^^
Menjadi Sahabat Seorang Rea
Percaya dengan anggapan sahabat yang baik mengerti segalanya tentang kita, walau sesuatu yang tak pernah kita ungkapkan? Aku adalah salah satu orang yang percaya dengan anggapan itu. Aku yakin benar, bahwa aku mampu mengetahui isi hati sahabat terbaikku, dan begitu pun sebaliknya.
Sampai datanglah seorang sahabat entah dari mana yang makin meyakinkan sekaligus mematahkan kepercayaanku tersebut. Ia adalah sahabat yang baik. Ia memang tak terlalu sering bercerita tentang dirinya, tapi keceriaanya yang apa adanya membuatku merasa bahwa aku mengenalnya, sangat mengenalnya.
”Ai!” Clirea menepuk bahuku dari belakang, di suatu pagi yang cerah.
”Hai! Bikin kaget aja!”
”Hmmm... hihi.. lagi apa sih?” tanyanya mengintip ’Buku Inspirasi’ kesayanganku.
”Biasa, cari ilham buat cerpen.”
“Tentang apa lagi nih?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
”Ada ajah!” aku bangkit dari bangku yang sedari tadi kududuki.
”Huuuu! Nika! Tunggu,” Clirea mengejarku yang berlari meninggalkannya.
”Ayo, kejar kalau bisa!” aku berbalik dan berteriak sambil menahan tawa.
Bagiku, Rea adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untukku. Ia sahabat yang sangat baik. Ia bisa mengerti aku, besedia menemaniku saat suka maupun sedih. Ya, tapi tetap saja tak ada manusia yang sempurna. Terkadang, kesal juga aku dibuatnya. Ia selalu berbicara seolah tanpa dipikir terlebih dahulu. Tak jarang orang- orang tersinggung karena ucapannya yang terkesan ketus dan angkuh saat pertama kali kenal. Aku yakin kalau mereka dapat mengenal Rea lebih jauh seperti aku, mereka akan menemukan sebuah ketulusan dari anak yang selalu nampak riang ini.
Seperti kataku, Rea juga adalah sosok yang misterius. Ia tak pernah banyak bicara tentang kesehariannya atau hal- hal yang ringan sekali pun. Siapa anak cowok yang dia suka pun tak pernah ia ceritakan. Meski begitu, Rea tetaplah gadis lugu yang mudah ditebak. Gelagatnaya akan berbeda antara bila ia senang atau tidak senang. Dari sana aku selalu mencoba menebak apa isi hatinya termasuk menebak siapa orang yang ia sukai.
”Hosh...hosh.. Nik! Ga kuat lagi, nih!” Rea teregah- engah sambil meremas kerah bajunya.
Rea memang bukan orang yang tahan bila harus diforsir untuk berlari atau mengerjakan pekerjaan fisik yang berat. Ia mengaku sering merasa sesak di dadanya, padahal ia tidak mempunyai riwayat asma.
”Ok! Jalan pelan aja! Gue tunggu!” aku berhenti di salah satu sudut lapangan basket yang sedari tadi kami jadikan arena kejar- kejaran.
”Bener, ya?! Ga tahan lagi nih! Sesak.”
Ia berjalan gontai ke arahku. Tapi, sesuatu di luar dugaanku terjadi. Rea mungkin tak sanggup lagi hingga jatuh terduduk di semen.
”Eh! Rea?! Lo nggak apa- apa kan?” aku berlari menghampirinya.
”Hmm.. sesak!” ia masih meremas kerah bajunya.
”Duduk aja dulu!” aku menuntunnya ke sebuah bangku panjang dari semen yang terdapat di tepi lapangan.
”Kita ke UKS aja, ya?” aku mengajaknya.
”Nggak! Abis ini fisika. Lusa, kan ulangan. Udah, ah. Ke kelas aja! Bentar lagi bel masuk.” Rea menarik tanganku dengan satu tangannya. Sementara tangan yang satu lagi masih memegangi dadanya yang sesak.
