cinta gue jatoh di angkot
Cinta Gue Jatuh di Angkot
Jatuh cinta, atau kejatuhan cinta berjuta rasanya. Ada senang, sedih, bingung, kesal. Apalagi kalau orang yang membuat kita jatuh cinta, ternyata adalah seorang yang pernah terbayang saja tidak. Bahkan, sekalipun malapetaka paling memalukan datang, kalau cinta sudah bicara, jadi indah banget..
kluk..kluk..kluk..
jam waker super antik pemberian almarhum sang Opa membangunkan Ken dari tidur lelapnya.
”Whoa... nggak ada bunyi yang lebih keren, ya? Dasar jam butut!” Ken memaki jam malang itu.
Kalau saja ia mengerti bahasa jam, mungkin jam unik berbentuk ayam jago itu akan bernyanyi, ”Semua terserah padamu, aku begini adanya. Kuhormati semua protesmu. Apapun yang akan kau katakan.” sayangnya tak ada yang pernah bisa mengerti bahasa jam.
Ia segera bergegas dari tempat tidurnya, cuci muka, sikat gigi, nggak pake mandi dan langsung menuju lemari pakaian dengan setengah berlari. Hari ini ia akan kembali mengayunkan kaki menuju sekolah ’tercintanya’.
”Pagi, Ma!” Ken menyomot sepotong roti dari meja makan.
”Pagi! Ken, makannya di meja donk! Nggak baik ah!” tegur sang Mama.
”Nggak keburu, Ma. Ken pergi dulu, ya? Dah!” setelah berpamitan ia pun bergegas berangkat menuju sekolahnya.
”Makanya jangan nonton bola samapai tengah malam!” masih terdengar pesan Mama Ken yang setengah berteriak.
Nampaknya, ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi gadis berambut panjang ini. Pasalnya, baru saja ingin naik angkot, tali sepatu yang terlepas sudah membuat tubuhnya limbung dan... kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan?
”Aduh! Ah, payah! Kualat lagi sama thu jam Opa!” keluhnya sambil berusaha bangkit setelah tersungkur tepat di depan pintu angkot.
”Bisa saya bantu, Mbak?” sebuah suara serak- serak basah bicara padanya.
”Hah? Nggak- nggak usah!” Ken mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk melihat keadaan lututnya yang mengenaskan.
Ia sudah membayangkan adanya seorang cowok ganteng nan tajir di hadapan matanya. Tentu saja itu tak akan terjadi! Mana ada sich, cowok ganteng dan tajir mau naik angkot. Dan cewek manis tapi jorok itu harus menghadapi kenyataan bahwa yang barusan bertanya adalah si ’kenek’ angkot.
”Kakinya berdarah, Mbak,” kata si kenek.
”Saya juga tahu, Mas kalau ini berdarah. Makanya saya bersihkan,” jawabnya dengan cuek
”oooo.. jadi naik angkot saya nggak, Mbak?”
”Ya jadi lah! Masa ya, jadi donk! Minggir,” katanya dengan lagak preman.
Selama di angkot, Ken terus diperhatikan oleh si kenek angkot. Ia begumam dalam hati..
”Ada, ya perempuan cakep, tapi tingkahnya kayak preman pasar?”
Sementara Ken berpikir dalam otaknya..
”HUH! Ngapain ni kenek ngeliatin gue mulu?! Ngefans?? Hah nggak oke dech! Masa fans gue kenek angkot?!“
Dasar! Orang- orang keras kepala.
Dan begitulah sampai di sekolahnya. Ken terus menggerutu, dan si kenak ikut sibuk memperhatikan makhluk cantik nan kotor di hadapannya.
”Stop Pak! Minggir!” teriaknya.
Sang kenek dan seluruh orang yang ada di sekitarnya hampir kena serangan jantung dan gangguan pendengaran karenanya. Tapi, ya, namanya juga Ken. Dengan cuek, di turun melewati si kenek dan memberikan uang lima ribu rupiah padanya.
”Mbak, belum ada kembaliannya,” si kenek menyodorkan kembali uang itu.
”Saya juga belum punya uang kecil. Udah sini uangnya! Ntar pulang sekolah jemput saya di sini! Skalian saya saya kasi uangnya” dan ia segera berlari ke gerbang sekolah yang tinggal berjarak 50 meter dari tempatnya berdiri. Meninggalkan si kenek yang terbengong melihat gadis yang baru saja menjadi penumpangnya. TANPA BAYAR!
