Diary Laras
Waktu itu hari masih pagi. Jam dinding baru menunjukan pukul 7.00 pagi. Waktu aku membuka jendela kamar, nampak dua mobil box telah ‘bertengger’ di halaman rumah. Aku segera mandi, berganti pakaian, dan membantu mama papa mengemasi barang- barang. Hari itu juga aku dan keluargaku akan pindah ke Bandung. Saat sedang ‘asyik’ berberes, kulihat empat orang anak seusiaku yang sedang menaiki sepeda motor berhenti di depan rumahku.
“Gawat!” gumamku panik.
“Laras ada temannya, tuh di luar!” Mama memanggilku.
Saat keluar rumah kudapati empat anak tadi memandangiku dengan tatapan penuh tanya.
“Apa maksudnya nih?” Tanya satu anak laki- laki yang bernama Reki.
“Emm… ini… ini… Gue… gue..” aku tergagap.
“Jangan bilang lo mau pindahan!” sambung seorang anak perempuan bernama Kasih.
“Jawab, Ras! Ayo! Jawab apa maksudnya ini?!” Reki bertanya dengan nada penuh emosi.
Aku hanya menunduk tak tahu harus berkata apa. Tapi, itu juga menjadi jawaban “ya” untuk pertanyaan Kasih. Seolah mengerti maksud kebisuanku Intan bertanya,
“Kenapa Laras?”
“Gue Cuma ga mau nambahin beban gue untuk pergi..”
“Dengan pindah tanpa kasi kabar apa- apa ke kita?! Itu yang namanya sahabat sejati?! Lo nggak mikir apa?! Sinting lo, Ras!” maki Reki. Lalu ia menyalakan mesin motornya, dan memacunya secepat kilat meninggalkan kami yang masih bingung.
“Reki!” teriak Nando, memanggil Reki yang makin menjauh. Tapi teriakannya tak mampu menahan laju motor Reki.
“Emang lo bakal pindah ke mana?” Tanya Intan.
“Bandung,” aku menjawab lirih.
“Kapan?” sambung Kasih.
“Siang ini, abis makan siang” jawabku.
“Hah?! Siang ini?! Kita pagi- pagi ke sini buat ngajak lo jalan, tapi malah dengar kalo sahabat kita bakal pindah siang ini?! Bener- bener lo, Ras! Kok lo tega sih sama sahabat sendiri?!” Tanya Nando emosi.
“Gue takut. Gue takut kalo gue kasi tahu dari jauh hari, lo pada bakal sedih, dan kita bakal melewati hari- hari terakhir dengan sedih juga,” jawabku sambil menahan air mata.
“Ya, tapi bukan gini caranya dong.. Coba lo pikir deh! Kalo misalnya kita ga ke sini pagi ini, berarti lo bakal ngilang gitu aja, gitu? Terus lo ngebiarin kita kebingungan, gitu?” Tanya Kasih.
“Rencananya gue bakal sms lo semua, begitu gue nyampe sana. Sumpah, gue ga maksud ngebuat lo pada bingung dan marah… Sorry guys…” kali ini air mataku tak mampu tertahan dan tumpah membasahi pipiku.
“Ya, kalo gue sih, ya, ngerti aja. Udah lo jangan nangis lagi.” Intan .
“Ya, gue juga ngerti sih. Tapi Reki?” Kasih menyusul.
“Masalah Reki, ntar coba gue urus,” Nando ikut memarkir motornya.
“Kita masih punya waktu. Do, coba sms Reki, siapa tahu dia masih mau balik ke sini. Sekarang gimana kalo kita ngebantuin lo beres- beres?” Kasih memberi ide. Semua mengangguk tanda setuju, termasuk aku.
Saat selasai berbenah, jam tangan Kasih sudah menunjuk angka 12. Setelah makan siang dan berpamitan pada teman- teman untuk terakhir kali, aku pun masuk ke mobil, tapi Reki tak juga datang. Mobilku melaju diiringi empat sahabatku dengan motor masing- masing. Kami berpisah di taman kompleks. Di situ kudapati Reki duduk di atas motornya sambil memandangi mobilku dengan tatapan tak percaya. Hatiku miris. Bagaimana pun juga, Reki adalah sahabat yang paling dekat denganku. Apalagi sekali waktu ia pernah mengirim sms dan mengatakan bahwa perasaannya padaku lebih dari seorang sahabat. Dan kalau boleh jujur, perasaan kami sama.