Aku terpaksa menurut. Lagi pula ia benar, jika ia berada di UKS kemungkinan ia tak akan bisa mempelajari lebih jauh bahan yang akan di gunakan dalam ulangan fisika lusa.
Aku kagum. Rea mampu mengatasi rasa sesaknya untuk mengikuti pelajaran kali itu dengan tetap bersemangat. Ia memperhatikan setiap poin yang diberikan Pak Alvin. Rea memang dikenal sebagai siswa berprestasi di sekolah. Entah sudah berapa banyak piala yang ia sumbangkan pada sekolah. Hebatnya lagi, ia bukan hanya berprestasi di satu bidang. Melainakan hampir semua bidang ia kuasai. Sastra, seni, SAINS, dan masih banyak lagi.
![]()
Keesokan siangnya, adalah siang yang merubah segalanya. Bermula saat kami melihat keramaian di sekitar kamar mandi anak cowok.
”Rea! Buruan ke WC cowok!” Ardi terengah menghampiri aku dan Rea yang terbengong di depan kelas.
”Kenapa?” tanya Rea acuh.
”Vallen sama Kia berantem!”
”Terus?” Rea bertanya tak mengerti.
”Ya, mereka ngerebutin elo!”
”HAH?!” mulut kami berdua ternganga.
”Oh. Mana mereka?” Rea berusaha kembali tenang.
Ardi, aku dan Rea bergegas menuju kamar mandi anak cowok. Kami hanya berhenti di depan, tidak masuk. Karena sudah nampak di depan kami dua cowok penting di sekolah yang sedang berkelahi.
”Hei!” Rea setengah berteriak.
Tak ada yang mendengar sangking ributnya. Ada yang panik, dan malah ada yang ’menyemangati’.
”WOI!!!!!” kali ini Rea mengerahkan seluruh tenaganya.
Semua terbengong, kaget melihat siapa yang berteriak. Suara Rea yang khas membuat semua spontan diam. Satu yang diingat hampir semua siswa SMA Citra, kalau mantan sekertaris OSIS ini mulai berteriak, artinya ia benar- benar marah. Dan jangan bermain- main dengan Rea yang sedang mengamuk. Bisa- bisa muka mereka bonyok seperti baru dihajar Chris John.
”Ngapain kalian?” Rea kembali tenang.
”Ini...” Vallen mencoba menjelaskan.
”Hah... kalian nih ada- ada aja. Mau gulat itu di ring. Ya, paling nggak di lapangan gitu. Bukannya di WC! Bau kan yang nonton?” Rea berbicara seolah tak mengerti yang terjadi.
”Bukannya gitu, Re. Kita cuma mau ngebuktiin siapa yang pantes ngedapetin lo.” Kia menjelaskan sambil mencoba berdiri.
Pipinya jelas lebam akibat saling hajar denagn Vallen.
”Oh.” Rea makin acuh dan jutek.
“Gue kasihan sama kalian. Kalian sahabatan dari SD, dua- duanya berprestasi. Satu kapten basket, satunya mantan ketua OSIS. Tapi, sekarang muka kalian bonyok gitu hanya karena memperebutkan sesuatu yang kurang penting?” Rea berbicara seolah mereka makhluk paling rendah.
Yang lain kontan kembali terkejut. Kata- kata itu dengan ringan keluar dari mulutnya.
”Maksud lo?” Vallen nampak kesal.
”Teman- teman! Kita itu baru kelas 3 SMA! Ya, menurut gue nggak penting banget kalau kalian, kita, di umur segini, berantem sama sahabat sendiri karena rebutan cewek? Lagian, cewek atau cowok bukan barang yang bisa diperebutkan dengan cara rendah kayak gini!” kata- kata tajam itu kembali Rea lontarkan.
Aku sebagai sahabatnya, yang merasa paling mengenal dia seolah dihantam guntur. Seorang Rea bicara seperti itu pada dua cowok oke yang memperebutkan dia? Kalau aku jadi Rea, yang diperebutkan bak permata, mungkin aku akan sangat tersanjung. Tapi, sayang aku tak seberuntung Rea.
