Baper

Melihat tanggal posting terakhir yang adalah tahun lalu, jadi merasa kasihan dan sayang kalau bahan yang kali ini nggak digunakan untuk mengisi blog. Yap, kali ini jangan berharap cerita fiksi. Saya cuma lagi mau curcol.


Ini tentang konser tari yang saya tontong malam Mingu lalu. Sebut saja Danceventure oleh Indonesia Dance Company. 😅
Ini adalah pertama kalinya saya menonton konser tari profesional. Nggak banyak yang bisa dibicarakan tentang konsernya, karena jujur, bukan promosi apalagi endorse (walaupun ngarep bisa jadi bagian dari mereka), saya dibuat tidak berkedip apalagi ngantuk selama pementasan. Mungkin juga karena pesan-pesan yang ada dalam setiap tarian disampaikan dengan baik sampai membawa penonton ikut hanyut. Sampai kaki saya pegal sendiri lihat mereka menari nyaris nggak pakai berhenti.

Sebagian besar tarian bercerita tentang harapan dan nilai hidup sehari-hari. Saya pribadi merasa "diterangkan" oleh tema-tema yang diangkat (mungkin karena baper juga ya). Dan ya, kemarin adalah pertama kalinya saya paham tentang pementasan yang tidak lagi bicara soal keseragaman gerak, tapi juga rasa. Saya tahu, para penari senior tersebut berasal dari disiplin yang berbeda-beda, dan itu terlihat dari cara mereka menari. Sekilas akan terkesan kalah kompak dari penari-penari cilik yang ikut meramaikan panggung, tapi mereka jelas tidak kehilangan kekompakan dalam menyampaikan emosi dan pesan dari setiap tarian yang mereka bawakan (lagi-lagi baper). Semua itu didukung pula oleh pencahayaan, tata panggung dan kostum yang sederhana tapi nggak main-main.

Masuk ke curhatan.

Seperti yang saya ketik di atas, saya nggak akan bicara banyak tentang teknis pementasannya. Yang mau saya bagikan adalah pengalaman... apa ya, spiritual? (kesannya berat banget) -yah, apalah sebutannya itu. Apapun itu, itulah yang membuat saya baper sampai gagal move on.

Baper pertama.
Sebelumnya, saya memang mengikuti kuis untuk memenangkan satu tiket untuk menonton konser itu. Antara niat dan tidak sebenarnya, karena saya punya beberapa pengalaman yang mengecewakan tentang kuis semacam itu. Bukan karena ditipu atau bagaimana, tapi seringnya waktu sudah berhasil mendapat undangan, tugas negara (alias dinas koas) memanggil atau tidak mendapat restu, jadi batal lah saya hadir. Yah, mengingat pengalaman-pengalaman yang saya yakin membuat panita dan kontestan lain gondok itu, saya tidak terlalu berusaha keras dalam kuis kali ini. Saat peserta lain mengirim lebih banyak gambar agar nama mereka masuk lebih banyak dalam undian, saya hanya memasang satu -yang penting terdaftar. Hasilnya sudah pasti, tiket gratis melayang ke orang-orang yang berusaha lebih.

Kesempatan menonton gratis melayang, saya tidak lantas langsung memesan tiket. Lagi-lagi takut waktunya tidak memungkinkan. Tapi kemudian satu hari sebelum pementasan, saya melihat posting panitia dan tergeraklah untuk memesan tiket. Kurang dari 12 jam sebelum pementasan. Lagi-lagi saya nggak berharap banyak. Sempat kesulitan menghubungi panitia (yang saya yakin juga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan semua keperluan pentas), deg-degan karena takut tidak dapat izin karena mau pergi sendiri, sampai was-was karena tidak bisa lagi memilih kursi. Puji Tuhan, akhirnya bisa juga pergi.

Ditemani ayah (yang  tumben-tumbenan mau ikut anaknya nonton konser), saya berangkat. Mungkin lebay, tapi untuk bagi orang semacam saya yang hidupnya penuh dengan ketidakpastian, memegang tiket konser tari pertama di depan gedung pementasan 1 jam sebelum acara dimulai adalah satu kebahagiaan tersendiri. Begitulah baper pertama terjadi.

Baper kedua.
Karena semua serba tidak direncanakan dengan matang dan lebih ke dadakan, saya tidak lagi berpikir akan mengajak atau bertemu teman di sana. Sampai waktu akan masuk gedung, saya melihat sosok yang familiar. Guru balet, tante, salah satu dari orang-orang saya anggap ibu. Beliau di sana bersama beberapa murid yang juga saya kenal. Rasanya seperti anak itik yang baru ketemu sama induknya.

Saya jarang memeluk orang, bahkan terkesan anti-pelukan, tapi melihat mereka, saya bisa menjadi tarzan yang teriak, lari, kemudian memeluk mereka tanpa ragu. Mungkin itu yang terjadi waktu kita  tanpa sadar kita merindukan orang-orang dan kenangan yang lama menghilang dari hari-hari kita.

Baper ketiga.
Dari kecil, saya punya mimpi untuk jadi balerina (tolong jangan ketawa). Sanking semangatnya sampai dapat 6 jahitan di dagu akibat sok-sokan mengikuti gerakan ice skating di tv (tolong juga jangan ditanya kenapa mimpi jadi balerina tapi yang ditonton acara ice skating). Sampai akhirnya sempat merasakan jadi balerina abal-abal yang split pun ga becus, hobinya bolos dan ngeluh saat latihan, saya masih terus bermimpi. Salah satu goal dari cita-cita saya adalah bergabung di grup tari profesional. Jadi menonton mereka di panggung, rasanya seperti mengingatkan saya pada impian masa kecil dan semua keluh kesah saat semua harus tertunda.

Baper keempat.
Seperti yang terketik di atas, sebagian besar tarian malam itu bercerita tentang harapan dan nilai hidup sehari-hari. Bagaimana bertahan di saat hujan badai untuk menyambut pelangi di ujungnya. Bagaimana kita harus terus mampu melihat harapan di antara semua ketidakmungkinan. Bagaimana kita tidak perlu merasa lemah dan sendiri, karena kita memiliki orang-orang di sekitar kita dan tentu saja Tuhan yang senantiasa mendengar doa-doa kita.

Semua kejadian menuju dan di hari itu mengajarkan kalau Tuhan tidak tidur. Dia mendengar semua mimpi dan kerinduan di hati kita, bahkan yang hanya dibisikkan sesekali. Dia menjawab semua pertanyaan kita tepat waktu. Dia menyusun semua dengan cara yang terbaik bagi kita.

Pertanyaan saya dijawab dan hati saya ditenangkan melalu konser ini. Semoga kalian yang membaca pun ikut diterangkan melalui tulisan ini.:)

Comments

Popular Posts