belajar


THE DANCE

Bila aku adalah bagian dari pertunjukan panggung boneka
Maka kaulah dalangku, yang membuat kaki ini menari
Yang membuat boneka ini menemukan dunianya

Gracelle  mematung di hadapan papan besar penuh tempelan poster dan brosur perguruan tinggi ternama. Matanya terfokus pada sebuah poster berukuran sedang dengan warna dominan merah marun dan emas.
“Udah selesai lihat-lihatnya?” seorang pemuda bertubuh tinggi ideal merangkulnya dari belakang.
“Udah. Tinggal diisi,” ia menunjukkan beberapa formulir universitas yang didekapnya sedari tadi.
“Aku juga udah selesai. Pulang, yuk!” senyum pemuda itu mengembang.
Sepasang remaja itu berjalan bergandengan tangan melewati kerumunan orang yang tengah asyik menikmati pameran pendidikan di hall sebuah universitas. Layaknya sepasang sejoli, senyum tak pernah hilang dari wajah mereka. Sungguh keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
Gadis itu duduk termenung di sudut kamarnya. Matanya tak lepas dari bingkai foto yang terpajang apik di meja belajarnya. Di dalamnya selembar foto terpampang agung. Nampak ia dan seorang pemuda tertawa bahagia dengan seragam SMA yang sudah penuh corat-coret dan tanda tangan. Kenangan saat kelulusan.
Memorinya kembali meluncur ke beberapa tahun sebelumnya. Saat dengan bangga ia menerima piagam dan medali sebagai peraih nilai terbaik dalam ujian nasional. Dan bagaimana ia menghabiskan hari itu bersama seseorang yang berarti baginya.
“Akhirnya lulus juga. Selamat, ya, kamu dapat nilai terbaik di sekolah kamu,” tangan pemuda itu mengelus pipinya.
“Iya. Selamat untuk kelulusan kita,” senyumnya tak surut.
“Eh, kamu belum beri tahu aku universitas mana yang akhirnya kamu pilih. Jadi kamu ke Bandung?”
“Hmmm.... nggak. Aku nggak jadi ambil di sana.”
“Jadi kamu tetap di Jakarta sama aku?” tanya pemuda itu penuh keyakinan.
“Ng...nggak juga.”
“Bukannya pilihan terakhir kamu cuma antara Jakarta atau Bandung?”
“Tadinya iya. Tapi, aku dapat kesempatan baru. Minggu depan, aku berangkat ke London,” matanya berbinar.
Tapi, respon yang ia terima justru sebaliknya. Pemuda itu seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“London?” kekasihnya itu memastikan.
“Iya. Aku diterima di Maroon Dance Academy. Akademi khusus untuk calon penari dan pedansa profesional.”
“Apa? Kamu serius mau masuk sekolah tari? Gracy...”
“Aku yakin. Orang tua aku juga udah setuju. Kamu nggak perlu khawatir, walaupun bakal jarang ketemu, kita masih bisa kontak lewat internet atau..”
“Bukan itu. Aku pikir kita udah sepakat untuk mencari masa depan yang baik untuk kita.”
“Ini juga masa depan. Memangnya masa depan yang baik itu cuma bisa diraih oleh insinyur, dokter, atau...”
“Iya, tapi apa yang mau kamu harapkan dari dansa? Bukannya kita udah sepikiran waktu itu? Dansa itu cuma  hobi, hiburan. Dansa nggak bisa memberikan dunia yang selama ini kamu mau. Dansa itu hanya permainan, dan kuliah adalah dunia yang...”
“Tapi inilah dunia aku. Kamu ingat, siapa yang pertama kali memperkenalkan kutu buku ini ke dunia dansa? Kamu. Kamu yang bilang bahwa dalam dansa ada dunia yang lebih indah untuk kita. Karena kamu aku kenal dunia ini, duniaku. Dunia yang selama ini aku kira ada di balik tumpukkan buku.”
“Kamu bisa menemukan dunia yang lebih luas. Tapi bukan karena dansa. Dansa nggak akan memberikan kamu apa-apa di masa depan.”
 “Setiap orang boleh punya masa depannya masing-masing, kan? mungkin masa depan yang indah menurut kamu itu, masa depan sebagai arsitek sukses, yang punya banyak klien, yang bisa keliling dunia, mendesain gedung-gedung mewah seperti yang sering kamu bayangkan. Aku juga punya pandangan tentang masa depan aku. Banyak pedansa senior yang sukses di dunia ini.”
