ini salah satu harta karun yang saya temukan.. hehehe
SEBUAH PENGAKUAN
“A-aku boleh duduk di sini, Ta?” tanya Deril ragu- ragu.
“Tentu,” jawabku singkat, namun sambil tersenyum.
Ia duduk masih dengan ekspresi malu dan salah tigkah. Kami tak saling bicara untuk beberapa lama, tapi aku tahu diam- diam ia memperhatikan aku.
“Ada apa, Ril?”
“Eh? Hmmm... aku...” sepertinya pertanyaanku barusan sukses membuatnya terkejut dan gugup.
“Kok salting gitu? Aku salah nanya, ya?”
“Oh, nggak. Kamu nggak salah, kok. Aku yang salah,” ia semakin salah tingkah.
“Kenapa jadi kamu yang salah?”
“Iya, nggak seharusnya aku duduk di sebelah kamu,” ia membenarkan letak kacamata tebalnya yang turun.
“Lho? Nggak ada aturan yang menyebutkan kamu harus duduk dimana, Deril. Kamu bebas mau duduk di mana aja, asalkan tempat itu kosong,” aku meyakinkannya.
“Tapi, kan...” belum ia menyelesaikan kalimatnya, Frans dan teman- temannya sudah ada di depan kami.
“Hai, sayang!” sapanya ramah.
“Hei!” aku membalas dengan senyuman yang tak kalah manis.
“Pagi- pagi begini, kok udah bergaul sama kutu buku ini?” air muka Frans berubah sinis kala mengalihkan pandangan ke arah Deril sambil duduk di atas mejaku.
“Frans, jangan gitu, donk! Deril teman sekelasku, dan hari ini di mau duduk di sebelahku. Kamu nggak perlu nanya seolah- olah dia adalah makhluk asing dari dunia antah berantah begitu,” jawabku tegas.
Meski sudah resmi berpacaran selama tiga bulan dengannya, masih ada beberapa prinsipku yang belum bisa dimengerti oleh Frans. Seperti yang satu ini. Seharusnya ia sudah hafal dengan dengan ketidaksukaanku pada ejekan. Apalagi ejekan yang ditujukan pada orang- orang tidak bersalah seperti Deril.
Apa salahnya, sih, kalau kamu adalah seorang remaja laki- laki, dengan tinggi ideal, yang memakai kacamata tebal, dan memiliki rasa percaya diri yang rendah? Atau seorang remaja perempuan dengan berat berlebih dan nafsu makan yang kuat. Kamu juga seorang manusia, kan? Itulah yang coba kuyakinkan pada Frans. Dan semakin aku lelah menjelaskan panjang lebar, ia justru semakin sering menindas anak- anak seperti itu di sekolah kami.
“Terserah kamu, deh. Yang jelas, dari pada kamu ketularan aneh, mending kamu ikut kita ke kantin,” ia meminta dukungan teman- temannya.
“Iya, Ta. Ini kan masih pagi, lebih baik kamu sarapan dengan kita,” ia mendapat dukungan dari Eros.
“Nggak, deh. Kalian sarapan aja berempat. Kalau mau ajak teman lain, ajak Deril aja. Aku harus ke perpus untuk pinjam buku fisika,” aku tersenyum dan bangkit dari tempat aku duduk.
“Ngajak nih anak? Makasih, deh. Mending kita sarapan bareng kecoa. Yuk, semua! Pagi ini aku yang traktir!” seru Frans.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang menurutku kekanak- kanakan. Sedangkan Deril tak berani berkutik serta hanya berani menunduk lesu.
“Der, aku ke perpus dulu, ya?”
Deril mengangkat wajahnya sedikit, mengangguk, dan tersenyum kecil. Sangat kecil hingga lebih terkesan seperti ringisan.
Sambil memilih buku, tiba- tiba terpikir olehku tentang suatu hal yang sepertinya sedikit kulewatkan. Alasan Deril duduk di sebelahku akhir- akhir ini. Memang, seperti kataku tadi, tak ada aturan yang menyebutkan bahwa ia atau yang lain tidak boleh duduk di sampingku. Tapi, Deril dan aku nyaris tak pernah berbicara kecuali saat ada tugas diskusi dalam kelompok. Bicaranya juga sangant irit. Hmmm... ada sesuatu yang harus kutanyakan langsung.
Jam tujuh kurang lima belas menit. Masih ada waktu untuk...
“Christa!” seseorang berteriak dari depan pintu perpustakaan.
Spontan aku menoleh ke arah datangnya suara.
“Ya?”
“Frans dan kawan- kawannya ngeroyok Deril di WC cowok!” si empunya suara yang tak lain adalah Zaky nampak panik.
“Apa?! Serius?!” aku masih tak percaya.
“Serius! Masa untuk hal segawat ini aku bercanda?”
Aku berlari meninggalkan buku- buku yang tadinya hendak kupinjam berserakan di salah satu meja.
Frans! Hal bodoh apa lagi yang kamu lakukan?
Aku merutuki Frans dalam hati sambil terus berlari. Bayangkan, sekolahku terdiri dari tiga gedung yang terpisah cukup jauh. Perpustakaan ada di gedung bagian timur, dan kamar mandi yang biasa digunakan anak laki- laki untuk melakukan adu jotos atau hal- hal tercela lain ada di gedung bagian barat. Maklum, WC yang terletak di lantai satu itu, selain gelap, juga jauh dari jangkauan guru- guru.
Masih berlari, aku tak peduli dengan teman- teman yang memperhatikan aku, dan penampilanku yang kusut. Untukku sekarang, yang penting adalah sampai ke TKP secepat mungkin.