Bukan hanya dalam masalah cowok atau prestasi, kehidupan kami pun jelas berbeda. Rea adalah anak tunggal, kesayangan Papa Mamanya yang seorang pebisnis dan dokter. Keluarganya lebih dari cukup. Sedang aku, anak sulung yang harus rela berbagi semua dengan empat orang adik. Aku bertanggung jawab atas esmua yang ada si rumah. Kalau ada yang tidak beres, ya, aku yang kena omel. Keluargaku pun lebih sederhana dari Rea. Hmm... itu semua membuat ku kadang iri padanya.
Satu- satunya yang dapat kubanggakan adalah Ino. Pacar yang paling aku sayangi- sayangnya dua hari ini dia tidak masuk sekolah karena sedang keluara kota untuk menghadiri pemakaman kerabat dekatnya. Ya, seberuntung apapun Rea, ia belum pernah menemukan pasangan untuk dijadikan pacar. Kenapa? Ya, karena, seperti yang dia katakana tadi. Pacaran disaat SMA amat sangat tidak penting.
”Lo ngomong mikir nggak sih? Kita berdua duel buat lo! Lo malah bilang kita rendah? Punya otak nggak lo?!” Kia emosi.
”Sekarang gue tanya, siapa yang nggak punya otak di antara kita bertiga? Gue? Apa gue salah, kalau gue bicara seperti tadi pada dua orang sahabat yang rela mempertaruhkan persahabatan mereka, hanya untuk seorang cewek yang, gue akui jauh dari sempurna? Apa dengan begini kalian menunjukkan kalian punya otak yang sehat, gitu?” Rea masih bicara dengan enteng.
”Dasar cewek gila! Nyesel gue pernah suka sama lo sampai duel begini!” Vallen pergi menembus gerombolan anak- anak lain yang asik menyaksikan ’pidato’ Rea.
”Gue kecewa sama lo!” Kia ikut berlalu.
”Huuuu...” teriak anak- anak yang tidak puas dengan hasil akhir duel itu.
”Re? Bukannya lo suka sama Kia?” tanyaku begitu tak ada orang di sana.
”Nggak. Siapa bilang gue suka sama mereka? Udah, ah. Ngapain urusin orang tolol kayak mereka? Kantin yuk. Masih ada tiga menit sebelum istirahat selesai. Gue mau beli es krim.” Rea menarikku berbalik.
”Kok lo bisa ngomong segampang itu sih?” tanyaku sam tak percaya.
”Hmm... ya menurut gue itu semua nggak penting aja,” masih dijawab dengan enteng.
”Kadang gue sering bertanya dalam hati gue, kenapa elo nggak bisa menghargai dan mensyukuri apa yang lo punya. Secara, lo anak tunggal, cewek cantik, pinter, ya keluarga lo bahagia, banyak cowok yang suka sama lo. Tapi, menurut gue, lo itu terlalu cuek!”
”Hmm.. terus?” Rea masih acuh.
”Re! Bisa nggak ngomong thu sambil lihat ke orang ngajak lo ngomong? Gue bukan batu!” entah kenapa aku jadi emosi menanggapi tingkah Rea.
”Oke. Gue udah balik badan. Terus?”
”Hah! Kadang gue capek, Re. Gue capek terus dibanding- bnadingain sama lo. Banyak yang bertanya- tanya, ’kok bisa ya, Clirea yang nyaris perfect itu sahabatan sama Nika yang biasa- biasa aja?’”
”Lo peduli sama omongan orang?” Rea masih acuh.
Baginya pembicaraan seperti ini (yang sudah sering kami bicarakan), hanyalah kekonyolan yang seharusnya ditertawakan.
”Ya, lo enak! Lo yang dibangga- banggain, sedangkan gue? Gue objek yang perlu dipertanyakan kegunaannya!” aku setengah berteriak.
”Kok lo jadi marah gitu? Sebenernya masalah lo apa?” Rea berlagak bingung.