“Jadi...”
“Aku tetap akan pergi.”
“Dan hubungan kita?”
“Kalau untuk sama kamu terus aku harus melepaskan dunia aku sendiri, maaf, syarat kamu terlalu berat,” ia bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan kekasihnya yang termenung di hadapan makanan dingin yang tak habis mereka santap karena perdebatan itu.
Kemudian memorinya terbang semakin jauh. Dua tahun sebelum hari itu, saat ia bukan siapa-siapa, selain gadis biasa dengan rambut panjang tergerai dan kacamata tebal menghiasi wajahnya. Di pinggir panggung  resepsi pernikahan kakak sulungnya, ia berdiri, memandang takjub mereka yang tengah asyik berdansa. Malam itu juga, pertama kalinya ia bertemu dengan pemuda itu dengan cara yang tak pernah ia duga.
Saat duduk sendiri, seorang gadis kecil dengan pakaian tutu menghampirinya.
“Kak, ada yang mau kenalan tuh,” bisiknya sambil menunjuk ke arah seorang pemuda.
Ia hanya tersenyum pada gadis itu dan tertunduk malu.
“Nama kakak siapa? Kalau nama yang mau kenalan itu...hmpf..” belum lagi selesai balerina kecil itu berbicara, seorang pemuda telah menggendong dan membekap mulutnya.
“Heeehh, Mita, jangan iseng, ya! sana main sama yang lain!”  pemuda itu melepaskan si gadis.
Namun, sesuatu yang tak ia sangka terjadi. Gadis bertutu biru itu menagis karena takut.
“Eh, Mita, aduh, jangan nangis! Heh, malu tuh diliatin sama Kakaknya.”
Merasa terlanjur terlibat, ia berlutut di hadapan gadis itu.
“Hei, Mita. Katanya mau kenalan sama Kakak. Jangan nangis gitu donk. Hmm... nama Kakak Grace. Mita cantik jangan nangis lagi donk,” ia mengelus kepala gadis itu lembut.
“Tuh, Ta, jangan nagis lagi! Ayo donk!” pemuda itu ikut membujuk.
“Hiks... huuw.. muka Kak Reza merah... hihihi..” gadis kecil itu berlari meninggalkan mereka berdua sambil tertawa riang.
“Wah! Dikerjain lagi sama tuh anak!” pemuda itu menepuk dahi.
Gracelle hanya tertawa kecil. Di benaknya kini masih bercampur aduk berbagai macam perasaan. Senang, kaget, malu.
“Ehm... maaf yang tadi. Mita memang iseng anaknya,” pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya. Nggak masalah, kok,” Grace tersenyum dan hendak meninggalkannya.
“Eh,”
“Hmm?” ia membalikkan badan menatap pemuda itu lagi.
“Aku Reza.”
“Grace,” ucapnya sembari  berjabat tangan.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam.
“Boleh minta nomor handphone kamu?” tanya Reza ragu.
Grace hanya tertawa kecil, membuang muka dan berlalu dari hadapannya. Baru beberapa langkah, ia terhenti oleh suara yang memanggilnya.
“Gracy!” Tita berlari menghampirinya.
“Tita? Ngapain di sini?” ia memandangi teman sekolahnya dengan heran.
“As you see. Aku pengisi acara. Dancer. Tapi, ya emang belum tampil. Kamu?”
“Oh, ini pernikahan kakakku.”
“Ow. Oh iya, ini Reza, di teman satu sanggar aku. Di seumuran kita, anak SMA Cleosa,” Tita menggiring Grace kembali ke hadapan Reza lagi.
Grace masih bingung.
“Za, Grace ini temen satu sekolah aku.”
Dari perkenalan kedua yang dijembatani Tita, akhirnya Reza mendapatkan nama akun Facebook Grace. Hanya itu yang berani ia berikan saat itu. Namun, seiring berjalan waktu, mareka semakin dekat. Dan enam bulan kemudian, mereka berdua resmi berpacaran.
Sejak resmi menjadi kekasihnya, Grace sering menemani Reza berlatih di sanggar. Ia biasa menunggu di luar ruang latihan. Sampai akhirnya Reza mengajaknya masuk untuk melihatnya berlatih.
