dimuat juga di kemahsastra.com ^^

JAKET BLUDRU, AKU, DAN TOPI JERAMI

Jaket Bludru dan Topi Jerami

Ia terus memperhatikan gadis itu. Melihatnya berjalan, tertawa dan tersenyum. Aku benci mendengar kisahnya yang itu- itu saja. Apa sehebat itu dia dimatanya?

“Aku nggak tahu harus ngapain, Kak. Dia sama sekali nggak mencoba bicara denganku,” kisahnya lagi.

“Lalu?” tanyaku berusaha menimbulkan kesan tertarik. Padahal aku ingin sekali berteriak padanya dan menyuruhnya menghentikan kisahnya tentang anak laki- laki yang katanya mengingatkan ia padaku.

Namanya Kaze, Adrian Kaze. Mereka bertemu di sebuah pelatihan untuk pemusik amatir terutama untuk yang masih di bangku SMA. Saat itu Kaze menjadi salah satu panitianya.

“Oh, waktu aku ambil kelas piano, dia yang jadi pembimbingnya. Padahal, dia lebih tertarik dengan bass lho!”

“Ayo, makan dulu buburnya,” aku kembali menyuapkan bubur ke mulutnya yang kecil.

Ia mengunyahnya dengan lahap.

Katanya sejak pertama ia datang Kaze terus memperhatikannya, tanpa pernah mengajaknya bicara secara langsung. Hanya bila ia sedang mengobrol dengan panitia yang lain –yang ia kenal –Kaze akan ikut nimbrung dan tertawa bersama mereka.

“Terus, waktu di kamarku ada yang sakit, dia juga yang bantuin aku nyari obatnya di panitia lain. Diam- diam dia care sama aku. Hehe...”

Ntah, aku panas mendengar semua ceritanya tentang si jaket bludru itu. Ya, selama acara di hotel bintang empat itu, Kaze selalu memakai jaket bludru, yang –katanya –menjadi ciri khasnya.

“Aku udah cerita belum, dia pernah jadi pemenang lomba band tingkat nasional sebagai pemain bass terbaik loh!”

“Iya. Dan dari situ kamu tertarik sama dia, kan?”

Bertanyalah padaku, mengapa aku masih bertahan di ruangan ini bersama gadis bawel yang hanya bisa bercerita tentang hal yang membosankan padaku!

Sudah tiga bulan aku bertugas di rumah sakit ini. dan sejak tigar hari lalu, gadis bernama Maichi ini, masuk sebagai seorang pasien yang menderita karena penumpukkan ciran di otaknya.

Tanpa aku sadari, ternyata kami saling kenal. Dia yang menyadari pertama kali. Sejak itu, ia meminta pada dokter yang merawatnya –yang kebetulan juga kepala rumah sakit ini –agar aku bisa menjenguk dan merawatnya setiap hari. Mengajaknya mengobrol, mengantarkan makan bahkan menyuapinya –hanya saat orang tuanya bekerja disiang hari -seperti yang aku lakukan siang ini. Aneh rasanya. Apalagi mendapati diriku yang seorang laki- laki ini, berada di kamar rawat bersama seorang gadis yang tak berdaya. Mau bagaimana lagi? Aku tak bisa menolak. Karena statusku hanya sebagai perawat yang menjalankan tugas. Dan untuk tetap menjaga nama baik kami berdua, pintu kamar selalu kubiarkan terbuka saat kami sedang berdua.

“Kak, sudah dulu, ya, makannya?” ia menolak suapanku.

“Kenapa?”

“Kenyang.”

Aku meletakkan mangkuk ,melamin itu di meja sebelah tempat tidurnya.

“Kak,” panggilnya lagi.

“Kakak masih bisa main gitar, kan?”

“Ng? Iya, masih,” jawabku ragu.

Aku memang senang bermain gitar. Sejak masih SMP dan bertetangga dengan Maichi. Sampai sekarang juga. Tapi, untuk apa ia menanyakannya di saat seperti ini?

Aku mengerutkan dahi.

“Hmm... mainin gitar buat aku, ya, Kak?”

“Hah?” aku melotot tak percaya.

“Ada gitar di lemari. Kemarin aku sengaja minta Mama membawakannya. Kakak mainkan untuk aku, ya?”

“Emm... tapi,”

“Please...” ia mengatupkan kedua tangannya memohon padaku.

“Ya sudah.”

Aku membuka lemari yang dimaksud dan mengabil gitar di dalamnya.

“Satu lagi, kak.”

“Apa?”

