masih kasar... mohon saran..

Jadikan Aku Mawar

Langit senja itu, biru kemerahan. Angin bertiup, menerbangkan pikiranku. Tentang apa yang telah kuraih sampai detik ini, yang belum kusadari dan kusyukuri. Usiaku dua puluh tahun, dan masih berstatus sebagai mahasiswi dengan IPK tertinggi di fakultas kedokteran sebuah universitas swasta ternama di kota ini. Universitas bertaraf internasional, yang katanya menjanjikan masa depan cemerlang bagi para lulusannya.

Tapi, apalah arti sebuah gelar, dari sebuah lembaga pendidikan terbaik sekalipun, bila hatimu tak pernah ada di sana. Sampai detik ini, aku masih mempertanyakan statusku sebagai manusia. Apakah aku masih memiliki kebebasanku sebagai manusia? Apakah aku masih pantas disebut manusia yang merdeka?

Nyatanya jalan yang kuambil selama ini, bukanlah atas keinginanku, bukan karena hatiku memilihnya. Maksudku, siapa yang tak ingin menjadi seperti aku? Yang hidup berkecukupan, menjadi mahasiswi teladan, cantik, berasal dari keluarga yang terhormat dan terpandang. Sempurna, kecuali bila kau adalah seorang gadis yang tak pernah menemukan apa yang diinginkan hatinya.

Aku masuk universitas ini atas keinginan kedua orangtuaku. Mengambil jurusan yang diinginkan keluargaku. Menjadi pribadi yang menggambarkan kehormatan dan status sosial keluargaku. Aku terbelenggu! Aku tak bisa menunjukkan siapa aku sebenarnya. Aku yang menyukai tantangan, aku yang mencintai kebebasan, aku yang mencintai dunia yang berbeda. Aku yang sebenarnya tidak berminat menjadi dokter yang kaya raya –orang tuaku menganggap profesi dokter adalah suatu lahan bisnis yang menjanjikan, bukan sebuah pekerjaan kemanusiaan seperti yang tertulis di sebuah buku yang pernah kubaca.

“Ibu saya pernah memarahi saya karena saya duduk menghabisakan waktu saya dengan melamun. Katanya, melamun itu hanya membuat orang susah semakin susah,” sebuah suara membuyarkan lamunanku.

Aku mendelik ke arahnya. Siapa orang ini? Beraninya mengganggu aku.

“Hidup itu terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan melamun dan meratapi nasib,” katanya lagi, sambil mendekat dan duduk di sebelahku.

Kemudian ia menoleh padaku dan tersenyum tanpa dosa.

“Kamu lihat bunga-bunga ini?” ia mengangkat beberapa tangkai bunga mawar yang ia genggam di tangan kanannya,”Bagus, ya,? Kelihatannya cantik, masih segar. Coba bandingkan dengan yang sebelah sini,” ia menyodorkan bunga- bunga setegah layu dari tangan kirinya,”sangat tidak enak dilihat. Hampir layu, warnanya juga sudah mulai berubah.”

“Tentu saja. Yang itu, kan palsu. Dan yang ini asli!” jawabku ketus.

Ia tersenyum.

“Nama saya Satria,” ia tersenyum, meletakkan bunga- bunga palsu itu di pangkuannya sebelum akhirnya mengulurkan tangannya padaku.

Aku tak menyambut uluran tangannya. Aku terlanjur malas setelah mendengar ocehannya tadi. Menyadari tanggapan negatif dariku, ia menarik kembali tangannya.

“Kamu benar. Bunga- bunga ini berbeda. Yang ini terlihat indah sepanjang waktu, namun semua itu palsu. Mereka hanya diciptakan menurut gambaran yang asli. Mereka bahkan tidak merasakan hidup. Tapi, yang ini adalah bunga asli, bunga yang tadinya sempat merasakan hidup sebelum dipetik. Nilai mereka yang terlihat layu ini juga lebih mahal dan berharga,” ia mengelus mawar- mawar yang makin layu itu.