Aku tak pernah mengerti apa itu cinta…
Bagaimana mencintai atau dicintai…
Aku hanya bisa menyimpan satu wajah dalam benakku
Tanpa tahu ada tidaknya cinta di sana
Aku hanya bisa mengenangnya dalam tatapan kosong…
Hampa dan hambar…
Terus, tanpa tahu apakah ini cinta, atau perasaan yang hanya sekajap saja, lalu hilang entah kemana……….
Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian pahit itu. Kini masing- masing dari kami telah duduk di bangku kelas 2 SMA. Dan sampai saat ini pun tak pernah kudengar kabar tentang Reki. Menurut cerita Intan, Kasih, dan Nando, sejak kepergianku Reki jadi pendiam, jarang tersenyum, jarang main sama mereka, dan menjauh dari mereka. Bahkan saat lulus SMP, ia memutuskan melanjutkan sekolah ke luar Jakarta dan mengganti nomor handphonenya.
“Ki, lo dimana? Lo lagi apa sekarang?” gumamku dalam hati.
Sahabat kecilku
Dengarlah!
Saat ini, esok, dan kapan pun
Kau akan terus ada di hati
Saat susah, senang, dan kapan pun
Aku akan terus ada mendampingi
Saat kau ada, tiada, bahkan saat kau menjauh
Kau akan selalu kunanti
Sahabat kecilku
Camkanlah!
Meski terkadang bibir berkata pahit
Dalam hati
Kau tetap yang paling abadi…
![]()
Aku berjalan menyusuri lorong pertokoan Plaza Ciwalk, ketika kudapati sesosok anak laki-laki seusiaku bejalan ke arah ku. Aku kenal wajah itu, tapi sepertinya ia tak melihatku.
“Reki?!” panggilku ragu. Entah itu benar ia atau aku salah lihat. Tapi yang jelas anak laki- laki tadi menoleh.
“La..Laras?” ia nampak sama terkejut denganku.
Kini aku yakin kalau cowok itu adalah Reki. Cowok yang selama ini aku cari dan ternyata ada di kota yang sama denganku. Aku mencoba mengajaknya mengobrol sambil minum kopi di Stary Café. Dan tak disangka, ia setuju dengan ajakan ku.
Untuk sejenak kami hanya diam sambil mengaduk-aduk Latte yang kami pesan.
“Jadi, selama ini lo ngilang, ternyata lo pindah ke Bandung juga?” tanyaku hati- hati. Wajah Reki berubah sekejap mata. Tapi ia hanya diam.
“Sekolah di mana lo sekarang?” tanyaku lagi setelah tak mendapat jawaban untuk pertanyaan pertamaku. Tapi Reki masih diam.
“Reki…” belum sempat aku lanjutkan kata- kataku Reki memotong.
“Gue ga tahan, Ras. Setelah lo pindah gue sadar, gue sadar kalo ada yang hilang dari hidup gue. Jadi gue putusin untuk mencari bagian yang hilang itu,” entah tak sadar atau apa ‘sahabat’ku itu mencurahkan seluruh isi hatinya padaku.
“Gue pikir itu bakal mudah. Tapi ternyata susah banget, Ras. Akhirnya gue putusin untuk nunggu. Dan gak gue sangka sekarang gue ketemu sama bagian yang hilang itu di saat gue udah dapet penggatinya. Sekarang gue nerusin SMA di sini. ” Jawaban Reki barusan membuatku seperti tertembus peluru dari jarak 1 meter.
“Lo gimana, Ras?” tanyanya membuyarkan semua lamunanku.
