Mungkin di Surga

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
***

“Maaf, aku rasa, hubungan kita tak bisa lebih jauh dari ini.”
Kalimat yang terucap dari bibirmu terus terngiang di kepalaku. Aku tak tahu apa yang merasukiku waktu itu, hingga aku nekat mengatakannya padammu.  Aku harusnya cukup tahu diri.
“Setelah semua obrolan yang kita punya, aku tahu aku menyukaimu. Bahkan lebih, aku mengagumimu. Aku...”
Kalimatku malam itu terpenggal oleh matamu yang teralih. Rangkulanmu merenggang, dan kau memutuskan beranjak.
“Kamu tahu, kalau aku menerima semua ini, berarti kita sudah sama-sama gila. Tidak bisa.”
Kau ingin menciumku. Tapi, tidak bisa. Setelah semua penolakanmu, kau pikir bibir ini masih bisa bersentuhan dengan manis bibirmu?
Aku mencintaimu. Meski diri ini terlalu kotor dan laknat. Meski tak ada ruang untukku di nirwana, cinta ini tetaplah cinta yang membutuhkan tempat di hatimu.

Setelah malam-malam bersama di dalam mimpi dan nyata, ternyata tak akan ada yang berubah. Hanya raga. Hanya aku, pelacur yang tak akan pernah jadi mempelaimu. Aku yang terus bertanya, mungkin di surga, kita bisa bersama.

***





Comments

Popular Posts