Ditunggu Aina
Gadis berambut hitam panjang itu diam membisu. Aina namanya.
Matanya memandang jauh ke depan, menanti seseorang yang tak akan pernah datang.
"Selamat pagi Aina. Menunggu Linggo?"
tanyaku.
Kepalanya mengangguk, tapi tak sedetik pun
ia menoleh padaku. Di wajahnya, aku bisa melihat ada pancaran sinar yang selalu
bisa membuatku bahagia. Matanya berwarna
cokelat, kulitnya yang seharusnya berwarna sawo matang, nampak pucat.
“Aina makan dulu, ya. Mau aku suapi?”
tanyaku lembut.
Ia menggeleng. Masih, tapa memandang,
tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kadang aku berpikir, bagaimana Tuhan
mengirimkan malaikatnya ke neraka seperti ini. Apa mungkin Tuhan lupa? Kalau
iya, aku ingin sekali mengingatkan. Betapa Ia sudah bertindak salah dengan
mengirim Aina ke sini.
“Aina kalau nggak makan, nanti sakit,”
kataku.
Dia hanya diam. Tak bergeming. Sepertinya satu-satunya
hal yang ia pedulikan adalah Linggo, kekasih hatinya yang lama tak ia jumpai.
Tidak apa-apa. Aku tak masalah dengan
sikapnya. Semua penolakannya, itu karena ia mencintai kekasihnya sepenuh hati.
Aku mengagumi kesetiaannya.
“Aina adalah alasanku bertahan. Kesetiaannya
memberikan kekuatan yang laur biasa untukku. Aku bisa membayangkan dia
menungguku di depan pintu rumah, dengan pandangan kosong, menungguku pulang. Siapa
pun laiki-laki yang datang, tak akan ia hiraukan. Ia hanya ingin Linggonya
pulang. Ia menungguku pulang,” aku bersandar ke dinding bercat putih di
belakangku.
“Baik, Linggo, sekarang istirahat dulu,
ya? Ayo saya antar ke kamar,” gadis berjas putih yang sedari tadi menemaniku
merangkul lenganku tanpa ragu.
Tangan kanannya memeluk beberapa lembar kertas. Salah satu yang paling atas bertuliskan nama Linggo Darmawan. Namaku. Di bawah namaku ada nama Erotomania. Siapa itu, aku tak peduli. Yang penting, Aina menungguku di rumah dengan setumpuk cinta.
Comments
Post a Comment