Aku makin tak mengerti arah pembicaraannya.

”Mereka sama seperti kebanyakan dari kita. Banyak orang yang kelihatannya punya kehidupan seperti yang diimpikan orang. Misalnya kaya, terpelajar, punya kekuasaan, pokoknya hidup bahagia, aman, nyaman, tentram, makmur, sejahtera dan sebagainya. Tapi, itu hanya di luarnya saja. Semua palsu. Yang mereka rasakan sebenarnya bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang orang bayangkan. Jiwa mereka kosong, hampa. Mereka juga tidak bisa merasakan kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang nyata. Kebahagiaan yang berasal dari hidup itu sendiri. Di lain tempat, ada orang- orang yang kelihatan layu, tidak punya apa- apa, hidup pas- pasan, bahkan kekurangan hidup bahagia secara rohani. Jiwa mereka terisi oleh kemampuan mereka dalam bersyukur. Mereka jauh lebih bisa memaknai hidup yang mereka rasakan saat ini. bagaimana menurut kamu?,” jelasnya panjang lebar.

“Yah, itulah takdir,” jawabku asal.

“Haha...” ia tertawa kecil,” takdir? Saya belajar, Mbak, kalau takdir kita hanya ada dua. Yaitu hidup dan mati. Selebihnya adalah pilihan kita sendiri. Apakah kita berani menjadi bunga asli yang berusaha untuk hidup meski akan layu pada saatnya nanti? Atau kita hanya bisa diam sebagai bunga palsu dengan keindahan semunya? Hanya diri kita masing- masing yang tahu,” ia meninggalkan masing- masing sekuntum mawar asli dan palsu di pangkuanku, kemudian pergi tanpa pamit.

Langit makin gelap. Aku memandangi bunga- bunga itu bergantian.

“Malaikat macam apa yang Kau utus padaku, Tuhan?” gumamku dalam hati.

Kata- kata Satria sedikit banyak telah membuka pikiranku. Bagaimana mungkin aku hidup dalam kepalsuan, hanya untuk “menyenangkan orang tua”?

Saat tiba di rumah, kudapati Mama Papa tengah asyik mengobrol dengan Fandy di ruang keluarga.

“Nah, itu Ailennya udah pulang!” seru Mama.

“Ailen, coba lihat siapa yang datang repot- repot untuk mengantar bingkisan ini!” Papa melambaikan tangan padaku.

Aku melirik sekilas ke arah kotak kado berwarna emas yang bertengger di atas meja kaca, tepat di hadapan mereka bertiga. Akhir- akhir ini Fandy sering bertamu dan membawakan keluarga kami hadiah- hadiah yang menurutku tak begitu penting. Bukan tidak pernah Fandy datang ke rumah orang tuaku. Sebagai sahabat sejak kecil –bahkan mungkin sejak lahir- kami sering saling mengunjungi. Tak jarang aku dan orang tuaku –yang notabene juga merupakan sahabat lama orang tua Fandy- main ke rumahnya. Yang membuatku heran, cara pandang Fandy dan Mama Papa seperti berbeda untuk saat ini. aku mencium gelagat yang tak biasa.

“Hai, Fan!” sapaku singkat.

“Hai, Len!” balasnya.

“Ada angin apa jam segini main ke rumah gue?” aku melihat jam tanganku. Jelas sudah terlalu malam bagi seseorang untuk bertamu ke rumah kawannya.

“Cuma iseng. Kebetulan tadi lewat, jadi mampir sekalian,” Fandy nampak salah tingkah.

“Kebetulan apa emang sengaja? Kalau kebetulan sempat- sempatnya beliin kado segala?”

“Udah donk, sayang! Lihat tuh, mukanya Fandy udah merah gitu,” Mama jelas tengah menyembunyikan sesuatu.

Aku hanya mengangkat bahuku.

“Fandy, katanya ada yang mau dibicarakan sama Ailen?” Papa tersenyum jahil pada Fandy.

“Oh, iya. Sampai lupa, Om. Hmm... besok ada acara, nggak Len? Gue mau ngajak lo jalan.”