”Berangkat, Pak. Ntar kita kesini lagi,” lapornya pada si supir.
Sementara itu, Ken sampai di muka gerbang dengan nafas tersegal.
”Pak...huf huh.. jangan..huf ditutup ..huf.. dulu..huf..”
”Eh, Neng Ken. Sudah terlambat nih, Neng,” sapa Pak Ujang.
”Saya tahu, Pak. Tapi, saya boleh masuk, ya?”
”Maaf, Neng. Tapi udah telat 20 menit. Saya ga boleh mengizinkan Neng Ken masuk,”
”Yah si Bapak. Jadi gimana?”
”Ya, si Neng pulang saja.”
”Pulang? Huf.. si Bapak tega!” dengan lesu ia melangkah gontai menjauhi gerbang.
”Gue ga mungkin pulang. Bisa kena semprot sama nyokap. Kemana ya?”
Untuk beberapa saat Ken nampak hilir mudik bak seterika yang tengah berusaha membuat selembar karton kusut jadi sehalus sutra. Nggak nyambung ya? Maaf.
”Neng!” suara Pak Ujang kembali membuyarkan pikirannya.
”Kenapa, Pak? Berubah pikiran?”
”Nggak mungkin, Neng. Itu, Bu Lady lagi jalan ke sini. Inspeksi pagi, Neng,” Pak Ujang memberikan informasi penting.
”Waduh! Mampus deh gue! Gaswat kalau itu Sleeping Witch mergokin gue telat. Bisa kena skors gue!” Ken panik, ”Pak, kalau dia tanya ada yang telat apa nggak, bilang nggak ada, ya?!” segera setelah menyampaikan mandat itu, Ken bersembunyi di balik semak- semak.
”Selamat pagi, Pak!” sapa Bu Lady, atau yang ’akrab’ disapa SleepinG Witch oleh Ken.
Pasalnya, kepala sekolah yang satu ini, terkenal killer, dan kalau beliau sudah menjelaskan segala macam tentang peraturan atau sopan santun, dijamin 1000% murid- murid pasti tidur.
”Selamat pagi, Bu!”
”Ada siswa yang terlambat hari ini?” tanya Bu lady seperti biasa.
”Hmm.. ti..tidak ada, Bu,” Pak Uajng tergagap.
”Bagus kalau begitu. Saya lanjut inspeksi dulu. Mari, Pak!”
”Oh, iya, Bu. Mari!” pria berumur 55 tahun itu menarik nafas lega.
”Makasih, ya, Pak. Saya pergi dulu. Ntar kalau ketahuan tuh Ibu, bisa berabe. Mari, Pak!” Ken pamit.
Putri bungsu dari dua bersaudara itu, sedang apes nampaknya. Dari pagi, ada saja yang membuatnya kesal.
”Ah, makan bakso aja, ah!” setelah lelah berjalan ia pun ’hinggap’ di salah satu gerobak bakso yang sedang mangkal.
”Baksonya satu, ya. Sambalnya yang banyak!” pesannya.
Huff... dasar, anak satu itu, kalau udah ketemu bakso, udah deh, lupa segalanya. Dan sekali lagi, hari itu, dia sedang sial.
”Eh, mbak yang tadi pagi naik angkot saya, kan? Yang belum bayar?” suara itu membuat Ken tersedak
Serentak semua orang yang sedang ada di sekitar situ menoleh ke arah Ken.
”Uhuk.. hah? Loh? Mas kenek yang tadi pagi?” tanyanya heran, malu, sekaligus kesal,”Kok disini?”
”Mestinya saya yang tanya ke Mbak. Anak SMA jam segini kok malah makan bakso? Bolos, ya?”
”Heh! Sembarangan! Saya telat, jadi nggak boleh masuk sekolah! Enak aja nuduh orang sembarangan!”
”Oh, maaf, Mbak. Oh, iya. Mana ongkos angkot yang tadi pagi?” tagih kenek angkot itu.
”Nih!” Ken menyodorkan uang dua ribu rupiah,”Eh, si Mas belom jawab pertanyaan saya. Ngapain kenek angkot disini?”
”Oh, itu, angkot saya mogok di sana. Saya lagi nyari air,”
”Air? Oh, buat radiator, ya?”
”Kok tahu?”
”Haha.. gini- gini masalah mesin saya tahu sedikit,”
Dan begitulah, percakapan ringan meluncur satu- persatu dari keduanya. Sampai...
