Untuk Kaira
Kita duduk berhadapan. Sebuah amplop berpita marun kau sodorkan ke arahku. Langit malam ini begitu indah, tapi entah kenapa yang kau hadirkan justru kelabu di antara kita.
"Papa mau aku sendiri yang memberikan undangan ini ke kamu. Supaya tidak ada salah paham, katanya," matamu menatap tajam.
Aku tidak mengerti apa yang sedang kita lalui. Kata mereka cinta segitiga di dalamnya. Apakah ini benar, atau salah? Apakah ini amal, atau justru dosa besar?
"Hanya agar Kaira bisa menjalani sisa harinya dengan tenang," katamu, seperti kau yakin pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku hanya bisa diam, berusaha meredam sejuta makian yang mengantri di ujung lidah. Apa kau sadar siapa yang sedang kita tipu? Kenapa bahkan semua orang setuju?
"Kaira tidak mau menjalani perawatannya kalau aku tidak setuju bertunangan dengannya. Dia sekarat, Dina. Semua orang tahu itu. Kita hanya ingin dia bahagia menjalani sisa harinya. Setelah itu..."
Setelah dua tahun memilikimu. Setelah dua tahun mempertahankanmu, kini seseorang merebutmu dengan alasan ajal.
Aku menangis, menyadari yang sedang kita bicarakan adalah adikku sendiri. Adik kekasihmu, yang kini akan menjadi tunanganmu. Seseorang yang terbaring lemah di rumah sakit menunggu lupus menggerogotinya hingga maut.
Saat hari itu tiba, bisa kah kita tetap bersama? Meski aku tahu, hatimu hanya milikku.
***
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Comments
Post a Comment