“Hmm... besok, ya? Duh, sorry, Fan. Gue ada acara,” aku menolak dengan halus.

“Acara apa, sayang? Bukannya besok kamu nggak ada kuliah, ya?” tanya Mama.

“Ya, justru karena nggak ada kuliah itu, Ma. Ailen udah janji mau pergi sama teman- teman,” jawabku berbohong.

Aku jelas belum mempunyai janji apapun pada siapapun untuk acara besok.

“Yah, tapi kan...” ucapan Mama dipotong Fandy.

“Nggak apa- apa tante. Mungkin lain kali. Iya, kan, Len?”

Aku mengangguk asal.

“Eh, itu bunga dari siapa, Len?” tanya Papa.

“Oh, bukan dari siapa- siapa, Pa. Tadi iseng beli di jalan. Ailen ke kamar dulu, ya? Belum mandi, nih. Masih bau keringat. Gue ke atas, ya Fan. Daaaahhh semua,” aku melambaikan tangan sambil setengah berlari menaiki anak tangga. Samar masih kudengar percakapan Fandy dan orang tuaku.

“Apa itu bunga dari pacarnya, Tante?” tanya Fandy.

“Setahu Tante, Ailen belum punya pacar, lho. Ya, mungkin benar dia iseng beli di jalan. Ailen, kan memang suka begitu,” Mama meyakinkan sesuatu pada Fandy.

“Nanti biar Om dan Tante bicarakan pelan- pelang dengan Ailen. Dia pasti setuju,” itulah kalimat Papa yang terakhir kudengar.

Bicarakan apa? Setuju dengan apa? Ah, sudahlah. Aku tak ingin memikirkan hal itu. Sekarang yang harus kupikirkan adalah kata- kata Satria. Aku bergumam dalam hati.

Sabtu sore, aku menunggu Satria di bangku yang sama dengan yang kami duduki kemarin. Angin bertiup sepoy- sepoy. Sebenarnya suasana seperti ini cukup romantis untuk bertemu dengan kekasih. Di sekitarku juga banyak pemuda- pemudi yang bercengkrama dengan pasangan masing- masing.

Aku mulai jengah saat tak juga kudapati kemunculan Satria. Sudah setengah jam aku duduk sendiri seperti orang bodoh. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

“Saya tahu kamu akan datang lagi,” sebuah suara muncul dari belakangku.

Itu suara Satria. Orang yang telah aku tunggu. Ia berjalan ringan mendekat dan duduk di sebelahku –lagi.

“Maaf kemarin saya ketus,” aku menunduk.

Ada sedikit rasa malu menyelinap di hatiku.

“Nggak apa- apa. Orang- orang kecil seperti saya sudah biasa diperlakukan seperti itu. Lagi pula saya juga salah, langsung menggurui kamu. Padahal kita belum saling kenal. Maaf juga saya memanggil kamu dengan sebutan “mbak”, kamu pasti tidak nyaman,” katanya sambil tersenyum kecil.

Senyum yang tulus dari seseorang yang rendah hati.

“Oh, iya. Nama saya Ailena, kamu bisa panggil saya Ailen,” tanpa ragu kuulurkan tanganku.

Ia menyambutnya. Kami bersalaman untuk sesaat. Tangannya terasa begitu hangat.

“Saya kira cukup,” Satria menarik tangannya, masih dengan senyum yang sopan.

“Oh, maaf,” aku buru- buru membuang muka.

Hening.

“Semalam saya memikirkan kata- kata kamu kemarin sore. Kamu benar. Kadang kita terlena dalam kepalsuan. Kita hanya melihat hal dari satu sudut pandang, kita sering terlalu cepat menghakimi. Kita menganggap yang terlihat baik di luar pasti juga baik di dalam, begitu pula sebaliknya. Padahal itu semua belum tentu benar. Singkatnya sama dengan pepatah jangan menilai buku dari sampulnya,” aku menoleh dan melihat reaksinya.

Ia hanya tersenyum.