”Heh! Ucok! Mana airnya?” sang supir yang sedari tadi menunggu, menghampiri si Ucok, menagih air yang sedari tadi ditunggu.
”Oh, maaf, Pak. Ini,”Ucok menyodorkan sebotol air kepadanya.
”Ucok? nama lo Ucok?” tanya Ken penasaran.
”Bukan. Itu nama panggilan saya di angkot. Oh, iya. Saya Alfia,”
”Hah? Alfia? Kok kayak nama cewek sih? Nama gue Ken,”
”Lha, nama kamu sendiri kayak nama cowok,”
Dan keduanya terdiam sesaat. Masing- masing berpikir
Orang tua gue dapat wangsit dari mana, ya? Ngasi nama sampai antik begini.
Dan keduanya tertawa.
”Hahahahahahahahahha... kok bisa, ya?” keduanya bicara dalam waktu bersamaan.
Dasar jodoh kali, ya? Hoh, well.. sekali lagi ini tentang kesialan Ken.
”Ken?!” sebuah suara lagi- lagi mengagetkan Ken.
”Mama? Ngapain di sini?” ken menghampiri sang empunya suara.
”Kamu yang ngapain di sini. Sama... Alfia?”
”Saya?” sambut Alfia tak percaya.
Ketiganya kembali diam. Bingung.
”Iya, kamu Alfia, kan? Bintang sinetron yang di TV?” Mama Ken mengenali Alfia sebagai salah satu idolanya.
”Bintang? Sinetron? Kok bisa?” tanya Ken tak percaya.
”Ya ampuuuuunnn!!!!! Kok bisa kebetulan sekali. Saya ngikutin sinetron kamu yang judulnya itu... o, iya ’Dikejar si Kamtib’!” Mama Ken nampak antusias.
”Oh, maksud Tante ’Dikejar si Cantik’?” Alfia memperbaiki.
”Iya! Itu maksud saya!”
”Ma, Mama yakin dia itu..” Ken belum selesai bicara, tapi sudah keburu di cut sama Ibunda tercinta.
”Aduh, Ken! Sejak kapan kamu tahu tentang dunia pesinetronan? Kamu, kan sibuk sama tim bola kesayangan kamu, kalau nggak, sama game komputer kamu. Tapi, kok kalian bisa berdua di sini?”
”Itu dia, Ma! Dia ini kenek angkot! Yang tadi pagi Ken naikin. Yang bikin Ken telat dan nggak boleh masuk sekolah! Uuppss..”
“Apa?! Terlambat lagi? Disuruh pulang lagi? Ken! Huf.. maaf dek Alfia,” dan selanjutnya Ken pasrah, “ Ken sini! Kamu malu- maluin aja, deh. Masa aktor ganteng dibilang kenek angkot? Terus, kenapa nggak langsung pulang?” omelan meluncur dari mulut Mama Ken.
“Ma, kalau Ken langsung pulang, Mama nggak bakal ketemu Alfia, kan?” Ken ngeles dengan nada kesal.
“Iya, kamu benar kali ini. Ya, sudah. Ayo!” kemudian Ibu rumah tangga yang awet muda itu menyeret putrinya ke samping Alfia, “Hmm.. Alfia, foto sama anak Tante sebentar, ya?” lalu ia mengambil hp dari tasnya.
Dan...klik..
Terpotret lah muka dua anak muda itu tersenyum kecut. Grogi, kesal, bingung, pokoknya raut muka mereka menggambarkan campur aduknya perasaan mereka. kayak rujak aja.
“Kenapa lo nggak bilang kalau lo artis?” Ken berbisik pada Alfia.
“Gue lagi nyamar.”
“Buat apa?”
”Ya, you know lah. Tuntutan peran. Gue lagi latihan untuk peran di film layar lebar gue yang baru dirilis. Gue dapat peran utama, loh!”
”Tapi perannya jadi kenek angkot. Iya, kan?” Ken menebak dengan nada mengejek.
Tapi, nampaknya Alfia tidak menangkap maksud Ken.
”Yup! Lo tahu aja? Nah, sebagai aktor profesional yng kualitas aktingnya sudah terbukti dari tahun ke tahun, gue harus mempertahankan kualitas gue donk. Ya, begini caranya. Merasakan hidup sebagai seorang kenek angkot.” cowok ganteng nan kepedean itu bercerita panjang lebar.