”Ya, udah lah Re. Kayaknya gue emang nggak bisa ngerti lo lagi. Gue capek, Re. Selama ini yang gue rasain, nggak ada hubungan timbal balik di persahabatan kita. Selama ini gue berusaha ngertiin sikap lo yang cuek dan dingin, tapi, kayaknya lo nggak bisa ngerti gue,”.
”Gue nggak ngerti,” kata Rea sembari memiringkan leher.
”Lo emang ga pernah ngerti. Maaf, Re. Sekali lagi gue capek! Nggak ada yang bisa ngerti gue. Semua permasalahan gue! Semua kekuranagn gue! Gue Cuma tong sampah tempat menampung semua keluh kesah! Gue nggak berarti!” aku berteriak di depan muka Rea yang bingung.
”Apa salahnya menjadi Tong sampah, kalau itu membuat diri kita lebih berarti? Gue seneng jadi Tong Sampah. Artinya orang percaya sama gue,” Rea seolah belum paham.
”Tapi gue manusia Rea! MANUSIA! Gue juga butuh didengar! Dimengerti!” aku berlalu.
”Nik? Apa seseorang yang mencoba mengerti harus balik dimengerti?” Rea setengah berteriak.
Tapi kata- katanya menusuk jantungku.
”Re, coba pikirkan semua ini pakai otak, pakai hati! Jangan selalu pakai teori!” aku berteriak, tak perduli berapa yang memandangiku.
Entah lah, rasanya semua yang ingin aku ungkapkan selama ini keluar begitu saja. Semua perasaan kecewa, sakit hati.
”Ok! Maaf kalau selama ini gue udah ngerepotin. Gue emang bukan sahabat yang baik kali ya? Gue Cuma cewek yang selalu berpikir pakai teori, bukan otak dan hati,” Rea berjalan gontai di sampingku.
Tapi, entah kenapa siang ini menjadi siang yang berat. Baru saja memasuki kelas, Fieta and the gank sudah mampang di depan pintu. Mengahadang Rea yang aku tahu pasti sedang nggak mood mengahadapinya.
Aku memperhatikan dari balik pilar, apa yang terjadi dengan Rea dan Fieta.
”Belagu banget sih, lo?! Diperebutkan dua cowok malah ngomong gitu?” Fieta menatap Rea sinis.
”Gue nggak mau punya urusan sama lo!” Rea menyerobot kerumunan Fieta dan dayang- dayangnya.
”Heh! Dasar nggak tau diri!” Fieta menjambak rambut Rea dari belakang.
Anehnya Rea tetap tenang, walaupun jelas tergambar kebencian di matanya.
”Lepasin!” Rea meminta dengan santai.
”Nggak! Vallen mutusin gue biar bisa dapetin lo! Kia mutusin Isel juga buat lo! Gue nggak terima kalau lo ngerendahin mereka kayak tadi!” Fieta berteriak di telinga Rea.
”Lo merasa ’tinggi’?” Rea masih tak acuh, menahan rasa sakit.
”Setidaknya gue masih lebih ’tinggi’ dari lo!” Fieta kembali berteriak.
Seperti kerasukan setan, entah kenapa, Rea meraih gunting yang ada di meja dekatnya. Dengan secepat kilat, ia berbalik dan memelintir tangan Fieta. Dan saat ada kesempatan balik menjambak rambutnya.
”Kalau bicara hati- hati!” Rea berbicara dengan tatapan kosong.
”Heh! Apa- apaan lo!? Jangan macam- macam sama rambut gue!” Fieta menjerit.
”Lo bahkan nggak lebih tinggi dari anak paling kuper di sekolah ini!”
”Cres!!” Rea menggunting rambut Fieta yang panjang sebahu jadi hanya sebatas telinga.
”sekolahin baik- baik mulut lo! Baru urus rambut nggak berharga lo ini!” Rea masih santai.
”Aaaagh!” Fieta menjerit. ”Dasar reseh! Kurang ajar!” dan segudang makian kasar lain keluar dari mulut gadis centil itu.