“Main gitarnya sambil nyanyi, ya?”

“Ho?” aku melongo.

“Iya, lagunya D’ massiv yang dulu sering Kakak mainkan waktu masih di Komplek Lestari.”

“Lagu itu?”

Ia menatapku penuh harap.

Saat aku tertawa di atas semua...

Aku mulai memetik gitarku.

Saat aku menangisi kesedihanku

Aku ingin engkau selalu ada

Aku iingin engkau aku kenang

Selama aku, masih bisa bernafas

Masih sanggup berjalan

Ku kan slalu memujamu

Meski kutak tahu lagi

Engkau ada di mana

Dengarkan aku

Kumerindukanmu

Saat petikan terakhir, kulihat di sudah terlelap. Tidur. Kuamati sejenak mukanya. Dia gadis menyebalkan yang selalu mengajakku bermain sepeda dulu. Jelas- jelas waktu itu aku sudah duduk di bangku SMP sedangkan ia masih SD. Menyebalkan!

Tapi, ternyata dia manis juga. Kalau saja mukanya terlihat sedikit lebih cerah, bukannya pucat pasi seperti sekarang. Ada sebuah perasaan menyelinap di hatiku. Aku senang melihatnya dalam kondisi seperti ini. astaga! Apa- apaan ini?

Kunaikkan selumutnya sampai sebatas bahunya. Kututup pintu perlahan, meninggalkan ia yang tertidur tenang.

Siang berikutnya aku kembali menemaninya untuk makan siang.

“Hai, Kak!” sapanya begitu mendapati aku membuka pintu kamarnya.

“Hai!”

“Apa makan siang hari ini?”

“Ada bubur, ayam cincang, sup tahu,” aku membuka satu per satu plastik pembungkus mangkuk- mangkuk melamin itu.

Ia menutup dan menyingkirkan laptop yang sebelumnya ia pangku. Selama berada di rumah sakit ini, aku selalu mendapatinya sedang mengutak- taik leptopnya. Entah apa yang ia lakukan.

“Kakak bosan, ya, nyuapin aku makan siang terus?” tanyanya pada suapan pertama.

“Ini kan udah jadi bagian dari tugas Kakak di sini,” jawabku tak mau menatap matanya.

Karena jelas aku berbohong.

“Sini mangkuknya, Kak. Aku udah bisa makan sendiri kok,” ia mencoba bangung dari posisi tidurnya.

“Lho? Nggak apa- apa kok. Kamu, kan...”

“Udah. Aku bisa,” katanya merebut mangkuk itu.

“Sekarang Kakak main gitar sambil nyanyi aja. Aku suka dengar Kakak nyanyi,” katanya tersenyum.

Senyum yang membuat aku terhipnotis dan mengambil gitar di lemari lagi. Kemudian memainkan lagu yang tiba- tiba saja tergambar di otakku.

Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan

Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada

Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku

Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku

“Emph!” Ia tersedak saat menelan buburnya sambil membaca layar ponselnya.

“Ada apa?” aku langsung bangkit dari bangkuku.

Takut kalau aku telah melakukan kesalahan.

“Kak Kaze mau ke sini, Kak!”

Oh, tidak! Sudah cukup aku menderngar ceritanya tentang orang itu. Jangan biarkan aku bertemu dengannya juga, Tuhan!

“Kakak masih ingat Kak Kaze yang aku ceritakan, kan?”

“Iya. Tentu. Kamu baru cerita tentang dia kemarin. Orang yang kamu sukai seminggu terakhir ini, kan?”

“Iya.”

“Kapan dia akan kesini?” tanyaku was- was.

“Sekarang dia sudah di jalan,” katanya dengan polos.

“Apa?”

“Kenapa, Kak?”

“Ng... tapi, kan orang tua kamu lagi nggak di sini?”

“Kan, ada Kakak?”

Gadis ini! dia pikir siapa dia? Siapa aku? Dia pikir aku suka melihat orang pacaran sedangkan aku jadi “obat nyamuknya”? Aku berusaha menyembunyikan erkspresi tidak terimaku.

“Kakak tidak suka kalau Kak Kaze ke sini?” tanyanya dengan ekspresi bersalah.

“Ng... nggak. Itu kan hak kamu untuk mengundang tamu ke sini,” jawabku.

“Kalau Kakak tidak suka akan kusuruh dia pulang,”

“Ah! Jangan! Jangan seperti itu! Tidak baik. Apalagi kamu memang ingin bertemu dengan dia, kan?”

“Iya, tapi...”