”Udah berapa lama lo nyamar jadi kenek angkot?” tanya Ken.
”Ya, sekitar seminggu,” jawab Alfia enteng. ”yang jelas kurun waktu satu minggu itu udah berhasil membuat gue melihat keajaiban dunia yag kedelapan. Elo.”
”What?!” Ken setengah berteriak sangking tak percaya.
Masa dirinya dibilang keajaiban dunia yang kedelapan?
”Nggak usah lebay deh! Gue nyebut lo keajaiban dunia yang kedelapan, kan juga karena kebiasaan lo sendiri. Bayangin! Baru seminggu gue jadi kenek angkot, udah empat kali gue liat lo lari sprint dari gang rumah lo ke angkot lantaran kesiangan. Terus, penampilan lo, berantakan kayak orang nggak mandi. Apa beneran lo ga mandi, ya? Apalagi pagi ini. Lo sampai jatuh tersungkur di depan angkot gue. Pake marah- marah lagi!”
Ken hanya bisa menganga mendengar pernyataan Alfia. Bukan karena tersinggung, melainkan takjub, karena 90% peryataan itu tepat. Apalagi pernyataan dan pertanyaan ketiga yang sukses membuat Ken membaui badannya sendiri.
” Tapi, yang lebih ajaib, kelakuan lo udah berhasil membuat gue menemukan pemeran utama cewek untuk jadi pasangan gue di film layar lebar gue nanti!” Alfia kembali membuat Ken tak percaya,” hhehe.. bercanda kali! Masa gue mau main film sama cewek preman kayak lo! Sebenernya gue mau jadi pacar lo!”
BINGO!! Sekali lagi ken tercengang!
“Kalau nyamar kenapa lo ngasi tahu nama asli lo?” Ken berusaha kembali terlihat tenang.
“Ya, dari dari pada lo manggil gue dengan nama Ucok?”
“Hah.. kehidupan macam apa ini? Setau gue, tingkah lo yang terlalu dibuat- buat ini cuma ada di adegan sinetron, bukan kisah nyata,”
“Ini, kan juga bukan kisah nyata,” Alfia menggoda Ken.
Kalau dipikir- pikir, cowok oke itu benar juga. Kisah hidup mereka yang sedang mereka jalanin ini, kan nggak lebih dari sebuah cerpen. Kisah fiksi yang dibuat tidak berdasarkan kisah nyata.
”Jadi, biasanya ending cerita kayak gini apa?” tanya Ken polos.
”Hmm.. biasanya, ada dua kemungkinan. Happy ending atau sad ending. Lo marah terus pergi, atau... lo terima cinta gue, dan jadi pacar seorang artis,” kata- kata Alfia agaknya sedikit menggetarkan hati Ken yang selama ini hanya terfokus pada game atau basket.
Jadi kalau lagunya afgan judulnya ’Wajahmu Mengalihkan Duniaku’ judul lagu yang ada di hati Ken judulnya ’Tingkahmu Memusingkan Otakku’. Jauh hubungannya. Tapi, itulah kalau orang jatuh cinta. Nggak peduli sekonyol apa tingkahnya, sebodoh apa pikirannya. Yang penting ada si dia. Iya, kan?
”Lo maunya sad atau happy ending?” tanya Ken.
”Kalau Mama sih, milih happy ending. Kan, lumayan punya calon menantu artis,”
”Mama nimbrung aja!” gerutu Ken.
”Saya setuju sama Tante!” Alfia bersemangat.
Hah.. itulah, lagi- lagi cerita yang berakhir dengan happy ending. Tapi, tunggu dulu! Mari kita lihat ke arah kamar Ken...
”Hah...uhuuk.. dasar anak muda jaman sekarang. Siapa bilang, kalau nggak ada yang mengerti bahasa jam? Selama ini, kan Opa selalu curhat sama si Jago. Iya, kan?”
”Betul master! Tapi, sekarang saya yang pengin curhat. gara- gara mengikuti perintah dan skenario Master untuk telambat membangunkan Ken, saya jadi sakit hati..Cucu master itu lho.. teganya, dirinya, teganya teganya teganya teganya....tega dech si Ken bilangin saya jam butut..”
”Sudah.. tabahkan dirimu,ya.. kamu kan tahu, saya paling demen sama sinetron,”
Untung aja kondisi rumah itu sedang kosong. Kalau sampai ada yang melihat adegan tadi... nggak kebayang deh apa yang bakal terjadi....