Lalu ia berlari sambil menangis ke WC. Sementara Rea masih tak berekspresi. Tak lama ia menyusul Fieta. Langkahnya panjang- panjang. Ia tak memperdulikan guru yang sudah berdiri di depan kelas.
Aku berlari mengikuti Rea di belakang.
”Lo nyari urusan sama gue. Sekarang terlalu tanggung untuk lo mundur dan menangis. Tapi, gue tau kok, lo udah terlalu sering susah, sampai Mami lo pun nggak bisa membedakan mana yang lelaki baik, dan yang mana lelaki beristeri.” Rea lagi- lagi tak acuh.
”Apa sih mau lo?!”
”Kasi ini ke Mami lo itu. Bilang jangan jadi perusak rumah tangga orang!” Rea melempar beberapa lembar foto.
”Heh! Jangan pernah menghina nyokap gue! Dasar nggak tahu diri!” Fieta kembali menyerang Rea.
Kali ini Rea kehabisan kesabaran. Ia kembali memelintir tangan Fieta dan menjatuhkannaya ke lantai.
”Heh! Lepasin!” Fieta meringis.
”Gue udah berusaha memperingatkan nyokap lo secara halus. Begitu pun elo! Gue sabar menghadapi kenyataan gue harus rela satu kelas sama anak dari perusak rumah tangga Papa Mama gue! Sekarang kesabaran gue udah habis!” aku merasa dihantam guntur lebih dasyat.
”Jadi lo yang selama ini ngirim SMS ancaman ke Mami?” Fieta keget bukan kepalang.
Dengan tatapan penuh kebencian, Rea menyeret Fieta. Mencengkeram tangannya. Ia hampir akan membenturkan kepala Fieta ke dinding kalau Kia dan Vallen tak kembali lewat di depan kamar mandi kami.
”Woi! Rea! Lo bener- bener udah gila ya?” Vallen menarik tangan Rea dari rambut Fieta.
”Lepas!” pinta Rea dengan nada datar.
Aku hanya bisa diam tertegun. Tak terasa air mataku menetes, melihat Rea melepaskan semua kekecewaan yang selama ini ia pendam. Aku jatuh terduduk saat melihat Rea yang tak berdaya karena sesak nafas yang kembali mendera, dicengkeram Vallen dan Kia yang mencoba menenangkannya.
”Re, Re, tenang,” Kia mengelus rambut Rea.
”Lepasin!” Rea makin tak berdaya.
Sementara pandangannya masih kosong. Rea juga menangis. Dalam tatapan nanar itu ia menangis sejadinya. Seolah telah melakukan sesuatu yang paling rendah.
”Nik! Ngapain lo di situ! Jangan diam aja dong!” Vallen menyadarkanku.
Aku bangkit memeluk Rea.
”Re, tenang! Kenapa lo nggak pernah cerita? Gue bukan sahabat yang baik! Gue pikir lo terlalu ceria dan hidup lo terlalu sempurna. Lo punya Mama Papa yang sayang dan care sama lo. Kenapa lo ga bilang kalau lo nyimpan masalah seberat ini? Please, Re, tenang dulu! Ge janji bakal ngasi semua yang lo mau! Tapi, sekarang tenang!” aku menangis lagi.
”Nika! Maaf ya. Rea emang nggak punya otak! Jangan nangis lagi! Nika cari aja sahabat lain yang buat Nika ketawa!” ia berbisik,
”Nggak, Re! Lo yang selama ini buat gue ketawa. Buat gue tersenyum! Nggak ada yang lebih baik dari lo,”
”Makasih. Nika, maaf. Tapi, titip, ya. Jagain Ino! Rea.. Rea sayang sama Ino,” dan tak lama Rea jatuh pingsan.
![]()
Sudah dua hari ini Rea dirawat di rumah sakit. Kondisi fisik dan mentalnya belum juga pulih. Dokter bilang ia menderita depresi berat. Hampir gila. Ditambah lagi, ternyata ia mengidap kanker paru- paru. Sementara itu, Mama Papa nya berunding secara serius.