“Aku udah minta ijin. Dan kata Mas Ari, kamu boleh lihat kita latihan di dalam. Siapa tahu kamu berminat gabung,” Reza menggandeng tanganny dan membawanya masuk.
Bayangan itu kemudian berganti seperti cuplikan-cuplikan film di pikiran Grace. Bagaimana akhirnya ia menjadi pertner dansa Reza. Penampilan-penampilan mereka di panggung. Juga kompetisi dansa nasional pertama mereka.
“Dan... juara tiga kategori Rumba Amateur, pasangan dengan nomor... delapan!” masih terngiang di telinganya saat MC memanggil mereka berdua untuk menerima hadiah.
Saat-saat yang begitu indah dan manis. Sampai ketika mereka ada di tahun terakhir sekolah. Keduanya sepakat untuk mundur dari dansa untuk menggapai impian masing-masing. Reza yang ingin menjadi seorang arsitek, dan Grace sebagai apoteker. Setidaknya itulah impiannya dulu.
Grace beranjak dari tempatnya, mengambil bingkai foto itu dan memandangnya lekat.
“Aku udah buktikan, kalau aku bisa sukses di dunia ini. Kamu gimana? Empat tahun. Apa kamu masih menganggap apa yang aku perjuangkan ini sia-sia? Tahun ini aku sudah menjadi instruktur di Maroon. Dua bulan lagi adalah  kompetisi internasional pertamaku sebagai seorang profesional. Dan aku akan buktikan kalau aku  bisa.” Ia tersenyum dan meletakkan bingkai itu ke tempatnya semula.
Grace melanjutkan kegiatannya di meja belajar itu. Kali ini ia menyalakan laptopnya dan memeriksa apakah sahabatnya, Tita juga sedang online di messenger. Segera setelah ia menemukan tanda online pada nama akun sahabatnya, ia memulai percakapan itu.
Hi! Sibuk, nggak? J

Gracy!! Akhirnya ol juga, kamu. Aku lagi santai, kok. Hari Minggu gitu. Eh, disana jam berapa?

Jam 4 pagi. Hehehe... web cam n audio please...

Ok. Bentar.
Dan tak lama tampilan berganti. Muncul wajah Tita mengenakan headphone di seberang.
“Gracy!!!” suara Tita yang melengking mengagetkan Grace, hingga ia dengan spontan melepaskan headphone-nya.
“Oopps.. sori. Kaget, ya? hehe.. gimana kabar kamu di sana?” Tita melanjutkan pembicaraan setelah Grace kembali mengenakan headphone-nya.
“it’s okay.  Baik, kok. Kamu gimana? Lancar kuliahnya?”
“Aku baik. Kuliah lancar. Eh, ada apa nih, tumben nyari aku sampe online subuh-subuh?”
“Hmm... aku mau minta tolong dibuatkan baju dansa boleh?”
“What? Nggak salah kamu minta ke aku?”
“Ya, nggak lah. Kamu, kan mantan dancer dan calon desainer juga.”
“Emang buat apa?”
“Begini, dua bulan lagi ada kompetisi internasional untuk profesional dancer. And it will be my first.”
“Stop! Apa kamu bilang tadi? Kompetisi internasional?”
“Iya.”
“Ya, ampun Gracy, emang desainer di London udah pada bangkrut, ya? sampai kamu harus minta dibuatin kostum dari Indonesia, bukan dari desainer profesional lagi. Tapi dari mahasiswi fashion design yang bahkan belum kepikiran mau buat apa untuk ujian akhirnya.”
“Bagus dong. Mungkin kamu bisa pakai proyek ini untuk bahan ujian akhir kamu.”
Tita nampak berpikir sejenak.
“Oke, jadi, kamu mau kostum dengan model apa?” tanyanya sambil tersenyum.
“Aaa.. Tita! Thank you! Aku mau yang simple aja, nggak usah terlalu ribet,” Grace berbicara dengan semangat.
“Warna? Bahan?”
“Nah! Aku mau bahan batik.”
“What? Batik? Yakin?”
“Iya. Aku udah diskusikan ini dengan partner aku. Selama ini, kan kita selalu pakai kostum yang ‘barat’ banget. Kali ini, aku mau sekalian promosiin negara asalku, Indonesia. Dan dia excited banget. Dia bahkan juga mau pakai kostum yang serasi sama aku. Jadi, kalau bisa kamu buat sekalian sepasang.”