.
Jatuh cinta, atau kejatuhan cinta berjuta rasanya. Ada senang, sedih, bingung, kesal. Apalagi kalau orang yang membuat kita jatuh cinta, ternyata adalah seorang yang pernah terbayang saja tidak. Bahkan, sekalipun malapetaka paling memalukan datang, kalau cinta sudah bicara, jadi indah banget..
kluk..kluk..kluk..
jam waker super antik pemberian almarhum sang Opa membangunkan Ken dari tidur lelapnya.
”Whoa... nggak ada bunyi yang lebih keren, ya? Dasar jam butut!” Ken memaki jam malang itu.
Kalau saja ia mengerti bahasa jam, mungkin jam unik berbentuk ayam jago itu akan bernyanyi, ”Semua terserah padamu, aku begini adanya. Kuhormati semua protesmu. Apapun yang akan kau katakan.” sayangnya tak ada yang pernah bisa mengerti bahasa jam.
Ia segera bergegas dari tempat tidurnya, cuci muka, sikat gigi, nggak pake mandi dan langsung menuju lemari pakaian dengan setengah berlari. Hari ini ia akan kembali mengayunkan kaki menuju sekolah ’tercintanya’.
”Pagi, Ma!” Ken menyomot sepotong roti dari meja makan.
”Pagi! Ken, makannya di meja donk! Nggak baik ah!” tegur sang Mama.
”Nggak keburu, Ma. Ken pergi dulu, ya? Dah!” setelah berpamitan ia pun bergegas berangkat menuju sekolahnya.
”Makanya jangan nonton bola samapai tengah malam!” masih terdengar pesan Mama Ken yang setengah berteriak.
Nampaknya, ini akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi gadis berambut panjang ini. Pasalnya, baru saja ingin naik angkot, tali sepatu yang terlepas sudah membuat tubuhnya limbung dan... kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan?
”Aduh! Ah, payah! Kualat lagi sama thu jam Opa!” keluhnya sambil berusaha bangkit setelah tersungkur tepat di depan pintu angkot.
”Bisa saya bantu, Mbak?” sebuah suara serak- serak basah bicara padanya.
”Hah? Nggak- nggak usah!” Ken mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk melihat keadaan lututnya yang mengenaskan.
Ia sudah membayangkan adanya seorang cowok ganteng nan tajir di hadapan matanya. Tentu saja itu tak akan terjadi! Mana ada sich, cowok ganteng dan tajir mau naik angkot. Dan cewek manis tapi jorok itu harus menghadapi kenyataan bahwa yang barusan bertanya adalah si ’kenek’ angkot.
”Kakinya berdarah, Mbak,” kata si kenek.
”Saya juga tahu, Mas kalau ini berdarah. Makanya saya bersihkan,” jawabnya dengan cuek
”oooo.. jadi naik angkot saya nggak, Mbak?”
”Ya jadi lah! Masa ya, jadi donk! Minggir,” katanya dengan lagak preman.
Selama di angkot, Ken terus diperhatikan oleh si kenek angkot. Ia begumam dalam hati..
”Ada, ya perempuan cakep, tapi tingkahnya kayak preman pasar?”
Sementara Ken berpikir dalam otaknya..
”HUH! Ngapain ni kenek ngeliatin gue mulu?! Ngefans?? Hah nggak oke dech! Masa fans gue kenek angkot?!“
Dasar! Orang- orang keras kepala.
Dan begitulah sampai di sekolahnya. Ken terus menggerutu, dan si kenak ikut sibuk memperhatikan makhluk cantik nan kotor di hadapannya.
”Stop Pak! Minggir!” teriaknya.
Sang kenek dan seluruh orang yang ada di sekitarnya hampir kena serangan jantung dan gangguan pendengaran karenanya. Tapi, ya, namanya juga Ken. Dengan cuek, di turun melewati si kenek dan memberikan uang lima ribu rupiah padanya.
”Mbak, belum ada kembaliannya,” si kenek menyodorkan kembali uang itu.
”Saya juga belum punya uang kecil. Udah sini uangnya! Ntar pulang sekolah jemput saya di sini! Skalian saya saya kasi uangnya” dan ia segera berlari ke gerbang sekolah yang tinggal berjarak 50 meter dari tempatnya berdiri. Meninggalkan si kenek yang terbengong melihat gadis yang baru saja menjadi penumpangnya. TANPA BAYAR!