Saat aku tiba, tempat itu telah dipenuhi oleh siswa- siswi lain. Ada yang hanya ikut menonton, tapi ada juga yang justru menjadi suporter dadakan. Frans dan teman- temannya jadi tambah bersemangat menghajar Deril yang tak berdaya.
“FRANS!” aku berteriak sekuat tenaga.
Dan tidak sia- sia. Semua langsung terdiam setelah melihat aku dan mendengar teriakanku.
“Christa?!” Frans tak kalah terkejut.
Aku menghampiri Deril yang terduduk di sudut dengan wajah penuh lebam dan luka.
“Deril, kamu nggak apa- apa, kan?” aku mengusap darah dari dahinya dengan tisu.
“Ta, ngapain kamu bela dia. Dia itu...”
“Udah! Aku nggak mau dengar apa- apa lagi! Zacky! Bantu aku bawa Deril ke UKS!”
Zacky yang sejak dari perpustakaan mengikutiku, kini juga sibuk membantu memapah Deril.
“Ta! Aku cuma nggak suka cara dia! Dia berusahan ngerebut kamu dari aku! Aku nggak mau kehilangan kamu! ”
“Cukup! Kalau kamu udah nggak mau kehilangan aku, seharusnya kamu dengan kata- kata dan nasihat aku! Bukan justru melakukan hal yang paling aku benci! Karena itu justru membuat kamu kehilangan aku! Kita putus!” tegasku tanpa sedikitpun melihat ke arah Frans.
“Ta...” panggil Frans dengan nada lirih.
Walaupun dikenal sebagai berandal kelas kakap di sekolah, aku dan hampir semua orang yang mengenal Frans tahu, bahwa ia sangat menyayangiku. Ia selalu membelaku saat ada yang mencoba mengganggu. Tapi, kali ini caranya benar- benar salah. Dan aku benar- benar sudah lelah menghadapi tingkahnya yang semaunya sendiri itu.
Aku harap hari ini akan dicatatnya sebagai pelajaran berharga. Supaya ia tak lagi mengulangi kesalhan yang sama di lain waktu.
Kerumunan itu bubar satu per satu saat aku, Zacky dan Deril lewat.
“Aw!” Deril meringis saat kubasuh luka- lukanya dengan air hangat yang kudapat dari dapur sekolah.
“Duh, maaf. Sakit, ya?” aku meniup- niup lukanya.
Deril hanya diam. Jelas sekali ia kesakitan. Sesekali ia mendesis, menahan perih.
“Sedikit lagi,” kataku sambil meneteskan obat merah ke dahinya yang luka.
“Makasih, Ta,” akhirnya ia bersuara.
“Oh, sama- sama. Aku mewakili Frans minta maaf, ya? Dia memang keterlaluan,” aku yang tak berani menatap wajahnya, berlagak membereskan peralatan dan obat- obatan yang telah selesai kugunakan.
“Sebenarnya dia nggak sepenuhnya salah. Mungkin aku yang memang berlebihan,” ia juga menunduk.
“Berlebihan? Maksud kamu?”
Deril hanya diam.
“Aku malu, Ta. Karena sebenarnya memang aku yang salah. Walaupun bukan terhadap Frans. Tapi, dia memang pantas marah, karena dia sangat sayang sama kamu,” Deril masih menunduk.
“Aku masih nggak ngerti.”
“Beberapa hari ini aku minta bertukar tempat duduk dengan Nisa, supaya bisa duduk di sebelah kamu. Aku cuma mau memperhatikan kamu dari dekat,” mendengar kata- katanya, kuakui aku sedikit tersipu malu.
“Kamu gadis yang baik, nggak pilih- pilih teman, cerdas... cantik,” aku semakin terbang.
Walaupun yang berbicara adalah seorang cowok yang berbeda dengan Frans yang terkesa macho, tetap saja kata- katanya berhasil membuatku tersanjung.
“Mungkin itu yang buat Fran tergila- gila sama kamu. Sampai dia melakukan itu. Tapi...”
Apa? Apa aku tak salah dengar? Aku mendengar isakan. Dan itu berasal dari Deril. Dia menangis!
“Deril, kok, kamu jadi nangis?” aku panik sendiri.
Ada apa ini? Kenapa Deril tiba- tiba menangis?
“Aku minta maaf, Ta. Aku... aku nggak seharusnya ngerasain ini. tapi... tapi...”
“Udah, Ril. Jangan nangis gini!”
Jam setengah delapan. Seharusnya aku ada di kelas dan mengikuti pelajaran sejarah. Dan apa yang terjadi? Aku berada di UKS dengan seorang SISWA menangis seenggukan meminta maaf atas sesuatu yang tak aku mengerti.
“Aku duduk di samping kamu, untuk memperhatikan kamu dari dekat dan lebih jelas. Aku iri sama kamu. Frans begitu sayang dan sulit melepas kamu. Dan aku mau tahu alasannya. Aku mau tahu apa yang dilihatnya dari gadis seperti kamu. Dan sekarang aku sadar, bukan hanya fisik kamu yang menarik tapi juga kepribadian dan hati kamu. Dan sesuatu yang nggak akan bisa aku tandingi. Bahwa... bahwa kamu adalah seorang perempuan,” Deril menangis lagi.
“Maksud kamu?”
Tuhan, katakan bahwa yang kupikirkan adalah kesalahan besar!
“Maaf Christa, aku suka sama Frans.”
Aku mematung. Tak percaya. Frans, berandal nomor satu di sekolah. Mantan pacarku. Deril, pemuda pendiam yang akhir- akhir ini mendekatiku. Seorang pendiam, misterius yang baru saja secara tidak langsung memujiku. Jujur, kali ini aku ingin muntah!
Terus berkarya.... :-)
ReplyDelete