Aku hanya bisa melihat Rea yang murung terbaring lemah di temat tidur rumah sakit. Diikat karena sering mengamuk. Aku merasa tak berguna. Aku bisa tak tahu kalau sahabatku menderita.
Rea selama ini tahu kalau Mami Fieta punya hubungan khusus dengan Papanya. Ia sempat mengambil gambar mereka berdua di beberapa tempat dengan kamera kesayangannya. Sejak saat itu lah, aku melihat ada sesuatu yang berubah. Sikapnya makin dingin terhadap Fieta.
Gue nggak nyangka, hidup Rea ternyata lebih rumit dari yang pernah gue sesali.
”Nik?” Ino menepuk bahuku dari belakang.
“Kamu udah pulang?”
”Baru aja sampai. Aku khawatir sama Rea dan kamu. Jadi dari bandara aku langsung minta diantar ke sini. Gimana keadaan Rea..?”
”Kondisinya belum membaik.”
”Apa yang mau kamu omongin tentang Rea?”
“Hmm..” aku diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ino. “Sebelum pingsan Rea mengucapkan kata- kata yang.. dia bilang di sayang sama kamu..”
”Hah?! Jadi..”
”Kenapa..?”
”Ini..” Ino menunjukkan inbox di hp nya.
Semua berisikan SMS Ino saat menyatakan cinta pada Rea dan bagaimana Rea menolaknya dengan halus.
”Sms- sms itu, aku kirim ke dia..” kata- kata Ino terhenti.
”Tepat dua hari sebelum kamu kirim ke aku.. dua hari sebelum hari jadi kita..? kamu tega Ino!”
”Tapi, itu kisah lama. Rea nolak aku karena kamu. Karena dia tahu kamu suka dan sayang sama aku. Dia yang ngeyakinin aku untuk jadian sama kamu! Dan sekarang aku tahu Rea bener. Aku sekarang bener- bener sayang kamu, bukan Rea. Dia itu masa lalu. Sekarang dia sahabat kita, kan? Aku nggak pernah bermaksud mainin kamu.”
”Tapi, kamu mainin Rea! Kamu bikin Rea sakit. Dia sayang sama kamu!”
Aku berlari meninggalkan Ino yang tertegun.
”Om, Tante, maaf Nika pamit dulu. Harus pulang,” aku berpamitan pada orang tua Rea.
”Iya. Makasih banyak ya, Nik!” Mama Rea memelukku.
”Sabar ya, Tan!”
Aku meninggalkan rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Bayangkan, selama ini aku bahkan tak tahu siapa yang sebenarnya disukai Rea. Aku justru bermesraan dengan Ino di depan Rea. Hebatnya Rea tidak pernah komentar atau terlihat sedih.
Hari itu benar- benar tak terlupakan.
”Halo? Iya bu. Iya, ini saya sedang mengantar non Nika pulang. Iya bu. Iya,” Pak Kardi, supirku nampaknya baru saja menerima telpon dari Mama.
”Kenapa, Pak?” tanyaku.
”Mama non Nika nanyain udah sampai mana, Non,” Pak Kardi menoleh ke spion tengah.
Saat itulah konsentrasinya terhambur dan tak sempat mengerem saat ada mobil dari jalur berlawanan menghantam mobil kami.
”Pak! Awas!” teriaku.
![]()
Kini tiga tahun berselang sejak peristiwa berat itu. Kenangan manis tentang Rea, kina hanya tinggal kenangan di balik dua bola mata baruku. Bola mata yang tadinya milik Rea.
Kecelakaan hari itu, membuatku tak bisa lagi menikmati indahnya dunia. Aku hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit yang sama dengan Rea. Tapi, sekelilingku gelap. Mataku buta.
Harapanku saat itu hanyalah seorang dermawan yang mau mendonorkan matanya untukku. Doaku terjawab. Seminggu kemudian, dokter mengatakan padaku, bahwa ada seseorang yang kornea matanya cocok denganku, akan menyumbangkan matanya untukku. Orang itu adalah Rea.
