenapa, ya?” ia menatapku penuh curiga.
“Hmm.. ini, Kak. Tadi ada cewek di sana yang nyuruh saya ngasi ini ke Kakak,” aku memberikan amplop berisi surat itu pada Tomy.
“Oh, siapa?” ia menerimanya dengan ragu.
“Ng..nggak tau Kak. Dia cuma titip pesan supaya surat ini dikasih langsung ke Kakak.
“Kamu tau dari mana kalo saya Tomy?”
“Tadi cewek itu nujukin ke saya foto Kakak. Hmm.. permisi, Kak. Saya masih ada kelas,” aku segera meninggalkan Tomy yang terdiam di belakangku.
Aku tau pasti isi surat itu. Tapi, biarlah ia membacanya dulu.
***
Keesokan paginya aku baru saja selesai memarkir mobilku, saat aku melihat Tomy dan pacarnya baru saja keluar dari mobil sedan sport warna hitam, yang sepertinya kepunyaan Tomy. Aku bergegas turun dari mobil dan tergesa- gesa menuju kelas. Kalau saja kelas tidak dimulai lima menit lagi, tentu aku akan memilih untuk menuggu di mobil sampai mereka pergi. Tapi, sayang aku tidak mau dicap sebagai mahasiswi tukang telat di semester pertama ini.
Aku mempercepat langkahku sambil menunduk saat lewat di hadapan mereka berdua. Saat itu juga, aku bisa merasakan sesuatu. Ada yang mengamatiku. Ya, ada yang mengamatiku dari belakang. Apakah Tomy?
Aku sampai di kelas tepat waktu. Belum ada tanda- tanda dari Dosen yang seharusnya mengisi kelas pagi ini. tapi...
“Selamat pagi semua!” seseorang muncul dari balik pintu.
Bukan, dia bukan dosen yang seharusnya mengajar. Dia..
“Perkenalkan saya Tomy, asisten Pak Din, dosen yang seharusnya mengajar di kelas pagi ini. beliau berhalangan hadir, jadi saya diminta untuk menggantikan beliau hari ini.”
Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Bagaimana mungkin? Begitu banyak kebetulan yang hadir di tengah kami sampai hari ini.
“Oke, sebelum kita mulai kelas kita pagi ini, saya mau kenal anda satu- persatu dulu berdasarkan daftar absensi yang sudah anda isi. Kita mulai. Arini Setiani!”
Arin mengangkat tangannya. Tomy terus membaca keseluruhan daftar hadir sampai...
“Last, Alinka Carnia!”
Dengan ragu aku mengangkat tanganku sambil menunduk. Tomy terdiam untuk sesaat. Kemudian ia meletakkan daftar hadir itu di meja.
“Oke. Kita mulai pembahasan kita pagi ini.” ia mulai menerangkan.
Aku tak dapat berkonsentrasi selama kelas berlangsung. Rasanya bagitu campur aduk. Bingung, cemas, gembira, sekaligus tersiksa. Kenapa orang yang sedang berdiri di depan kelas adalah cinta pertamaku yang sudah memiliki seseorang yang spesial di hatinya?
“Oke. Sampai di sini dulu kelas kita hari ini. selamat siang!”
Sampai kelas kosong aku masih duduk di bangkuku. Aku baru menyadari bahwa saat itu hanya aku dan Tomy yang masih sibuk merapikan buku- bukunya. Sejenak kami saling berpandangan bingung. Lalu ia berjalan ke arahku. Ke arah tempat dudukku! Ia mengahmpiriku!
“Hah..hahaha.. kamu belum berubah Alinka. Atau harus kupanggil Kaca? Alin-KACA-rnia?”
“Ng..” aku terdiam.
“Kamu masih bodoh. Sama seperti waktu aku lihat kamu di tempat kursus sembilan tahun lalu. Masih ceroboh dan aneh. Ini..” Tomy menyodorkan sebuah buku kepadaku. “Kamu, udah ditolongin, bukannya bilang makasih, malah pergi gitu aja. Aku terpaksa ngebaca isi buku itu untuk cari tahu nama pemiliknya. Tapi, begitu buka halaman pertama udah ada namaku tertulis di situ. Jadi, aku berhak baca, donk?”
“Kak..” aku menatapnya tak percaya.