“Ya, kamu benar. Dan apa kamu sudah memilih?”

“Memilih apa?” tanyaku.

“Memilih, apakah kamu akan berjuang sebagai bunga asli, atau berpura- pura seperti bunga palsu.”

“Itu... aku juga belum tahu,” aku menunduk lagi.

“Kamu harus tahu. Kamu harus menentukan arah hidupmu secepatnya. Sebelum semua terlambat,” ia memberiku setangkai mawar asli, dan pergi tanpa pamit –lagi.

Sejak hari itu, aku selalu menyempatkan diri mampir untuk bertemu Satria di taman itu. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Kadang kami hanya saling mendengar curhat yang lain. Seperti sore ini, ia bercerita tentang Ayahnya. Seorang ayah yang mengajarkan semangat nasionalisme pada anaknya. Dan seorang Ayah yang tak pernah membiarkan anaknya takut akan perbedaan suku, budaya, agama bahkan status sosial.

Sore berikutnya, ia bercerita tentang teman- temannya sesama penjual bunga. Nyatanya tidak semua dari mereka benar- benar menyukai bunga. Semua mereka lakukan hanya untuk bertahan hidup.

Sore yang lain, kami membahas seorang dokter kenalannya. Dokter yang baik, yang bekerja bukan semata- mata untuk uang, tapi lebih karena alasan kemanusiaan. Bayangkan, ia memeriksa orang- orang kecil tanpa memungut biaya sedikit pun. Apa benar masih ada orang seperti beliau?

Dan ada banyak sore yang kami bagi berdua. Sebanyak pengalaman dan ilmu yang ia beri padaku. Bersama Satria aku bisa menjadi diriku yang apa adanya. Tak perlu takut akan komentar ini- itu.

“Apa kamu benar- benar seorang penjual bunga keliling?” tanyaku di suatu sore.

“Apa penampilanku kurang meyakinkan?” ia tersenyum jahil.

“Bukan begitu. Tapi untuk ukuran seseorang yang hanya tamat SMA, kamu terbilang sangat cerdas.”

“Apa kamu akan percaya kalau aku bilang, aku ini adalah anak seorang pengusaha wanita -yang punya aset triliunan di dalam dan luar negeri- yang sedang kabur dari rumah untuk mencari pengalaman dan jati diri?”

Aku menatapnya tak percaya.

HAHAHAHAHAHAHAHA....

Tawa kami pecah.

“Kamu nggak hanya cerdas, tapi juga lucu,” aku terpingkal.

Kemudian ia berhenti tertawa. Aku menoleh ke aranya. Ia menatap mataku lekat. Ada sebuah getar di hatiku. Dan matanya meyakinkan aku, bahwa ia juga merasakan hal yang sama.

Tak perlu kata- kata. Tak perlu sentuhan langsung. Aku dan dia tahu. Kami sedang jatuh cinta.

“Dari mana kamu?” suara Papa menghentikan langkahku menaiki tangga.

“Ada acara sama teman,” jawabku santai.

Aku merasa tak melakukan kesalahan apapun. Malam juga belum begitu larut. Bahkan aku pulang sebelum meja makan selesai disiapkan.

“Acara dengan teman? Sampai jam segini?!” suara Papa meninggi.

“Kenapa? Biasanya juga Ailen pulang jam segini,” aku membela diri.

“Iya, tapi biasanya kamu pergi dengan Fandy. Tapi sekarang kamu buat Fandy kecewa dengan menolak ajakan dia pergi ke peluncuran produk terbaru milik rekan bisnis Papanya, dan entah kelayapan dengan siapa!”

“Papa ngomong apa, sih? memangnya Fandy itu siapa, sampai Ailen harus selalu pergi dengan dia?”

“Fandy itu tunangan kamu! Calon suami kamu!” pernyataan Papa membuat jantungku nyaris lepas.

“Apa?! Papa ngaco, ya?! Ailen sama Fandy cuma teman, nggak lebih. Itu pun karena Papa dan Om Ali bersahabat dari kecil. Lagi pula Fandy sama sekali bukan tipe cowok yang Ailen suka!”