“Selamat siang!” seseorang menyapa dari arah pintu kamar.

“Kak Kaze!” sapanya riang.

“Hai, Chi!” pemuda itu menghampiri Maichi.

Benar, ia mengenakan jaket dari bahan bludru.

“Kenalkan, Kak. Ini Kak Kaze yang aku ceritakan. Kak Kaze, ini Kak Bayu.”

Kami berjabat tangan sebentar.

“Kak Kaze ini yang jago main bass itu, Kak. Yang mendapat penghargaan tingkat nasional sebagai pemain bass terbaik!” ia mulai berkisah lagi.

“Ah, Ichi membesar- besarkan,”

Aku hanya bisa tersenyum kecut.

“Masih sekolah?” tanyaku.

“Kuliah. Fakultas hukum semester dua di UI.”

Aku agak terkejut. Mahasiswa UI.

“Bagaimana kondisimu, Chi?”

“Udah baikan, Kak. Untung ada Kak Bayu yang selalu nemenin aku,” gadis itu tersenyum ke arahku.

“Masa baru empat hari pembinaan kamu udah masuk rumah sakit?” Kaze menledek Maichi.

“Kalau melihat kondisi kesehatannya, saya pikir wajar kalau dia terlalu lelah sampai masuk rumah sakit,” jawabku.

Ichi menengok ke arahku, terkejut.

“Oh...” jawab si Jaket Bludru itu kaku.

“Kak, mainkan lagu lagi, ya?” Ichi berusaha mencairkan suasana.

“Ng... kakak...”

“Kak Kaze, Kak Bayu juga jago main gitar, lho. Hampir sehebat Kakak main bass.”

Hampir? Maksudnya aku kalah hebat dengan bocah ini?

“Oh, ya? Wah, jadi mau dengar Kakak main gitar,” saut Kaze antusias.

Aku hanya mengangguk dan kembali meraih gitar di samping tempat tidur Ichi.

Selepas kau pergi

Tinggal lah di sini ku sendiri

Ku merasakan sesuatu

Yang tlah hilang di dalam hidupku

Aku mulai bernyanyi. Kenapa lagu itu yang ada di pikiranku? Kacau!

“Yeeeee!!” Ichi bertepuk tangan.

“Bagus juga, Kak,” kata si jaket bludru.

“Thanks.”

“Eh, Kak Kaze juga bisa main gitar, kan? gimana kalau kakak juga nyanyi sambil mainin gitarku?”

“Boleh. Untuk kamu apa sih yang nggak?”

Cih! Gombal!

Aku percaya kamu

Melebihi apa yang orang katakan tentang kamu

Kaze memetik dawai- dawai gitar itu. Ichi nampak sangat menikmatinya. Ia tersenyum memperhatikan Kaze. Tepatnya sesekali mereka salinhg pandang dan tersenyum satu sama lain. Aku gerah!

“Hore! Keren Kak!” puji Ichi.

Kaze hanya tersenyum. Dan selanjutnya, harusnya kalian tahu apa yang terjadi pada kami bertiga. Keze dan Ichi sibuk berbincang dengan mesra berdua, sedang aku benar- benar jadi obat nyamuk!

Dan kalian tahu apa lagi yang membuat aku sakit hati? Kaze menyuapkan buah untuk Ichi!

Tunggu! Kenapa aku harus sakit hati dengan tingkah mereka berdua. Toh aku bukan siapa- siapa. Ichi juga bukan orang spesial untukku. Hanya gadis SMA yang menyebalkan. Cuma pasien yang kebetulan tetangga masa kecilku!

“Chi, Kakak keluar aja, ya?” tanyaku sambil melirik Kaze.

“Kenapa, Kak?”

“Hmm... masih banyak kerjaan, Chi.”

“Yah, tapi, kan...”

“Ya udah lah, Chi, Kak Bayu kan masih banyak kerjaan. Kakak aja yang nemenin kamu,” Kaze memotong.

Aku semakin panas. Tanganku terkepal di bawah.

“Iya. Kakak keluar dulu,” pamitku sambil berlalu.

Ichi memperhatikan aku. Aku tahu itu. Tapi aku pura- pura tidak tahu.

Sampai di luar kamar Ichi, aku tak tahu harus berbuat apa. Toh sebenarnya aku tak bertugas hari ini. hanya karena Ichi aku datang dan jadi perawat pribadinya. Jadi kuputuskan menunggu di koridor kamar. Duduk diam, memikirkan masak- masak apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Tak lama Kaze keluar dengan tampang tidak begitu senang. Ia hanya melempar senyum kecut padaku. Dasar muka dua. Di depan Ichi saja kau ramah padaku.