“Kenapa harus lewat surat segala, sih? kalau kamu mau, kan kamu bisa ngomong langsung ke aku kalau kamu temenku pas masih di Taman Indah? Kamu malu? Atau takut? Takut aku cuekin kayak waktu aku nyuekin comment- comment kamu di facebook dulu? Sembilan tahun... sembilan tahun kamu tinggal di luar kota dan ga ketemu aku secara langsung, sekarang kamu muncul dengan cara yang mengejutkan lagi. Hahaha... Kaca...Kaca...makasih.. maaf kalau dulu aku sempat nyuekin kamu dan bersikap jutek ke kamu. Aku udah berubah, kok, Ca. Aku mau belajar lebih menghargai orang lain. Dan sekarang aku mau menghargai perasaan kamu ke aku. Tapi, sekali lagi maaf, kamu benar, aku nggak bisa membalas perasaan kamu. Aku udah punya Vivi. Dan aku sayang sama dia. Dan kalau kata- kata kamu di surat dan di buku itu benar, kamu mau ‘merelakan’ aku, aku seneng banget. Kita bisa berteman lagi, kan?”
***
Tomy
“Kak...” aku bisa melihat mata Kaca berkaca- kaca, menahan air mata.
Kaca adalah anak perempuan yang aku kenal waktu kelas dua SMP. Saat itu, aku mengikuti kursus bahasa di tempat yang sama dengannya. Dia anak yang aneh dan, menurutku bodoh. Dia pernah bercerita ke tetanggaku kalau dia menyukaiku, dan tentu saja tetanggaku itu menceritakanya padaku. Aku dan tetanggaku sahabat sejak kecil, meski aku cowok normal dan dia cewek biasa. Kami sering bermain sepeda bersama. Jadi, tak heran bila ia mengatakan bahwa Kaca menyukaiku.
Nama Kaca, Alinka Carnia, tapi saat kecil ia memang lebih sering dipanggil Kaca. Aku menyadarinya dari saat ia meninggalkan buku hariannya di tangga saat terpleset tempo hari. Aku memungutnya dan hendak mengembalikannya. Tapi, baru saja ingin memanggil, ia sudah kabur duluan mungkin malu.
Aku membaca halaman pertama buku itu, untuk megetahui siapa gadis tak tahu terima kasih yang telah aku tolong. Tapi, yang kudapatkan bukan hanya nama lengkapnya, tapi juga nama lengkapku yang turut tertulis di halaman pertama. Lengkap dengan seluruh curahan isi hati Kaca terhadapku.
Terakhir, ia menghampiriku dengan dalil dititipi surat oleh gadis tak dikenal. Padahal aku telah mengenalinya dan tahu surat itu berasal darinya sendiri. Aku tak menyangka, ternyata ia yang begitu, entah apa namanya, bisa begitu polos mengirimkan surat berisi puisi kepadaku..
Saat itu,
Pertama kujatuh dalam tatapan matamu..
Kaki kecil ini bergetar..
Mendapati rasa yang
Aku tak tahu harus menyebutnya apa..
Aku hanya bisa memndamnya..
Aku menunggu
Menunggu untuk bertanya..
Sampai akhirnya kudapati bidadari lain merangkulmu mesra..
Sampai hari ini aku bertanya..
Adakah kaca di hatimu..
Agar kau mampu melihat bening hatiku..
Hatiku yang sebening kaca..
Hatiku yang kini harus mampu melepasmu...
Melepas untuk senyummu..
Kacamu, yang tak pernah ada di hatimu...
Aku hanya bisa tersenyum geli membaca suratnya itu. Apa sepolos itu pikirannya. Seperti anak TK yang mau bilang SUKA.
Satu lagi yang membuat aku tak habis pikir. Waktu itu Oni memanggilku untuk membicarakan tugas kelompok kami. Tapi, tiba- tiba ia berkata bahwa ada junior yang berdiri mematung memperhatikan kami. Aku hanya bisa tertawa tak percaya. Tapi, aku masih belum menyangka kalau itu Kaca. Jujur aku sempat lupa padanya. Hahaha..
“Kak..Tomy..ng..”