“Jaga bicara kamu Ailen! Fandy itu calon pewaris tunggal perusahaan Om Ali. Dan sejak kamu masih dalam kandungan, Papa dan Om Ali sudah berjanji akan menjodohkan kalian!”

“Pa! Ini bukan jamannya Siti Nurbaya! Lagi pula Ailen sudah punya pilihan Ailen sendiri! Kalau Papa mau, jodohkan saja Fandy dengan Yenni! Anak perempuan Papa, kan bukan hanya Ailen!” aku membawa nama salah satu adik perempuanku.

“Apa?!”

“Iya! Namanya Satria. Dia jauh lebih baik dari Fandy yang hanya bisa ngemis uang dari orang tuanya!”

“Siapa? Satria? Papa nggak pernah dengar nama itu.”

“Memang. Karena dia memang bukan anak dari salah satu orang “kaya” seperti yang Papa hafal.”

Suasana makin memanas.

“Pa, sudah! Jangan marah- marah, ingat kondisi kesehatan Papa! Ailen, bisa, kan bicara yang sopan sama Papa?!” Mama merangkul Papa dan mengusap dadanya.

“Ada apa, sih? Ailen! Apa lagi ini?” Kakak laki- lakiku turun dari kamarnya di lantai dua, langsung menatapku garang.

Aku menatap Papa, Mama dan Kakakku bergantian. Aku bahkan sudah kehabisan kata- kata. Akhirnya aku menghela nafas dan berlari ke kamarku.

Pintu kamar adalah pelampiasan amarahku yang pertama. Kubuka dan kututup dengan kasar. Lalu ku banting tubuhku ke atas ranjang.

Aku marah! Sangat marah. Bahkan sampai tak bisa lagi menangis. Aku hanya diam dan mengurung diri di kamar.

Tak bisa kupungkiri, inilah budaya yang selama ini berjalan di keluargaku. Harusnya sudah kusadari sejak awal memilih Satria. Keluargaku tak akan menerimanya. Tidak bisa. Tidak selama mereka masih menuruti tradisi kuno. Tentang kehormatan keluaraga atau apalah itu namanya.

Ya, dari status sosial saja, kami jelas berbeda. Papa nggak akan mau mempunyai calon menantu yang hanya seorang penjual bunga. Ditambah lagi... sebenarnya aku malu membicarakannya. Hal ini benar- benar tak pantas dibicarakan.

Kamu harus tahu. Kamu harus menentukan arah hidupmu secepatnya. Sebelum semua terlambat.

Bayangan Satria muncul di memoriku. Dia benar, aku harus bertindak. Sekarang atau tidak selamanya. Mama Papa jelas tidak akan mengalah demi aku. Mereka terlalu kolot. Terlalu egois dan ambisius. Baik, kalau ini yang mereka mau. Akan aku berikan.

Aku keluar kamar dengan tenang. Turun menuju ruang tamu.

“Mau kemana kamu jam segini?” tanya Mama menyelidik.

“Ailen mau ketemu Fandy,” jawabku ringan.

Di dalam jantungku berdegub kencang.

“Malam- malam begini?”

Aku melirik jam dinding di atas vas keramik yang Mama beli saat berlibur ke Guang Zhou.

“Belum terlalu malam untuk membicarakan rencana Mama Papa sambil dinner, kan?” aku mencoba tersenyum.

“Bagaimana Mama tahu kamu bohong atau tidak?”

Aku menyodorkan handphoneku ke hadapan Mama. Tertera di layarnya SMS antara aku dan Fandy yang janjian di sebuah cafe untuk makan malam. Mama menagngguk puas, tersenyum, dan mencium keningku.

“Hati- hati, ya, sayang?” ia melepas kepergianku.

Air mataku mau tumpah. Tapi kutahan sekuat tenaga.

“Mama baik- baik, ya di rumah! Bilang ke Papa, Ko Rian, Yenni, dan Imey aku pamit. Dah Mama,” aku memeluk Mama erat, kemudian berjalan ke mobil sambil melambaikan tangan.