”Berangkat, Pak. Ntar kita kesini lagi,” lapornya pada si supir.
Sementara itu, Ken sampai di muka gerbang dengan nafas tersegal.
”Pak...huf huh.. jangan..huf ditutup ..huf.. dulu..huf..”
”Eh, Neng Ken. Sudah terlambat nih, Neng,” sapa Pak Ujang.
”Saya tahu, Pak. Tapi, saya boleh masuk, ya?”
”Maaf, Neng. Tapi udah telat 20 menit. Saya ga boleh mengizinkan Neng Ken masuk,”
”Yah si Bapak. Jadi gimana?”
”Ya, si Neng pulang saja.”
”Pulang? Huf.. si Bapak tega!” dengan lesu ia melangkah gontai menjauhi gerbang.
”Gue ga mungkin pulang. Bisa kena semprot sama nyokap. Kemana ya?”
Untuk beberapa saat Ken nampak hilir mudik bak seterika yang tengah berusaha membuat selembar karton kusut jadi sehalus sutra. Nggak nyambung ya? Maaf.
”Neng!” suara Pak Ujang kembali membuyarkan pikirannya.
”Kenapa, Pak? Berubah pikiran?”
”Nggak mungkin, Neng. Itu, Bu Lady lagi jalan ke sini. Inspeksi pagi, Neng,” Pak Ujang memberikan informasi penting.
”Waduh! Mampus deh gue! Gaswat kalau itu Sleeping Witch mergokin gue telat. Bisa kena skors gue!” Ken panik, ”Pak, kalau dia tanya ada yang telat apa nggak, bilang nggak ada, ya?!” segera setelah menyampaikan mandat itu, Ken bersembunyi di balik semak- semak.
”Selamat pagi, Pak!” sapa Bu Lady, atau yang ’akrab’ disapa SleepinG Witch oleh Ken.
Pasalnya, kepala sekolah yang satu ini, terkenal killer, dan kalau beliau sudah menjelaskan segala macam tentang peraturan atau sopan santun, dijamin 1000% murid- murid pasti tidur.
”Selamat pagi, Bu!”
”Ada siswa yang terlambat hari ini?” tanya Bu lady seperti biasa.
”Hmm.. ti..tidak ada, Bu,” Pak Uajng tergagap.
”Bagus kalau begitu. Saya lanjut inspeksi dulu. Mari, Pak!”
”Oh, iya, Bu. Mari!” pria berumur 55 tahun itu menarik nafas lega.
”Makasih, ya, Pak. Saya pergi dulu. Ntar kalau ketahuan tuh Ibu, bisa berabe. Mari, Pak!” Ken pamit.
Putri bungsu dari dua bersaudara itu, sedang apes nampaknya. Dari pagi, ada saja yang membuatnya kesal.
”Ah, makan bakso aja, ah!” setelah lelah berjalan ia pun ’hinggap’ di salah satu gerobak bakso yang sedang mangkal.
”Baksonya satu, ya. Sambalnya yang banyak!” pesannya.
Huff... dasar, anak satu itu, kalau udah ketemu bakso, udah deh, lupa segalanya. Dan sekali lagi, hari itu, dia sedang sial.
”Eh, mbak yang tadi pagi naik angkot saya, kan? Yang belum bayar?” suara itu membuat Ken tersedak
Serentak semua orang yang sedang ada di sekitar situ menoleh ke arah Ken.
”Uhuk.. hah? Loh? Mas kenek yang tadi pagi?” tanyanya heran, malu, sekaligus kesal,”Kok disini?”
”Mestinya saya yang tanya ke Mbak. Anak SMA jam segini kok malah makan bakso? Bolos, ya?”
”Heh! Sembarangan! Saya telat, jadi nggak boleh masuk sekolah! Enak aja nuduh orang sembarangan!”
”Oh, maaf, Mbak. Oh, iya. Mana ongkos angkot yang tadi pagi?” tagih kenek angkot itu.
”Nih!” Ken menyodorkan uang dua ribu rupiah,”Eh, si Mas belom jawab pertanyaan saya. Ngapain kenek angkot disini?”
”Oh, itu, angkot saya mogok di sana. Saya lagi nyari air,”
”Air? Oh, buat radiator, ya?”
”Kok tahu?”
”Haha.. gini- gini masalah mesin saya tahu sedikit,”
Dan begitulah, percakapan ringan meluncur satu- persatu dari keduanya. Sampai...