Tita ternganga.
“Jujur, aku belum pernah membayangkan seperti apa kostum dansa berbahan batik. Dipakai sama dancer mancan negara pula.”
“Ayo dong, Ta. Aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi selain sama kamu,” Grace memohon.
Dan setelah diskusi yang cukup panjang, Tita menyetujui permohonan sahabatnya itu. Rencana mereka berjalan cukup lancar. Tita meminta Grace untuk mencatat apa saja yang ia butuhkan untuk mulai merancang kostum mereka, seperti tinggi badan Grace dan pasangannya –yang sempat membuat Tita takjub, lingkar pinggang, lebar bahu, dan ukuran badan lain yang sempat membuat Grace pusing sendiri.
Selama sebulan, terakhir setidaknya sudah ada delapan hari dimana Grace tidak tidur untuk memastikan kostumnya dan pasangannya terproses dengan baik. Padahal Tita sendiri telah meyakinkan bahwa semua berjalan sesuai rencana. Apa lagi ia dibantu oleh seorang desainer senior kenalannya. Tapi, Grace berseih keras tidak akan lepas tangan. Jadilah setiap beberapa hari sekali, Tita akan memperlihatkan detail-detail kostum yang sedang diproses kepada grace.
Setelah minggu-minggu yang mendebarkan, akhirnya pagi itu Grace menerima paket berisikan kostum dansanya. Tepat dua minggu sebelum kompetisinya.
“Tita! This is awsome!” Grace berputar dalam balutan kostumnya dan membiarkan Tita melihatnya melalui sambungan internet, keesokan dini harinya.
“Ukurannya pas? Nyaman dipakai nggak?”
“Pas! Pas banget. Nyaman. Aku bebas bergerak, dan jatuhnya di setiap gerakanku bagus.”
Grace berlari menghampiri laptopnya lagi dan memasang headphone-nya kembali untuk mealanjutkan perbincangan.
“Kostum Mike juga pas. Di senang sekali. Thank you.”
“Sama-sama. Tapi, simpan kesenangan kamu untuk... ini!” Tita memamerkan selembar tiket pesawat.
Grace mendekatkan wajahnya ke layar monitor.
“Tita, itu tiket pesawat ke London? Kamu mau kesini?!”
“Iyaaaa!!  Aku mau lihat kamu lomba. Hehe... jemput aku di bandara, ya?”
“Pasti!”
Hari yang ditunggu tiba. Grace telah siap dalam balutan kostum dansa berbahan sutra dengan  motif batiknya. Di belakangnya, Tita tengah dengan cekatan menjalin setiap helai rambutnya.
“Kamu cuma ikut Rumba, Grace?”
“Iya. Aku cuma mau menampilkan apa yang benar-benar aku kuasai.”
“Terakhir kita ketemu di bandara, waktu kamu berangkat kesini, rambut kamu masih sebahu. Sekarang tahu-tahu sudah sepunggung, seperti pertama kali kita ketemu di SMA,” Tita masih sibuk dengan rambut Grace.
“Sudah empat tahun, Ta. wajar kalau rambutku sudah sepanjang ini. lagi pula susah juga kalau rambut pendek. Nggak bisa dikreasikan,” Grace tersenyum, mengenang saat-saat ia harus mengucapkan salam pisah pada rambut panjangnya.
“Kamu terlihat lebih fresh dengan rambut yang nggak terlalu panjang,” puji Reza saat mereka keluar dari salon langganan Grace sore itu.
“Aku kan harus kelihatan lebih modis dan fresh supaya kelihatan bagus juga di panggung.”
Grace memutuskan merubah penampilannya setelah ia bergabung dengan tim tari Reza.
“Eh, kontingen dari Indonesia, salah satunya anak Star, lho,” Tita nampak lebih bersemangat.
“Oh, ya? wah, Mas Ari makin maju saja.”
“Iya. Dulu, aku paling jauh cuma sampai Singapura. Sekarang udah sampai London.”
“Oke, selesai! Satu jam lagi acaranya mulai. Haaah... aku jadi kangen mau dansa lagi. Mana partner kamu?” Tita melihat ke sekeliling ruang persiapan. Hanya ada mereka berdua.
“Thanks. Sebentar lagi dia kesini. Nah itu dia!” Grace menunjuk seorang pemuda yang muncul dari balik pintu.