“Walaupun sekarang kamu junior aku, kamu masih boleh panggil aku Tomy. Ga perlu pake sebutan ‘Kak’,” aku tersenyum melihatnya salah tingkah.
“Maaf... aku ga tau.. Kaca bodoh!!! Bodoh!!huuuhhuuu..” ia mulai menangis seperti anak kecil.
“Hey! Hahaha... kenapa nangis.. eh, kamu ga malu? Hey.. stop.. Kaca, nanti aku dikira macam- macam sama kamu,” aku mulai gugup.
Bagaimanapun hanya kami berdua yang ada di ruangan ini. kalau ada yang salah paham, bisa gawat!
“Tom..haha.. aku...kamu pasti nganggep aku bener- bener freak sekarang. Tapi, aku bener- bener soal perasaan aku. Walaupun aku masih belum bisa mendefinisikannya sebagai rasa suka, sayang atau cinta. Yang aku tahu.. sampai saat ini..”
“Cuma aku yang bisa buat kamu nunggu selama sepuluh tahun. Cuma aku yang bisa muncul di mimpi kamu dan bilang makasih seperti yang aku bilang barusan. Cuma aku yang ada di pikiran kamu. Kamu nggak perlu ngasi tau aku lagi. Aku udah baca semua isi hati kamu..” aku mengusap air mata di pipinya.
Sekarang aku benar- benar merasa seperti laki- laki sesungguhnya. Yang bisa lebih dewasa dan menghargai perasaan perempuan. Lebih tepatnya, baru kini aku sadari, Kaca ternyata bisa jadi seorang adik yang... lucu. Seandainya dari dulu aku sadari. Mungkin kini ia tak akan menangis di hadapanku. Melainkan menjadi adik angkat yang manis.
“Tomy?” sebuah suara mengaggetkanku.
“Vivi? Kamu ngapain di sini?”
“Kata temen- temen kamu, tadi kamu ngisi kelas di sini. Jadi aku ke sini.”
“Oh.. hmm.. Vi, kenalin, ini..”
“Kenalin aku Kaca, temen lamanya Tomy. Hmm.. sorry aku nggak maksud..” Kaca menyeka air matanya, lalu mengulurkan tangan.
“Oh, aku Vivi. hmm..”
“Ca, ini Vivi pacarku yang aku ceritain barusan. Kaca lagi curhat sama aku. Maklum baru ketemu jadi lepas kangen dulu. Kamu ga cemburu, kan?” aku menggoda Vivi.
“Haha.. apaan sih? kamu mahasiswi baru, ya? Aku juga baru semester tiga di gedung sebelah. Fakultas ekonomi,” Vivi tersenyum tulus.
“Iya. Hmm.. aku ngganggu, ya? Aku duluan deh. Sampai ketemu, ya!” Kaca bangkit dari tempat duduknya.
“Eh, Kaca!” aku mengejarnya sampai di depan pintu kelas.
“Ya?” ia berbalik.
“Hmm.. aku..”
“Aku tahu, Tom. Vivi cewek yang baik untuk kamu. Dia pengertian, tulus, dan... modis. Gayanya oke!” Kaca berbisik untuk pujian yang terakhir. “Aku tau dia bisa buat kamu bahagia. Dan selama kamu bahagia, aku udah cukup bahagia. Tom, waktu aku memutuskan untuk “jatuh cinta” sama kamu, aku nggak bikin syarat supaya kamu juga membalas perasaanku. Dan sekarang, kalau aku disuruh ngelepas kamu untuk kebahagiaan, aku juga nggak bikin syarat supaya kabahagiaan itu adalah aku.”
“Sebening itu perasaan kamu. Tapi, kamu ga serapuh kaca yang mudah pecah, kan?” aku menggodanya.
“Hahaha.. aku harap. Kita teman, kan?”
“Kalau kamu mau, aku bisa jadi kakak kamu.”
“Makasih, Tomy. Daaahhh, Kak Vivi!” Kaca melambaikan tangannya padaku dan Vivi yang masih terdiam di dekat tempat duduk Kaca tadi.
“Temen kamu lucu, ya? Abis nangis bisa langsung ketawa gitu.”
“Itulah Kaca.”
Aku yakin, nama Kaca menunjukkan bagaimana jernih perasaannya, bukan seberapa rapuh hatinya...
Comments
Post a Comment