Bagaimanapun aku mencintainya. Ia Ibuku –ibu yang melahirkan dan membesarkan aku. Hanya saja, aku sendiri tak percaya akan seperti ini jadinya.

Kuletakkan tasku di jok belakang. Aku lupa menutupnya ternyata. Terlihat beberapa helai pakaian yang kubawa. Untung Mama tidak menanyakan isi tasku yang cukup besar ini. Aku sering berpergian dengan tas yang cukup besar, tapi tidak sebesar yang kali ini kubawa.

Ya, aku berhasil menipu banyak orang malam ini. Kukirim SMS kepada Fandy, meminta ia menemuiku. Dan kugunakan itu sebagai alibi untuk mengelabui Mama. Maaf, semua, tapi, inilah jalan satu- satunya untuk menunjukkan kebenaran pada kalian.

Aku mengemudikan mobilku sambil menangis. Airmata yang susah payah kutahan tadi, akhirnya tumpah juga. Tempat pertama yang kutuju adalah taman tempat aku dan Satria biasa bertemu. Walaupun yakin seratus persen, bahwa aku tidak akan menemukannya di sana saat ini, setidaknya aku ingin mengenang semua kisah kami untuk sejenak.

Aku duduk di bangku, di bawah pohon rindang, tempat kami bicara, tempat kami berbagi cerita dan pengalaman. Aku menangis sepuasnya untuk beberapa saat. Malam makin larut dan taman memang sepi. Setelah puas mengarungi lautan memori bersama Satria, aku melanjutkan perjalananku.

Delapan bulan sudah aku hidup sendiri di kota ini. Di mana tak ada seorang pun yang mengenaliku sebagai Ailena Claudia Tan. Aku memulai sebuah hidup yang lebih sederhana. Bermodalkan sisa tabungan yang kuambil sebelum orang tuaku memblokir nomor rekeningku juga hasil penjualan mobil mewahku, aku berhasil menyewa rumah kontrakan sederhana dan membeli mobil bekas yang masih layak. Aku puas atas apa yang telah aku capai sekarang.

“Mawar, ini fee kamu dari artikel edisi yang lalu dan ada surat dari pembaca juga,” Serafin membuatku sedikit tersentak dari lamunanku.

“Trims,” aku menerima amplop cokelat darinya.

Sudah enam bulan aku bekerja sebagai penulis lepas di media cetak ini. penghasilanku tak banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Dan yang paling penting, aku hidup di dunia yang aku inginkan. Dunia menulis. Dunia sastra.

Meski menjadi salah satu penulis artikel favorit, sering mendapat surat berisi pujian, kritik, dan saran dari pembaca, tak pernah ada yang menyadari keberadaanku. Yang mereka kenal adalah Mawar bukan Ailen. Mawar yang menulis artikel di rubrik sastra, bukan Ailena yang berkompeten di dunia kesehatan. Mawar yang misterius dan tak pernah diketahui identitas aslinya.

Aku membaca surat demi surat. Tulisanku makin dihargai. Pembaca makin puas dengan hasil kerjaku. Aku senang. Aku bersyukur bisa merasakan perasaan seperti ini. Perasaan senang karena benar- benar “hidup”, seperti yang dikatakan Satria.

Ah, nama itu. Aku merindukan nama itu. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa ia masih berjualan bunga? Apa ia masih ingat padaku? Bagaimana dengan keluargaku? Apa mereka masih menganggapku? Apa mereka sudah menyadari keputusan mereka?

Sejak keputusanku waktu itu, aku tak pernah menguhubungi mereka lagi. Aku mengganti nomor handphoneku, menghapus semua alamat email dan jejaring sosial atas nama Ailena, dan mengganti dengan nama Mawar. Kupandangi sejenak bingkai foto keluarga yang kubawa hari itu. Juga mawar pemberian Satria yang telah kuawetkan.