”Heh! Ucok! Mana airnya?” sang supir yang sedari tadi menunggu, menghampiri si Ucok, menagih air yang sedari tadi ditunggu.
”Oh, maaf, Pak. Ini,”Ucok menyodorkan sebotol air kepadanya.
”Ucok? nama lo Ucok?” tanya Ken penasaran.
”Bukan. Itu nama panggilan saya di angkot. Oh, iya. Saya Alfia,”
”Hah? Alfia? Kok kayak nama cewek sih? Nama gue Ken,”
”Lha, nama kamu sendiri kayak nama cowok,”
Dan keduanya terdiam sesaat. Masing- masing berpikir
Orang tua gue dapat wangsit dari mana, ya? Ngasi nama sampai antik begini.
Dan keduanya tertawa.
”Hahahahahahahahahha... kok bisa, ya?” keduanya bicara dalam waktu bersamaan.
Dasar jodoh kali, ya? Hoh, well.. sekali lagi ini tentang kesialan Ken.
”Ken?!” sebuah suara lagi- lagi mengagetkan Ken.
”Mama? Ngapain di sini?” ken menghampiri sang empunya suara.
”Kamu yang ngapain di sini. Sama... Alfia?”
”Saya?” sambut Alfia tak percaya.
Ketiganya kembali diam. Bingung.
”Iya, kamu Alfia, kan? Bintang sinetron yang di TV?” Mama Ken mengenali Alfia sebagai salah satu idolanya.
”Bintang? Sinetron? Kok bisa?” tanya Ken tak percaya.
”Ya ampuuuuunnn!!!!! Kok bisa kebetulan sekali. Saya ngikutin sinetron kamu yang judulnya itu... o, iya ’Dikejar si Kamtib’!” Mama Ken nampak antusias.
”Oh, maksud Tante ’Dikejar si Cantik’?” Alfia memperbaiki.
”Iya! Itu maksud saya!”
”Ma, Mama yakin dia itu..” Ken belum selesai bicara, tapi sudah keburu di cut sama Ibunda tercinta.
”Aduh, Ken! Sejak kapan kamu tahu tentang dunia pesinetronan? Kamu, kan sibuk sama tim bola kesayangan kamu, kalau nggak, sama game komputer kamu. Tapi, kok kalian bisa berdua di sini?”
”Itu dia, Ma! Dia ini kenek angkot! Yang tadi pagi Ken naikin. Yang bikin Ken telat dan nggak boleh masuk sekolah! Uuppss..”
“Apa?! Terlambat lagi? Disuruh pulang lagi? Ken! Huf.. maaf dek Alfia,” dan selanjutnya Ken pasrah, “ Ken sini! Kamu malu- maluin aja, deh. Masa aktor ganteng dibilang kenek angkot? Terus, kenapa nggak langsung pulang?” omelan meluncur dari mulut Mama Ken.
“Ma, kalau Ken langsung pulang, Mama nggak bakal ketemu Alfia, kan?” Ken ngeles dengan nada kesal.
“Iya, kamu benar kali ini. Ya, sudah. Ayo!” kemudian Ibu rumah tangga yang awet muda itu menyeret putrinya ke samping Alfia, “Hmm.. Alfia, foto sama anak Tante sebentar, ya?” lalu ia mengambil hp dari tasnya.
Dan...klik..
Terpotret lah muka dua anak muda itu tersenyum kecut. Grogi, kesal, bingung, pokoknya raut muka mereka menggambarkan campur aduknya perasaan mereka. kayak rujak aja.
“Kenapa lo nggak bilang kalau lo artis?” Ken berbisik pada Alfia.
“Gue lagi nyamar.”
“Buat apa?”
”Ya, you know lah. Tuntutan peran. Gue lagi latihan untuk peran di film layar lebar gue yang baru dirilis. Gue dapat peran utama, loh!”
”Tapi perannya jadi kenek angkot. Iya, kan?” Ken menebak dengan nada mengejek.
Tapi, nampaknya Alfia tidak menangkap maksud Ken.
”Yup! Lo tahu aja? Nah, sebagai aktor profesional yng kualitas aktingnya sudah terbukti dari tahun ke tahun, gue harus mempertahankan kualitas gue donk. Ya, begini caranya. Merasakan hidup sebagai seorang kenek angkot.” cowok ganteng nan kepedean itu bercerita panjang lebar.
”Udah berapa lama lo nyamar jadi kenek angkot?” tanya Ken.
