saya rasa ini yang terpendek

Dear Kika


Satu jam, dan aku belum bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. semua terjadi begitu saja. Semua kebenaran yang ditutupi terkuak, bersamaan dengan perginya sosok yang berharga untukku.

Aku Ajeng Riankika. Sejak lahir ke dunia ini, aku belum pernah bertemu secara langsung dengan sosok Ibuku, merasakan hangat dekapannya, atau mendengar suaranya. Ia meninggal sesaat setelah memberikan aku kehidupan ini. Meski pun begitu, aku tak pernah menyesali kehidupanku, karena aku mempunyai Bapak.

Aku menyayangi Bapak. Dia adalah harta paling berharga dalam hidupku. orang tua tunggal yang paling hebat. Begitu besar cintanya, sampai semua kekayaan kami seolah tak berharga tanpa kehadirannya.

Malam itu, firasatku memang sudah tidak enak. Bapak memintaku untuk menemaninya di kamar. Aku berbaring di sebelahnya, memandang langit-langit kamar dan ia –masih bisa –mengelus dahiku –persis seperti yang sering ia lakukan saat aku masih kecil. Tak ada obrolan yang keluar dari kami. Sepertinya kami sudah sangat mengerti bahwa itulah saat terakhir kami berdua. Setengah jam kami menikmati kebisuan itu. Sampai Bapak memanggilku dengan nama kecilku.

“Kika,” kudengar suara paraunya.

Aku menoleh, kemudian bangun dan duduk bersila di sampingnya. Entahlah, tapi aku masih belum bisa bersuara. Aku hanya diam, menatap mtanya yang makin sayu.

“Kika... Kika tahu, kan kalau Bapak sayang sekali sama Kika?” tanyanya sembari meraih tanganku dalm genggamannya.

Aku mengangguk, berusaha tersenyum sambil menahan air mataku yang ingin sekali menetes.

“Kika juga sayang sama Bapak, kan?”

Aku mengangguk lagi.

“Kika...” suaranya bergetar,”Bapak minta maaf, ya? Selama ini, Bapak nggak bisa jadi orang tua yang baik untuk kamu, Nak.”

“Bapak nggak boleh ngomong gitu! Bapak udah jadi ayah paling hebat untuk Kika,” aku mengeratkan genggamanku.

“Karena kamu nggak pernah tahu betapa buruknya Bapak,” senyum getirnya mengembang.

Bisa kurasakan, nafasnya makin berat. Makin sulit untuknya menikmati udara di kamar ini. aku sendiri makin terperangkap dalam ketakutanku.

“Kika... Kika pernah tanya sama Bapak, kenapa Bapak melarang kamu berhubungan dengan Lindo, kan?”

“Bapak nggak usah ungkit masalah itu! Kika tahu, Bapak ingin Kika mendapat laki-laki yang lebih baik dari dia. Kika nggak udah bisa ngerti, Pak.”

“Bapak tahu kamu bohong, sayang. Kamu sangat mencintai Lindo. Iya, kan?”

Aku diam dalam kegetiran.

“Maaf, Nak. Maafkan Bapak... sebenarnya...” kata-kata Bapak terputus karena sesak nafas yang melandanya.

Jelas, iya sangat menderita. Kepanikan mulai menghinggapiku.

“Pak! Bapak nggak apa-apa, kan? Kika panggil suster, ya?”

“Nggak... nggak usah,” ia menahan tanganku.

Aku membeku.

“Kika... sampaikan juga... maaf Bapak... pada Lindo.”

Aku takut. Aku benar- benar takut pada perkataan Bapak. perkataan itu seolah menegaskan bahwa inilah waktunya.

“Pak...” aku terisak.

“Kika...,” susah payah ia mengumpulkan sisa tenaganya,”Lindo itu... kakak tiri kamu,” dan kepalanya terkulai lemas, matanya terpejam tenang.

“Bapak! pak! Bangun, Pak! Suster!!” teriakanku menggema ke seluruh penjuru rumah.

Tanah makam yang masih basah ini jadi saksi kebisuan kami berdua.

“Aku nggak nyangka, kalau kita akan bertemu lagi dalam kondisi seperti ini,” Lindo memecah keheningan.

Anak dari wanita yang dinikahi Bapak dua puluh dua tahun silam karena sebuah perjodohan. Anak dari seorang istri yang setahun setelah pernikahan akhirnya ditinggal suaminya dalam keadaan mengandung demi menikahi perempuan lain yang dicintainya –Bundaku. Laki-laki yang pernah bermimpi dan kuimpikan untuk jadi pasangan seumur hidup. Kini ia berdiri di depanku, di samping pusara Bapak.

“Kalau aku tahu lebih dulu tentang Bapak kamu, yang ternyata juga adalah Ayahku, mungkin akhirnya nggak akan seperti ini,” ia terus memandangi nisan bertuliskan nama Bapak.

Aku masih tak bergeming. Terus kuelus nisan yang dibasahi gerimis itu. Perasaanku kacau. Air mataku masih mengalir seperti anak sungai yang tak akan kering, tapi yang kurasakan saat ini bukan sekedar kesediah dan kehilangan, melainkan kemarahan, entah untuk siapa.

“Jujur, aku masih nggak percaya kalau hari ini datang. Ibu meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit setelah ditinggal Ayah. Sembilan tahun aku hidup bersama Paman dan bersumpah mencari Ayah serta menuntut balas. Setahun lalu aku bertemu dengan perempuan yang membuat aku jatuh cinta, ditolak Bapaknya, tapi tetap berhubungan secara diam-diam. Sekarang, aku berdiri di depan makam Ayahku bersama seorang adik tiri yang pernah aku cintai. Katakan! Katakan kalau ini cuma mimpi buruk!”

“Sampai kapan pun, inilah kenyataan yang ada,” aku menatap mata Lindo tajam.

Kukumpulkan seluruh kekuataku.

“Mulai sekarang, terimalah kenyataan kalau aku ini adikmu, dan kamu kakakku. Hubungan kita tidak akan keluar dari batas saudara tiri. Setelah empat puluh hari Bapak, pengacaranya akan membacakan surat wasiat. Datanglah, pasti ada bagian untuk kamu,” aku merasa seperti pembunuh berdarah dingin.

Aku bangkit, berdiri dan hendak meninggalkan Lindo serta makam Bapak.

“Apa seperti itu sikap seorang adik terhadap Kakaknya? Kamu lebih seperti perempuan berusia dua puluh tahun yang mengingkari perasaannya!” Lindo setengah berteriak.

Aku menahan tangisku, berbalik, dan memaksakan senyum.

“Maaf, Kak. Aku harap, aku akan segera terbiasa dengan kehadiran Kakak dalam hidupku,” aku pergi.

Pemakaman yang baru dihampiri gerimis. Sepi, hanya kesedihan dan kebohongan yang kembali berpesta dalam hati dua anak manusia.

Comments

  1. Good...
    Ringan..
    Tapi ceritanya betul2 pendek he he..
    I like it!

    ReplyDelete

Post a Comment