Seminggu terkulai di rumah sakit yang sama, aku dan Rea memang tak saling berkomunikasi. Aku terlalu shock dengan kondisiku sendiri. Sampai tak tahu bahwa kondisi Rea terus memburuk.
”Rea meninggal tadi pagi. Pesan terakhirnya, dia mau kalau matanya diberikan untuk kamu, Nika,” Mama Rea menangis saat membawakan kabar itu bersama dokter yang merawatku.
Pagi itu juga, aku masuk ke ruang operasi. Di sampingku, tentu saja jasad Rea yang telah membeku. Operasi tak berjalan begitu lama. Yang membuatku tak sabar adalah hasilnya.
Nyatanya operasi itu berhasil, kini aku dapat melihat terangnya dunia. Dan aku juga dapat membaca surat terakhir Rea.
Dear Nika...
Kalau lo udah bisa baca surat ini, berarti perjuangan gue nggak sia- sia. Gimana rasanya melihat dengan kornea mata gue? Hehe..
Hmm.. gue hanya mau minta maaf, Nik. Selama ini, gue nggak bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Nggak bisa ngertiin lo. Yang bisa gue lakuni cuma nyusahin lo. Huf.. tapi, gue juga udah capek, Nik. Nahan semua sesak di dada gue. Kayaknya ini emang saatnya gue pergi.
Nika, gue harap yang gue lakukan ini bisa membayar semua hutang gue ke lo. Hutang sebagai sahabat yang baik, yang mau mengerti. Terima kasih karena lo mau nerima gue apa adanya.
Sekali lagi Nik. Mungkin lo udah bosen dengan kata- kata gue ini. Tapi, Nik, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita menutupi ketidaksempurnaan kita dengan membuat orang lain merasa sempurna. Gue sayang sama lo.
Best friend forever. See you in the heaven sis..
Love,
Clirea
Entah sudah berapa kali kertas lusuh itu kubaca isinya. Dan setiap kali itu terjadi, aku selalu menangis. Ingat betapa bodohnya aku menyia-nyiakan persahabatan Rea yang ternyata amat tulus, hanya untuk rasa iri.
”Re, lo bahagia, kan di sana?” aku bergumam saat kembali membuka album foto kenangan kami.
Di sana tergambar aku dan Rea berpose dengan narsisnya. Rea tersenyum dengan riang. Tak tergambar sedikit pun kesedihan di wajahnya.
Tentang pesan terakhir Rea, sebenarnya aku tak pernah bosan mendengarnya. Tentang bagaimana menutupi ketidaksempurnaan dengan menjadikan orang lain merasa lebih sempurna.
”Hai, sayang!” Ino menepuk bahuku dari belakang.
”Hai! Kamu udah sampai?” tanyaku.
”Iya lah. Masa aku terlambat di hari pertunangan kita? Foto dan surat dari Rea?”
”Iya. Bagaimanapun juga, Rea yang sudah membuat kita seperti sekarang, kan?”
”Hmm.. kamu jangan sedih terus. Aku tahu, Rea berarti sekali untuk kamu, untuk aku juga. Tapi, kalau kamu sedih terus, Rea nggak akan tenang. Mendingan kita keluar. Tamu- tamu sudah datang semua.”
”Iya. Aku sayang kamu, Ino,” ucapku dari hati yang paling dalam.
”Aku juga sayang sama kamu.”
”Gue sayang kalian berdua. Semoga kalian bahagia, ya?” sayup kudengar seperti suara Rea berbisik.
”Thank’s Rea!”
Hari ini, aku dan Ino resmi bertunangan. Dan ini semua bisa terjadi berkat Rea. Ketulusan dan keiklhlasannya membuat cintaku dan Ino bersatu. Kalian tahu? Kini aku merasa bangga terhadap diriku sendiri. Karena aku pernah menjadi seorang. Seseorang yang berharga. Seorang sahabat yang baik bagi sahabat terbaik, Clirea.
Comments
Post a Comment