”Ya, sekitar seminggu,” jawab Alfia enteng. ”yang jelas kurun waktu satu minggu itu udah berhasil membuat gue melihat keajaiban dunia yag kedelapan. Elo.”
”What?!” Ken setengah berteriak sangking tak percaya.
Masa dirinya dibilang keajaiban dunia yang kedelapan?
”Nggak usah lebay deh! Gue nyebut lo keajaiban dunia yang kedelapan, kan juga karena kebiasaan lo sendiri. Bayangin! Baru seminggu gue jadi kenek angkot, udah empat kali gue liat lo lari sprint dari gang rumah lo ke angkot lantaran kesiangan. Terus, penampilan lo, berantakan kayak orang nggak mandi. Apa beneran lo ga mandi, ya? Apalagi pagi ini. Lo sampai jatuh tersungkur di depan angkot gue. Pake marah- marah lagi!”
Ken hanya bisa menganga mendengar pernyataan Alfia. Bukan karena tersinggung, melainkan takjub, karena 90% peryataan itu tepat. Apalagi pernyataan dan pertanyaan ketiga yang sukses membuat Ken membaui badannya sendiri.
” Tapi, yang lebih ajaib, kelakuan lo udah berhasil membuat gue menemukan pemeran utama cewek untuk jadi pasangan gue di film layar lebar gue nanti!” Alfia kembali membuat Ken tak percaya,” hhehe.. bercanda kali! Masa gue mau main film sama cewek preman kayak lo! Sebenernya gue mau jadi pacar lo!”
BINGO!! Sekali lagi ken tercengang!
“Kalau nyamar kenapa lo ngasi tahu nama asli lo?” Ken berusaha kembali terlihat tenang.
“Ya, dari dari pada lo manggil gue dengan nama Ucok?”
“Hah.. kehidupan macam apa ini? Setau gue, tingkah lo yang terlalu dibuat- buat ini cuma ada di adegan sinetron, bukan kisah nyata,”
“Ini, kan juga bukan kisah nyata,” Alfia menggoda Ken.
Kalau dipikir- pikir, cowok oke itu benar juga. Kisah hidup mereka yang sedang mereka jalanin ini, kan nggak lebih dari sebuah cerpen. Kisah fiksi yang dibuat tidak berdasarkan kisah nyata.
”Jadi, biasanya ending cerita kayak gini apa?” tanya Ken polos.
”Hmm.. biasanya, ada dua kemungkinan. Happy ending atau sad ending. Lo marah terus pergi, atau... lo terima cinta gue, dan jadi pacar seorang artis,” kata- kata Alfia agaknya sedikit menggetarkan hati Ken yang selama ini hanya terfokus pada game atau basket.
Jadi kalau lagunya afgan judulnya ’Wajahmu Mengalihkan Duniaku’ judul lagu yang ada di hati Ken judulnya ’Tingkahmu Memusingkan Otakku’. Jauh hubungannya. Tapi, itulah kalau orang jatuh cinta. Nggak peduli sekonyol apa tingkahnya, sebodoh apa pikirannya. Yang penting ada si dia. Iya, kan?
”Lo maunya sad atau happy ending?” tanya Ken.
”Kalau Mama sih, milih happy ending. Kan, lumayan punya calon menantu artis,”
”Mama nimbrung aja!” gerutu Ken.
”Saya setuju sama Tante!” Alfia bersemangat.
Hah.. itulah, lagi- lagi cerita yang berakhir dengan happy ending. Tapi, tunggu dulu! Mari kita lihat ke arah kamar Ken...
”Hah...uhuuk.. dasar anak muda jaman sekarang. Siapa bilang, kalau nggak ada yang mengerti bahasa jam? Selama ini, kan Opa selalu curhat sama si Jago. Iya, kan?”
”Betul master! Tapi, sekarang saya yang pengin curhat. gara- gara mengikuti perintah dan skenario Master untuk telambat membangunkan Ken, saya jadi sakit hati..Cucu master itu lho.. teganya, dirinya, teganya teganya teganya teganya....tega dech si Ken bilangin saya jam butut..”
”Sudah.. tabahkan dirimu,ya.. kamu kan tahu, saya paling demen sama sinetron,”
Untung aja kondisi rumah itu sedang kosong. Kalau sampai ada yang melihat adegan tadi... nggak kebayang deh apa yang bakal terjadi....
.
Comments
Post a Comment