Aku masuk melihat keadaan Ichi. Lagi- lagi ia tengah mengetik di laptopnya.

“Kak Kaze harus pulang, Kak. Masih ada tugas kampus yang harus dia selesaikan,” katanya sambil terus mengetik.

“Oh. Kamu ngetik apa, Chi? Serius banget?” tanyaku penasaran sambil duduk di bangku sebelah tempat tidurnya.

Ia hanya menoleh sebentar padaku, tersenyum, dan kembali sibuk dengan laptopnya.

“Diary?” tanyaku lagi.

“Ya, semacam itu. Tapi bukan diariku, Kak. Milik orang lain,” ia menjawab sambil tersenyum.

“Bagaimana caranya kamu menuliskan diary orang lain?”

“Ichi, kan tahu semuanya,” ia tersenyum lagi.

“Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kata dokter, kan tidak boleh banyak di depan laptop.”

“Aku takut nggak selesai, Kak. Nanti aku sendiri yang penasaran,” masih tak lepas dari laptop.

“Kakak nggak suka nulis, ya?” tanyanya.

“Maksud kamu?”

“Ya, seperti yang aku lakukan. Menulis cerita, diary, pusi, atau karya fiksi?”

“Nggak. Kakak nggak tertarik dengan dunia semacam itu. Baca buku semacam itu juga hanya sesekali. Kalau benar- benar sedang tidak ada kerjaan.”

“Kalau begitu, Kakak nggak bakal mau melihat tulisan aku ini, ya?” ia berhenti mengetik sebentar.

“Kakak boleh lihat?”

“Boleh. Tapi, nanti aja, Kak. Kalau sudah selesai, atau kalau aku sudah tidak bisa menyelesaikannya lagi,” ia tersenyum lagi.

Semakin banyak ia tersenyum, semakin aneh perasaanku padanya. Aku semakin takut kehilangan dia dan senyumnya. Sepertinya aku tak rela melepaskan pandangan dari mukanya.

“Kakak kenapa ngeliatin aku gitu?” tanyanya menbuyarkan lamunanku.

“Nggak apa- apa. Senang aja melihat kamu senyum,” kataku.

“Kakak banar- benar mirip dengan Kak Kaze. Hihihi...” tawanya tertahan.

Tiba- tiba saja ia menutup laptopnya.

“Kenapa?” tanyaku.

Mukanya tampak pucat.

“Nggak apa- apa. Capek juga teryata. Kak, nyanyi lagi, ya!”

“Lagu apa?”

“Apa yang sedang ingin Kakak nyanyikan.”

Kali ini tanpa perlawanan aku mengambil gitar dan mulai bernyanyi.

Selamat jalan kekasih

Manis yang berujung perih

Kisah yang sungguh terlalu indah

Kini semua berakhir sudah

Selamat jalan kekasih

Walau teramat sangat perih

Namun aku pasti coba

Untuk jalani ini semua

Dan sekali lagi, saat aku berhenti benyanyi, ia sudah tertidur pulas. Sambil tersenyum.

Jaket Bludru dan Aku

Sekali lagi aku bertemu dengan Kaze. Ia masih mengenakan jaket yang sama, yang memang sesuai dengan kondisi saat ini.

Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Kita kehilangan orang yang sangat berharga,” katanya.

Aku menyambut uluran tangannya tanpa bicara.

“Ichi bilang, kalau kamu nggak suka dengan kedatanganku waktu itu,” katanya lagi.

Aku menoleh padanya.

“Aku anggap kediaman kamu sebagai tanda setuju,” katanya lagi.

“Apa benar karena kamu sudah mulai cemburu?” tanyanya lagi.

“Jangan salah paham. Aku dan Ichi...”

“Nggak perlu dijelaskan,” aku memotong.

“Benar kata Ichi. Kamu itu sok tahu.”

Aku mulai geram.

“Kamu cemburu karena kamu mulai menyimpan rasa untuk Ichi,” ia menoleh padaku untuk meyakinkan.

“Ichi itu sangat peka. Kau tau, kan, ada beberapa orang yang bisa membaca pikiran dan hati orang lain. Ichi salah satunya dan ia menulis tentang kamu. Di sini,” ia menyerahkan sebuah flashdisk,”Bacalah, dan kamu akan mengerti semua isi hatinya. Dan aku harap setelah ini semua sifat sok tahu kamu itu akan hilang,” Kaze meninggalkan aku yang tertegun.