“Sejak lo menghilang, gue jadi merasa bersalah benget, Ki. Gue sempet ga konsen di tahun pertama. Nilai gue jeblok, ancur. Tapi untungnya gue bisa bangkit, jadi ga sampe tinggal kelas. Gue bersyukur bisa ketemu lo hari ini, Ki. Sekarang gue sekolah di SMA khusus cewek di sini. Emm.. tadi lo bilang pengganti bagian yang hilang, maksudnya apa ya?” pertanyaanku membuat mata Reki melotot, bukan marah, tapi kaget.
“Eh, em.. itu… Namanya Kirana, Ras. Dia anak XI.IPS.2 di sekolah gue. Kita ketemu karena sama- sama jadi panitia Pensi. Dia cewek supel, baik, pinter, cantik, sama kayak lo. Dan itu membuat gue seolah ketemu sama orang yang selama ini gue cari, elo. Dan pas gue nembak dia, teryata dia nerima gue. Dan sejak saat itu kita resmi pacaran,” pernyataan Reki itu giliran membuatku tersedak latte yang sedang kuminum.
Sejenak kami kembali membisu. Tak ada yang berani membuka pembicaraan, sampai Reki bertanya.
“Lo udah punya cowok? Sorry kalo gue…”
“Ga pa- pa. Hmmm… belum. Gue belum dapet pengganti bagian yang kosong dari hati gue. Hehe… Jadi sekarang lo udah ga berhubungan sama Intan, Kasih, and Nando?” aku balik bertanya.
“Masih. Baru kemaren Nando add f.s gue. Dia bilang mereka bertiga masih sahabatan kayak dulu. Gue cukup lega denger itu. Ras, sorry ya. Dulu pas lo mau pindah diem-diem, gue maki-maki lo, eh, sekarang gue sendiri sempet ngilang,”
“Ga pa- pa lah, Ki. Eh, BTW lo ke sini sama siapa?”
“Oh, iya!” Reki memukul kepalanya. “ Tadi gue sama Kirana, terus dia bilang mau ke toilet dulu. Kita janjian di food court. Waduh! Dia pasti be-te banget nungguin gue. Ee.. Gue telpon dia dulu ya, gue suruh ke sini aja gitu. Ga apa-apa kan?” mendengar kalimat Reki ingin rasanya aku berteriak dan mencegahnya untuk menelepon Kirana itu.
“Eh, eg.. ga usah. Lo susul aja dia. Udah sore juga. Gue harus pulang. Sini hp lo! Biar gue catet nomor hp gue,” aku merebut Hp Reki dan menyimpan nomor Hp-ku di memorinya. Lalu bergegas pergi.
“Nah, ini nomor Hp gue. Gue pulang dulu, ntar telpon gue ya! Dah!” kataku sambil memberikan uang pada pelayan yang lewat. Lalu pergi meninggalkan Reki yang masih mematung.
Pikiranku kacau begitu melihat muka Reki yang menghawatirkan ceweknya yang bernama Kirana itu. Aku ga tahu pasti apa yang kurasakan pada Reki. Apa sebenarnya perasaanku padanya belum berubah dari terakhir ia bilang dia suka padaku? Aku bingung, pusing, marah. Kenapa Reki begitu cepat menemukan penggantiku? Kenapa cewek bernama Kirana itu harus muncul dengan figure yang mirip denganku? Tapi, tunggu, Reki bilang kalau sosok Kirana sama denganku. Apa maksudnya…
“Huh… Reki, apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kalau saat itu Kirana ga muncul di kehidupan lo, lo bakal masih menunggu gue?” andai pertanyaan ini mampu kulontarkan pada Reki…
Ia seperti buku usang yang memberi pengetahuan baru…
Tentang arti sahabat dan kepercayaan…
Tentang pentingnya percaya dan dipercaya…
Seolah tak akan kutemukan di tempat lain selain di gudang usang yang hampir terlupakan..
Seolah hanya kebetulan yang mempertemukan kami..
Namun kini ia berubah tak seperti dulu yang kukenal..
Seolah baginya aku hanya album usang yang tak akan terusik dari dasar kalbu
Haloo.. haloo....
ReplyDeleteAku chen chen...
Ya ampunn.. Nyesek jadi Laras.. T^T
Ya olo Reki.. dikau kejam amat siiii itu Laras masih suka sama eloooo..
sumpah nyesek...