Jantungku berdebar saat kuparkir mobil di seberang taman. Lama sudah aku tak kemari. Kenangan-kenangan bersama Satria muncul silih berganti di memoriku. Kukuatkan kakiku untuk melangkah menuju tempat yang biasa kududuki.

Terlihat dari jauh, ada yang berbeda dari bangku taman itu. Seluruh sisinya dipenuhi oleh mawar- mawar yang telah layu. Aku memperhatikan orang- orang di sekelilingku, berharap menemukan Satria. Tapi, bukan ia yang kutemukan, mataku justru tertuju pada sebuah amplop berwarna hitam, dikaitkan pada sekuntum mawar palsu yang nampak segar. Entah bisikan dari mana, aku memutuskan untuk membuka amplop yang ternyata berisi surat itu.

Untuk Ailena,

Mawar sejati yang tak akan pernah layu

Awalnya, aku tidak mengerti kenapa kamu menghilang begitu saja. Kamu sama sekali nggak memberikan penjelasan yang bisa aku mengerti. Aku marah, aku kecewa. Tapi, kemudian aku sadar akan satu hal, kamu telah menentukan jalan hidupmu sendiri. Kamu telah memutuskan untuk menjadi mawar sejati, dan berjuang untuk mekar kembali. Aku memahami keputusan kamu. Jadi, aku putuskan untuk menunggu, kalau- kalau kamu akan kembali, meski hanya untuk mengucapkan perpisahan sebelum akhirnya pergi lagi. Kamu bisa lihat, berapa banyak mawar yang telah aku rekatkan. Sebanyak itu pula sore yang telah aku lalui untuk menunggu kamu di taman ini. sampai akhirnya aku harus menyerah. Aku harus meletakkan mawar palsu yang tak akan layu ini, sebagai pengganti raragku yang nggak mungkin lagi ada di taman ini untuk menunggu kamu. Terimakasih, karena kamu sudah mau mendengarkan kata- kataku. Terimakasih karena kamu sudah memberiku banyak inspirasi.

Aku yakin, Ailena, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Bukan sebagai Satria dan Ailena yang belum menemukan hidupnya, melainkan sebagai mawar yang telah berhasil berkembang.

Satu lagi, waktu itu kamu pernah bertanya apakah aku benar- benar seorang penjual bunga. Ya, aku benar-benar seorang penjual bunga. Tapi apakah aku adalah anak “Ayahku” seperti yang aku ceritakan, maaf aku berbohong. Aku bahkan tak pernah mengenal sosok ayahku sejak lahir. “Ayah” yang kuceritakan selama ini, adalah Pak Tua penjaga taman. Ia yang mengajariku banyak hal. Aku percaya, kalau kamu bertemu dengan dia, kamu akan jadi lebih hebat dari aku. Sampai jumpa Ailena. Sampai jumpa Mawarku.

Satria (Ferdinan Kusumanegara)

Aku terduduk di bangku itu –menangis sejadinya. Apa aku pergi terlalu lama? Kemana kamu pergi Satria?

“Tuan muda Ferdinan melanjutkan studinya ke luar negeri,” seorang pak tua duduk di sebelahku.

“Bapak?” tebakku ragu.

“Iya, saya ini penjaga taman ini. Taman milik Nyonya Mia Kusuma, ibunya Tuan Muda Ferdinan,” Pak Tua itu tersenyum.

Wajahnya jelas sudah tak lagi muda. Kerutan-kerutan nampak jelas menghiasi wajahnya. Hanya satu, nampak jelas ada semangat yang tak pernah pudar di dalam dirinya.

“Mia Kusuma?” aku memastikan.

Aku tak asing dengan nama itu. Seperti...

“Maksud bapak, Mia Kusuma pengusaha wanita yang terkenal itu?”

“Iya. Nyonya Mia Kusuma, pemilik taman ini dan gedung tinggi yang ada di sebelah sana,” Pak Tua itu menunjuk ke arah sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah.

Mega Kusuma group. Perusahaan raksasa di negara ini. Dan Satria adalah salah satu pewarisnya?

