KONSER

 Jumri memandang ke arah panggung. Matanya memandang seorang penyanyi yang tidak lagi muda, tapi penampilannya tetap energik, lengkap dengan rambut gondrong sebahu. Suara dan lagu-lagunya akrab di telinga, karena hampir setiap hari lagu-lagu itu terdengar dari speaker laptop di kamar puteri kesayangnnya.
Kerumunan yang terhanyut dalam lagu, copet dan pelaku kriminal yang pasti juga sudah siaga, ketakutan-ketakutan yang kadang tidak beralasan, tentang bom misalnya, hinggap satu-satu di kepalanya. Namun, ada satu pikiran lagi yang membuatnya tak kalah gusar.
“Seandainya bisa ajak Dinda untuk nonton,” lalu bayangan puterinya yang berada ratusan kilometer darinya muncul.
Ah, susah memang kalau tugas jauh dari rumah. Jumri mencoba mengambil foto dengan ponsel pintarnya.
“Copeeet!!”
Gagal.
***
Kapan, giliranku? Nisa memejamkan mata di balik panggung.
Dia hafal mati setiap nada dan lirik yang terlantun dari pria paruh baya itu.
“Miss! Bertahun-tahun nyanyi lagu yang sama juga,” dahinya berkerut mendengar satu nada sumbang dari bibir penyanyi itu.
“Nis, microphone yang satu lagi disiapin! Terus nanti waktu break, yang itu diganti batrenya,” seorang pemuda dengan handy talkie di tangannya menyenggol gadis itu dari belakang.
“Oke, Mas!”
Tiga bulan, ini konser pertamanya sebagai kru panggung sang artis. Impiannya sederhana. Melangkah dari belakang panggung menuju gemerlap sorot lampu tempat yang layak bagi seorang penyanyi. Tapi, apa akan nada yang melirik seorang sarjana akuntansi yang menjelma menjadi pekerja seni dadakan? Seni mengganti baterai mic, seni mengatur kabel-kabel yang berserakan di panggung.
Gadis itu hanya bisa berharap, suatu hari, entah bagaimana ada seseorang yang menyadari bahwa senandungnya bisa lebih sempurna dari nada-nada false yang dilantunkan si penyanyi.
***
“Kujanjikan aku ada…”
Suasanya yang begitu syahdu tercipta, saat puluhan bibir di sekitar panggung ikut menyanyikan bagian terakhir lagu itu. Indah. Tidak merdu, karena sebagian pun menyanyikannya dengan sembarangan.
Bukan hanya suasananya, lirik lagunya pun mendukung. Romantis. Apalagi kalau di sebelahmu ada orang yang kamu cintai. Seseorang yang dengannya ingin kamu habiskan hidup. Lalu kamu bisa ikut menyanyikan lirik itu sambil menatap matanya.
“Kujanjikan aku ada…”
Rio menyanyi dengan lembut. Matanya bertemu dengan sebuah mata. Mata paling indah kedua setelah mata ibunya. Mata yang ingin ia lihat setiap pagi, sesaat setelah ia membuka matanya.
“Aku juga akan ada, selalu, di dekat kamu,” suara gadis itu lembut menyusup ke telinganya.
Namun mendadak semua hilang. Mata itu, suara itu. Digantikan dengan bisingnya alat-alat musik yang beradu dengan suara si penyanyi.
“Intan…”
Air matanya jatuh, mengenang sang tunangan yang menutup mata bulan lalu. Tak sadar, seseorang tengah memanfaatkan kesedihannya.
***
Kelebihan bekerja di tempat semacam ini, adalah kamu tidak perlu susah untuk menyaksikan penyanyi sekaliber Once Mekel bernyanyi. Tidak perlu basa-basi memesan makanan atau minuman untuk sekadar numpang duduk dan mikmati musik, atau berlomba-lomba mencari tempat strategis untuk mengambil foto. Kamu hanya harus menikmatinya.
Sayang, tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini.
“Mbak, boleh tolong lap lantai toiletnya? Becek,” seorang gadis dengan tas Guess menepuk bahu Gita dari dari belakang. Menyentuh dengan telunjuk tepatnya.
“Oh, iya, sebentar ya.”
Malam minggu, tapi ia terjebak di dalam toilet. Hanya sesekali ia bisa mengintip dari balik pintu, atau mencuri dengar lagu-lagu yang memang menghibur. Terutama untuk orang-orang sepertinya. Maklum hanya ini pekerjaan yang bisa ia dapat sebagai lulusan SD.
Aaahh… kamu masih harus bersyukur, Git. Ada banyak orang yang nggak bisa merasakan kesenangan seperti kamu sekarang. Bisiknya dalam hati.
“Let it bi… let it bi… der wil bi en enswer let it bi” meski tak mengerti arti lirik yang terdengar di telinganya Gita merasa lagu itu cocok untuk kondisinya saat ini.
Gaji pas-pasan, toilet bau, pelanggan yang tak jarang bawel dan ngomel saat bilik yang akan digunakan becek atau kotor, sejenak ingin dilupakannya semua itu. Setiap kali ada lagu yang mengena di hatinya, ia hanya ingin terpejam, ikut bersenandung kalau bisa, atau sekedar menikmati sambil mensyukuri kebahagiaan kecilnya.
Mbok… anakmu bahagia di Jakarta. Si Mbok juga bahagia, ya di sana.