“Grace, dia bukan bule?” Tita berbisik, terkejut mendapati pemuda berkulit sawo matang itu.
“Aku nggak pernah bilang dia itu bule. Mike, ini Tita. Tita, ini Mike. Dia dari Malaysia. Tapi, dalam kompetisi ini, dia partner aku untuk sekolah dansa kami,” Grace tersenyum senang.
Tita masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ada sedikit perasaan aneh di hatinya.
“Ta? Ada masalah?”
“Nggak kok.”
Kompetisi dimulai. Ballroom hotel bintang lima itu, kini dipenuhi pedansa-pedansa dari berbagai negara. Dan inilah saat yang ditunggu Grace dan Mike. Rumba.
Satu menit, irama Rumba yang syahdu mengantar Grace ke dalam dunianya. Setiap gerakan mereka lakukan dengan serasi. seolah mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sampai saat terakhir, Mike mengangkat tubuh mungilnya, Grace menangkap satu sosok yang tak asing baginya.
“Nice dance. Wish us luck,” suara Mike membuyarkan lamunan Grace.
“Yes. Thank you.” Grace menyambut uluran tangan Mike untuk keluar dari arena dansa.
 “Tita, tadi aku seperti melihat... Reza?” Grece setengah berbisik.
“Reza? Oh. Iya. Dia memang ada di sini.”
“Apa?” Grace meyakinkan.
“Iya. Mamanya yang minta dia kesini. Untuk lihat-lihat contoh kostum dansa. Oh, iya, desainer senior yang bantu aku merancang kostum kamu ini, kan Mamanya Reza.  Reza juga ikut bantu pilihin bahan yang pas. Kamu juga harus ucapkan terima kasih ke dia.”
Grace terpaku. Kemudian menatap kostumnya lekat-lekat.
“Reza...”
“Kenapa, Grace?”
“Nggak apa-apa.”
“Hmmm... Grace, aku boleh tanya?”
“Apa?”
“Kamu sama Mike, murni partner, kan?”
Grace mengerutkan dahi. Tak lama, senyumnya mengembang, mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
“Aku murni partner dia. Mike is single. Dia baik, bahkan sangat baik. Temenin dia dulu, ya? aku mau keluar sebentar. Disini terlalu ramai,” Grace tersenyum dan pergi menuju balkon.
Angin menerpa tubuh mungilnya. Grace berusaha menahan dinginnya udara malam itu, karena hanya di sanalah ia bisa menenangkan diri.
“Dia pasti masih di dalam. Menjalakan tugas dari Mamanya. Hmm...” Grace bergumam.
Grace mencoba mengendalikan perasaannya.
Aku ada di sini karena kamu. Bagaimanapun, selama aku mengecap kesuksesan di sini, selama itu pula, nama kamu ada di hati aku. Meskipun, mungkin bagi kamu, aku bukan siapa-siapa lagi.
Grace memejamkan mata dan berbisik dalam hati. Memorinya kembali melayang ke saat ia terpaku menatap poster Maroon Dance Academy. Hari itu, ia tengah berdoa, agar aplikasi yang ia ajukan seminggu sebelumnya diterima oleh pihak akademi. Reza tak tahu tentang hal itu. Ia ingin memberikan kejutan, dan berharap saat ia menerima kabar gembira bahwa ia diterima sebagai mahasiswi baru di sana, hal itu akan jadi kegembiraan pula bagi Reza, orang yang pertama kali mengenalkannya pada dunianya sekarang. Namun, harapan itu hancur, bersama kandasnya hubungan mereka. Bahkan Reza tak muncul di hari keberangkatannya.
Reza... bagi aku kamu tetap partner terbaikku.
“Excuse me, miss,” seorang pelayan memberikan selembar kertas kepada Grace.
Kamu belum berubah sejak terakhir kali aku lihat kamu dari anjungan bandara.
Grace mematung.
“Seorang pedansa yang bijak, tidak akan keluar hanya dengan kostum dansa yang terbuka di malam berangin seperti ini,” suara Reza membuat Grace membalikan badannya.
“Reza...” Grace berbisik sangat pelan.
“Kecuali dia masih ingin berdansa. If you don’t mind. Shall we dance?” Reza membungkuk mengulurkan tangan.

Comments

Popular Posts