Harta Karun!
BUKAN MASALAH
“Kamu
mau makan apa? Biar aku pesenin.”
“Aku
nasi goreng aja. Makasih, ya.”
Romantisme
sepasang muda mudi seperti ini lazim terjadi dalam hari-hariku. Bukan, bukan
aku. Namun dua sahabat yang duduk berhadapan denganku. Ben akan dengan sangat
senang hati melayani pujaan hatinya, Sera. Memesankan makan siang, membawakan
buku-buku, mengantar-jemput kuliah, dan segudang kegiatan lain yang konon
paling bisa membuat hati seorang gadis meleleh.
“Ben,
titip pesenin bakso, donk!” aku memasang senyum paling manis untuk menyuap Ben.
“Pesen
sendiri!” tentu saja tidak laku.
“Makanya,
Na, punya pacar jangan jauh-jauh!” Sera mengambil ponselku yang tergeletak di
atas meja kantin.
Pacaran
jarak jauh. Itu lah yang sedang aku dan Kata jalani saat ini. Aku dan
kehidupanku sebagai mahasiswi kedokteran di Jakarta mencoba menyatu dengan
dunianya sebagai calon insinyur di Jepang.
“Hai,
Na, Ra! Boleh gabung?” Joakin salah satu mahasiswa terbaik di kelasku muncul
entah dai mana.
“Hai,
Jo! Silakan!”, aku bergeser agar Jo bisa duduk di sebelahku.
“Kalian
udah pesan makan?” Jo nampak bersemangat.
“Gue
udah. Jiana tuh, belum,” Sera melempar tatapan meledek ke arahku.
“Oh,
mau kupesenin sekalian? Kebetulan aku baru mau pesan, nih,” tanya Jo tulus.
“Boleh.
Tolong pesenin gue bakso, satu porsi, ya!”
Jo
mengangguk tanpa banyak protes. Melihat kondisi aman, Sera melepas tawanya
tanpa suara.
“Kenapa
lo?” kurebut ponselku dari tangannya. Curiga kalau ia menertawakan sesuatu yang
ada di dalam sana.
“Lo
gila, ya? Hampir seluruh kelas tahu kalau Jo naksir lo. Sedangkan respon lo ke
dia –minta pesenin bakso?”
“Gue
salah? Dia menawarkan bantuan gitu. Dia juga nawarin lo.”
“Jiana
Rarasatiku sayang, dia lagi PDKT ke lo. Tapi, karena status lo adalah pacar
orang yang sekarang lagi nun jauh di sana, ya nggak boleh menyolok,” Sera
cekikikan.
“Terus
gue mesti gimana? Batalin pesenan gue?”
Sera
memutar bola matanya.
“Menurut
gue, Jo ga jelek-jelek banget kok. Pintar lagi. Lo belum lupa dong nilai ujian
anatominya yang paling bagus seangkatan?” Sera berkedip sebelah mata.
“Sialan
lo! Terus Kata mau dikemanain? Susah-susah gue pacaran 3 tahun dari kelas
sebelas, masa mau dibuang gitu aja?” aku mengelus layar ponselku yang berlatar
fotoku dan Kata di Bandara tahun lalu.
“Lo
naif, atau bodoh? Lo kira Kata di Jepang lurus-lurus aja? Nggak ada yang bisa
nolak pesona Padang-Belanda di muka Kata, Na. Kalau kita nggak sahabatan dari
SMP juga, gue mau rebut dia dari lo,” Sera berbisik di kalimat terkahir.
“Gue
dan Kata udah komitmen, Ra. Gue yakin, kalau gue setia, dia juga bakal setia.”
“Ini
baksonya, Na,” Jo kembali bersama Ben dan makanan kami.
“Makasih.
Gue harus bayar berapa, nih?” aku siap mengeluarkan uang dari dompet.
“Nggak
usah, Na. Kapan-kapan aja lo gantian traktir gue,” tangan Jo memaksaku
menyimpan kembali dompet dan ponselku di tas.
Ya, ini hanya makan
siang. Jo dan –mungkin –rasa sukanya tidak akan berpengaruh padaku. Tiba-tiba
aku teringat satu hal. Foto yang ditautkan salah satu teman peremuan Kata di
dinding Facebook-nya. Mungkin Kata
tidak sadar, bahwa gadis itu berbagi momen makan malam mereka berdua di
jejaring sosial. Makan siang berempat, tentu bukan masalah.
Comments
Post a Comment