Aku tak tahu harus apa lagi. Aku hanya ingin melihat Ichi untuk terakhir kali. Dan di sanalah ia. Tidur mengenakan gaun putih lengkap dengan aksesoris –tak berlebihan tapi membuat ia tetap cantik –di peti berukir itu. Rambut lurus sebahunya digerai, membuat ia makin terlihat manis. Wajahnya tetap nampak tersenyum. Seperti tak ada beban.

Lain dengan aku yang jelas nampak kusut setelah semalaman tak bisa tidur. Bayangan Ichi terus mengahantui aku. Aku tak bisa melepasnya seperti ini. ada rasa bersalah sempat menolaknya. Juga ada rasa tak rela karena baru bisa menerimanya.

Tapi, ini lah takdir yang harus kulewati. Lagi pula, kalau Kaze benar, Ichi sudah tahu apa yang aku rasakan.

Malam itu juga ku buka isi flashdisk itu di laptop. Hanya ada satu data yang tersimpan di sana. Dan data itu disimpan dengan nama “Jaket Bludru, Aku, dan Topi Jerami”. Sesaat aku terdiam. Berpikir haruskah kubaca isinya. Karena melihat judulnya saja aku sudah galau. Bingung.

Tapi, bila tak kubuka, perasaan ini akan semakin menjadi. Dan ada kemungkina aku akan menyesal. Jadi kuputuskan untuk membacanya.

Halaman pertama harus kubaca sampai tiga kali dan aku masih tak mengerti. Ini semacam cerita. Cerita yang diceritakan kembali. Cerita tentang si Jaket Bludru...

Topi Jerami dan Aku

Aku tak percaya dia pergi dengan cara seperti ini. dengan meninggalkan “buku harianku”. Ya, semua kisah yang tak pernah kuungkapkan. Lagu yang tak pernah kunyanyikan. Ia menulis semua seolah benar- benar tahu apa yang aku rasakan selama bersamanya

Aku Bayu Satya. Seorang mahasiswa yang sedang bertugas di rumah sakit umum sebagai perawat untuk menyelesaikan studinya. Dan seminggu yang lalu, ada seorang gadis yang di larikan ke ruang UGD karena tak sadarkan diri. Kata dokter, ia mengalami penumpukan cairan di otak. Namanya Maichi Aruna.

Ya, benar, ia tetangga masa kecilku. Gadis yang selalu mengajakku bermain sepeda, tanpa pernah mengerti kalau aku sudah terlalu malas untuk bermain bersama seorang anak SD. Kemudian datang lagi, memintaku untuk jadi perawat pribadinya. Mengantar sarapan dan hal- hal bodoh lainnya. Aku sempat menolak dengan berbagai alasan. Namun ia lebih pintar. Dengan meminta ijin dari dokter kepala yang juga adalah dokter yang merawatnya, ia membelengguku pada pekerjaan yang tak semestinya.

Singkat cerita, apa yang ia ceritakan di awal adalah benar. Semuanya benar. Hanya ada beberapa yang tak pernah benar- benar aku tunjukkan.

Seperti ceritanya tentang Si Jaket Bludru –bahkan ia tahu julukan yang tak pernah aku ucapkan itu.

“Kak, Kakak pernah mengagumi seseorang?” tanyanya siang itu.

“Hmm... pernah. Tentu pernah,” jawabku seadanya.

“Aku juga. Namanya Kak Kaze. Aku ketemu dia waktu ikut pelatihan untuk musisi amatir si SMA, minggu lalu. Kak Kaze jadi salah satu pantianya. Dia mahasiswa yang berprestasi, lho! Dia pernah mendapat penghargaan sebagai bassis terbaik tingkat nasional. Dia juga baik. Dan sepertinya di suka sama aku,” ia bercerita panjang lebar.

Aku hanya mengangguk, seolah mengerti. Padahal, malas sekali aku menyimaknya bicara.

“Dia sering ngeliatin aku gitu, Kak. Tapi, aneh deh, Kak, dia nggak pernah mencoba untuk ngobrol berdua sama aku. Padahal aku tahu banget, kalau dia sering memperhatikan aku,” ia nampak berseri- seri.

Dasar kegeeran! Batinku.

Tapi, sungguh, aku tak pernah menunjukkan ekspresi kesal padanya. Aku berusaha tetap baik pada pasienku. Entah bagaimana ia bisa mengetahuinya dan menuliskannya.