***
Konser musik semacam ini memang ladang subur. Ada banyak orang yang terlalu larut dalam suara tabuhan drum atau lirik-lirik yang mudah dinikmati.
“Bisnisku menjagal, jagal apa saja…” seorang pemuda bersenandung di tengah kerumunan, mengikuti sang penyanyi yang sedang membawakan salah satu lagu yang pernah berjaya di eranya.
Malam ini sepertinya akan ada yang makan enak. Perutnya yang keroncongan, belum diisi dari pagi, mendadak terasa nyaman, dibayangi berapa banyak uang yang ada di dalam dompet yang menyembul dari balik celana jeans seorang penonton.
Hengki bekerja sendiri. Ia tak punya dan tak butuh komplotan. Semakin banyak yang bekerja, semakin sedikit yang di dapat, begitu prinsipnya. Maka, ia latih tangannya bertahun-tahun, supaya cepat dan halus gerakannya. Ia latih kakinya setiap pagi, supaya cepat larinya.
Tidak ada tempat untuk seorang mantan napi sepertinya di semua perusahaan yang coba ia masuki.
Ah, tetangga sialan!  Ia selalu memaki tiap kali teringat wajah mantan tetangga yang melaporkannya ke polisi lantaran mengira Hengki mengintip istrinya yang lagi mandi.
Tuntutan konyol. Tapi hukum tetap hukum, catatan tetap catatan. Identitasnya sekarang, mantan napi. Walaupun hanya satu minggu waktunya mendekam di penjara.
Sudah teranjur nyemplung. Di mata orang ia sudah jadi kriminal, maka, biar saja tetap jadi kriminal. Jadi, di sini lah ia. Di antara kerumunan penikmat musik. Diinjaknnya batang rokok terakhirnya.
Sliiiipp… tangannya dengan mulus menarik dompet itu dari celana si empunya yang sedang terhanyut dalam lagu romantis. Namun, malang, sangking padatnya, sikunya justru menyentuh lelaki tambun di belakangnya. Si lelaki memandangi tangan Hengki yang masih memegang dompet yang baru setengah keluar dari saku.
Sial! Tertangkap basah!
“Copeeeeet!!!!”
***
Di sudut lain area nongkrong anak muda yang masih dipadati kuruman segala usia, seorang gadis duduk menikmati cokelat panasnya.  Matanya berkeliling, telapak kakinya bergoyang-goyang, jarinya tak berhenti menari. Matanya sesekali terpejam, bibirnya ikut bersenandung bersama musik yang mengalun.
Sungguh, musik bukan satu-satunya yang ia nikmati di sini. Bahkan bukan alasan utamanya datang. Kalau hanya untuk mendengar Once menyanyi, ia bisa mengunduh semua albumnya dari internet. Sadis, tapi bukannya itu lah salah satu nikmat dan laknatnya teknologi?
Kerumunan, itu lah yang ia cari. Mata, emosi, tawa, suara-suara sumbang dari penonton yang ikut bernyanyi sudah jadi favoritnya sejak SMA. Ia mencoba membayangkan isi pikiran setiap orang di sekitarnya.
“Polisi yang rindu anak. Pemuda yang ditinggal mati tunangannya. Penjaga toilet yang penuh tahu bersyukur. Kru panggung bersuara emas. Pencopet yang sial. Selesai.”
Ia mengakhiri karangannya, tepat di tabuhan drum terakhir yang menutup live music malam itu.

Comments

Popular Posts