Dia terus bercerita tentang kekagumannya pada Kaze. Lalu ia mendadak tak mau melanjutkan makan siangnya. Kenyang, katanya.

“Kak, coba Kakak pikirkan satu lagu di hati Kakak. Dan nyanyikan dalam hati. Dalam hati, ya, Kak!” pintanya tiba- tiba.

“Untuk apa?”

“Nggak apa- apa. Cuma mau membuktikan sesuatu aja,” katanya.

Iseng, kuikuti maunya. Dan yang kunyanyikan adalah lagu band kesayanganku sejak masih SMP. D’ massiv, Merindukanmu. Aku menyanyikannya dalam hati. Dan rasanya aku tak menyanyi sendiri. Ada seseorang yang mengikuti. Benar! Ada seseorang uang ikut bernyanyi. Dan itu Ichi! Ya, di bergumam, kemudian benar- benar bernyanyi sambil menutup matanya. Persis dengan apa yang sedang kunyanyikan saat itu.

“Aku bisa dengar Kakak nyanyi. Kakak juga main gitar,” katanya membuat aku terkejut.

Tapi tentu saja aku menyembunyikan ekspresiku.

“Kenapa berhenti, Kak?” tanyanya.

Kemudian aku mencoba kembali bernyanyi dalam hati. Ia juga melanjutkan dengan lirik dan nada yang sama! Masih dalam kodisi terpejam. Kemudian tertidur.

Ya, aku melihatnya tertidur. Mukanya nampak tenang. Aku suka melihatnya seperti itu. Tapi, bagaimana ia tahu?

Siang berikutnya, aku kembali mengantarkan makan siang untukknya. Ya, dia memangku sebuah laptop. Laptop yang sepertinya selalu menjadi kawan, saat aku belum hadir. Karena saat aku bersamanya, ia tak pernah sedikitpun menyentuh laptop itu.

Di luar masalah laptop, aku semakin senang berada di dekatnya semakin nyaman. Tapi, ia justru tak ingin aku suapi lagi. Aku juga tak tahu kenapa. Tapi, sekarang aku tahu. Ia kira aku tahu aku tak nyaman dengan pekerjaan yang satu itu –dulu, sebelum hari ini. Lalu secara tak sengaja aku kembali bernyanyi dalam hati. Lagu Roullet, Aku Jatuh Cinta. Saat itu lah ia tersedak.

“Kenapa?” tanyaku was- was.

Di tersenyum menggeleng.

“Nggak apa- apa,” katanya.

Aku takut ia kembali mendengar suara hatiku. Dan terbukti. Tak lama ia bernyanyi. Menyanyikan lagu yang sama dengan yang aku “nyanyikan”. Ia memandangku dan tersenyum penuh makna.

“Kak, Kak Kaze mau ke sini,” katnya dengan polos.

Sumpah, aku tak bisa berkata apa- apa. Hanya diam. Menyimpan semua rasa kesalku. Ia tak bertanya apapun soal pendapatku tentang rencana kedatangan Kaze. Rasanya ia sudah tahu apa yang akan ku katakan. Sekali lagi itu terbukti dengan cerita yang kalian baca.

“Selamat siang!” suara itu muncul dari depan pintu.

“Kak Kaze!?” mata Ichi berbinar.

Ichi memperkenalkan kami kepada satu sama lain. Aku tidak menyukai Si Jaket Bludru sejak awal. Ada rasa yang menyelinap melihat mereka bercanda berdua. Apa ini? aku bernyanyi lagi!? Ichi menoleh padaku dan tersenyum. Ia “menangkap” nyanyianku lagi! Ternyata Kaze juga! Ia juga “bernyanyi” bersama Kaze! Sial! Apa maksud semua ini?

“Kakak keluar dulu, ya?” aku memotong perbincangan mereka.

“Kenapa, Kak?”

“Nggak apa- apa, masih banyak pasien.”

“Ya, udah, Chi. Kak Bayu, kan juga harus kerja. Biar aku yang nemenin Ichi, Kak,” Kaze tersenyum padaku.

Aku langsung pergi meninggalkan mereka. Tak tahu harus kemana saat tak sedang bertugas, aku duduk di bangku koridor. Menunggu mereka bosan. Yak! Akhirnya Kaze keluar dari kamar Ichi. Melempar senyum kecut padaku. Dasar penjilat. Hanya di depan Ichi ia manis, di belakangnya... heh.

Aku baru saja ingin menanyakan kenapa secepat itu Kaze pergi, tapi ia sudah lebih dulu menjelaskan. Katanya Kaze haru menyelesaikan tugas kampusnya.

Saat itu ia sedang mengetik di laptopnya. Aku ingin bertanya sangking penasarannya. Tapi kuurungkan. Kami hanya diam. Tak biasanya, ia tetap mengetik, tak menghiraukan aku. Seperti penulis dikejar deadline. Kadang ia berhenti sebentar, tersenyum sendiri dan melanjutkan mengetik.

Kami terus diam sampai ia memintaku meninggalkannya yang ingin beristirahat.

Pagi itu, aku sengaja juga mengantar sarapan untuknya. Padahal ini bukan tugasku. Seperti yang sudah kukatakan, tugasku hanya mengantar makan siang. Masih ada kedua orang tuanya.

“Selamat pagi!” aku berusaha lebih ramah dari biasanya.

“Pagi, Nak Bayu!” sapa Ayah Ichi.

“Ini saya bawakan sarapan.”

“Wah, tumben. Sayang Ichinya belum bangun, Nak,” saut Ibu Ichi.

Aku hanya tersenyum dan melihat pada Ichi yang tertidur. Tunggu! Ada yang tidak beres.

“Boleh saya periksa Ichi, Bu?”

“Oh, boleh. Kenapa, ya?”

“Nggak apa- apa. Sebentar, ya?”

Aku mengambil alat pengukur tensi. Aku juga mengecek detak jantungnya. Saat posisi kepalanya berubah dan... darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Astaga!

“Bu, kita harus segera pindahkan Ichi ke ruang ICU!” kataku lekas.

“Ya, Tuhan!” Ayah Ichi ikut panik.

“Detak jantungnya lemah sekali kita harus segera memindahkannya!”

Aku memanggil perawat dan dokter jaga. Kami membawa Ichi ke ruang ICU. Aku memebersihkan darah dari wajahnya. Sementara perawat lain memsang alat pendeteksi detak jantung, dan peralatan lain dengan cepat. Untunglah pendarahnnya lekas berhenti. Dengan segera dokter memasang selang oksigen untuknya.

Aku tak mau terjadi apa- apa pada Ichi. Tuhan, selamatkan ia. Aku baru saja bisa menerimanya. Jangan Kau ambil dia. Aku lebih rela kalau harus membiarkannya bahagia dengan si jaket bludru itu. Sungguh!

Astaga! Syukurlah. Detak jantungnya kembali normal. Terimakasih Tuhan!

Aku menemani Ichi sampai ia sadar. Karena hanya perawat dan dokter yang punya ijin untuk menjaga pasien di ruang ICU ini.

“Kak Bayu...” Ichi sadar.

Nama yang pertama kali ia sebut adalah namaku.

“Kakak di sini, Chi,” aku menggenggam tangannya.

“Makasih. Kakak udah mau jaga aku selama di sini,” ia tersenyum.

“Kakak seneng bisa jagain kamu,” kataku tulus.

“Kak, mau nggak Kakak mainin satu lagu untuk aku. Pakai gitar sambil nyanyi,” ia memohon dengan lirih.

“Tapi, ini ruang ICU, kita harus jaga ketenangan.”

“Please...” ia memohon lebih sungguh, lebih lirih.

Aku menoleh pada dokter dan perawat senior. Mereka menangguk.

“Gitarnya di kamarku,” katanya lagi.

Tanpa pikir panjang, aku berlari sekencang- kencangnya. Mengambil gitar yang dimaksud, lalu kembali untuk mengabulkan permintaan Ichi.

Dengan terengah- engah, aku bertanya padanya.

“Kakak harus mainin lagu apa, Chi?”

“Apa yang ada di pikiran Kakak.”

Aku memjamkan mataku. Hanya ada satu lagu.

Selamat jalan kekasih

Manis yang berujung perih

Kisah yang sungguh terlalu indah

Kini semua berakhir sudah

Selamat jalan kekasih

Walau teramat sangat perih

Namun aku pasti coba

Untuk jalani ini semua

Dan sekali lagi, saat aku berhenti benyanyi, ia sudah tertidur pulas. Sambil tersenyum. Tertidur untuk selamanya.

Aku dan Hanya Aku

Siang itu, di taman rumah sakit. Aku duduk di bangku, di bawah pohon, menunggu seseorang. Hari itu aku tak mengenakan seragam perawat lagi. Karena aku memang sudah tak bertugas. Kurang lebih sejak dua tahun yang lalu. Kini aku telah menamatkan studiku. Namun, justru beralih profesi di bidang yang tak pernah terpikir sebelumnya.

“Senang bisa bertemu kamu lagi,” Kaze menjabat tanganku.

“Aku juga.”

“Jadi, ada keperluan apa, sampai Bayu Satya, penulis novel yang sedang terkenal ini mendadak ingin bertemu dengan aku?”

“Ini,” aku menyodorkan sebuah buku padanya.

“Sebenranya aku sudah punya. Tapi, tak apa lah. Kapan lagi dapat novel gratis langsung dari pengarangnya,” katanya menggodaku.

“Jangan begitu. Kamu tahu ini bukan semata- mata hasil karyaku.”

“Ya, tentu. Karena secara tidak langsung ada campur tangan Ichi,” ia mendadak lesu.

Kami diam sejenak.

“Dari waktu pertama kali bertemu dengan Ichi, aku sudah menyukainya,” Kaze mulai bercerita.

“Terutama senyumnya yang membuat hatiku merasa tenang. Seperti tidak akan pernah ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi bila aku bersamanya. Tadinya aku berpikir, ia merasakan yang sama. Aku pernah menyatakan perasaanku. Tapi ia hanya mengucapkan terimakasih. Tak ada kalimat balasan lain. Seperti aku juga suka sama kakak, atau kalimat lain yang aku harapkan. Saat ia masuk rumah sakit, saat itu baru aku tahu, kalau ada seseorang yang telah ia pilih. Dan itu kamu,” Kaze menatap mataku tajam.

Dan saat menjenguk Ichi di rumah sakit tempo hari, Kaze kembali menyatakan cintanya. Dan sekali lagi Ichi hanya mengucapkan terimakasih. Bahkan kali ini, Ichi mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Ia bercerita kalau ia menyukai aku yang telah lama tak ia jumpai. Bagaimana gembiraanya ia saat punya kesempatan untuk dekat dengankuu selama di rumah sakit.

“Ichi berusaha keras bertahan dari sakitnya, karena ia ingin berteemu dengan kamu. Karena itu ia mengikuti pelatihan untuk musisi amatir. Ia sangat berharap kalau kamu benar- benar telah menjadi musisi. tapi, Tuhan punya rencana lain, kan? kalian justru bertemu benar- benar di saat- saat terakhirnya. setelah ia puas bercerita, dia memberikan flashdisk dengan gantungan topi jerami itu padaku. Untuk selanjutnya disampaikan ke kamu. Dia bilang suatu saat kamu akan berubah. Dan itu karena tulisannya. Aku sempat nggak percaya. Tapi ternyata dia benar,” memandang novel yang kuberikan tadi lekat- lekat.

“Kamu bahkan nggak mengganti judulnya Jaket Bludru, Aku, dan Topi Jerami,” Kaze tersenyum kecut.

“Jujur nggak hanya judulnya yang aku ganti. Tapi semua isinya, cerita yang ditulis Ichi –yang sekarang menjadi prolog novel itu –nggak sedikitpun aku ubah. Aku mau semua orang yang membaca benar- benar merasa terkejut seperti aku,” aku menatap kosong ke arah jalan setapak yang ada di depan kami.

“Ya, aku tahu. Aku tahu persis tentang itu. Yang belum aku pahami, justru perasaan kamu ke Ichi,” Kaze lagi- lagi melihat ke arahku.

“Harusnya kamu sudah tahu. Karena semua telah kuungkapkan dalam novel itu. Aku sempat menolak kehadirannya. Tapi, kemudian aku sadar, kalau aku menyayanginya. Meski di waktu yang sama aku sempat ingin menyerah. Karena ku pikir, ia telah mempunyai kamu.”

“Kamu benar- benar sok tahu! Dan itu membuat kamu menyesal, kan?”

“Ya, aku menyesal. Kalau saja aku tahu tulisan- tulisannya sejak awal, nggak akan sempat terpikir olehku untuk menyerahakan Ichi kepada kamu.”

Yah, itu lah. Kalau saja aku mampu menyadari perasaan Ichi dari awal, aku nggak akan melewatkan hari- hariku yang singkat bersamanya. Kalau saja aku mau sedikit lebih peka, mungkin cerita yang ditulis Ichi adalah tulisan berdasarkan kenyataan yang benar- benar nyata.

Haaahh... sudahlah. Biar semua berjalan seperti seharusnya. Meski kini yang terjadi, dua lelaki duduk mematung di bangku yang sama. Menyadari kehilangan sesuatu yang berharga bagi keduanya.

Comments

Post a Comment