“Yang bapak maksud Tuan Muda Ferdinan itu Satria?” tanyaku lagi.

“Oh, iya. Selama tinggal bersama saya, Tuan Muda memakai nama Satria, nama saya,” Pak Tua tersenyum lagi.

“Jadi Satria itu nama bapak sendiri?”

“Iya,” Pak Satria menjawab pasti.

“Kenapa dia bisa tinggal dan berjualan bunga di sini?”

“Sebenarnya Tuan Muda pergi dari rumah karena suatu masalah. Lalu, saya menemukannya sedang duduk di bangku ini. Tuan Muda sangat baik, ia mau mendengarkan semua ocehan orang tua ini. Dan Tuan Muda juga banyak membantu saya. Karena itu, saya putuskan untuk merawatnya sampai ia berkenan kembali ke rumahnya. Kalau tentang penjual bunga, itu adalah keinginan Tuan Muda sendiri. Tuan Muda ingin mandri dan tidak merepotkan saya, padahal saya tidak pernah merasa direpotkan. Justru bersyukur bertemu malaikat seperti Tuan Muda.”

Air mataku jatuh lagi. Buru- buru kuhapus sebelum ketahuan Pak Satria.

“Bapak tahu kemana Sat –maksud saya Ferdinan melanjutkan studinya?”

“Tidak. Saya hanya dititipkan pesan untuk menjaga bangku ini sampai nona datang. Masalah kemana persisnya Tuan Muda pergi, saya tidak tahu.”

Aku sedikit kecewa mendengar pernyataan orang tua itu.

“Baik kalau begitu, Pak. Saya pamit dulu,” aku berdiri hendak menyalami beliau.

“Apa Non Ailen akan kembali lagi?” tanyanya.

“Iya. Suatu hari pasti saya akan kembali lagi. Kalau Ferdinan mencari saya, katakan, saya telah menjadi Mawar seutuhnya,” aku tersenyum meninggalkan Pak Satria.

Langkah berikutnya, kuikuti jejak Satria.

Untuk Mama, Papa, Ko Rian, Yenni, dan Imey

Sebuah kerinduan dan kekecewaan

Kalau kalian masih menganggap aku sebagai bagian dari kalian dan mengkhawatirkan aku, aku baik- baik saja.

Hanya saja, ada rasa kecewa yang mencegah aku pulang. Pa, papa ingat Satria yang pernah Ailen ceritakan? Satria yang papa tolak karena tidak tercatat sebagai salah satu pewaris perusahaan kaya. Perlu papa tahu, sampai saat ini Ailen masih mencintai dia. Dan perlu papa tahu juga, bahwa yang telah papa tolak adalah “tambang emas” yang lebih berharga dari Fandy. Ya, nama Aslinya adalah Ferdinan Kusumanegara, salah satu pewaris Mega Kusuma group yang terkenal itu. Papa tidak bisa mengenalinya, karena bahkan sebelum papa mendengar tentang dia, papa sudah menolaknya. Papa menolak mawar segar yang belum berkembang, mawar segar yang sebenarnya hanya butuh waktu untuk menunjukkan bahwa ia lebih berharga dari mawar palsu kebanggaan papa –Fandy. (sekedar info saja untuk papa dan ambisi papa, Kusuma grup memiliki saham yang cukup besar di The Great Lie corps. Perusahaan milik Om Ali, papanya Fandy.) Dan keinginan Papa terwujud, aku berpisah dengan Satria, dan mungkin tak akan bertemu dalam waktu dekat.

Ma, Ailen di sini bahagia. Dan ailen kangen sekali sama mama. Tapi, maaf, Ma. Ailen nggak bisa meneruskan cita- cita mama untuk menjadi seorang ahli bedah. Yang harus mama yakini, apapun pekerjaan Ailen sekarang, adalah pekerjaan yang tak kalah terhormat. Ailen membuka mata banyak orang, Ma. Tidak hanya menyembuhkan fisik mereka, tapi juga menyegarkan batin mereka. Ailen sedang berusaha menjadi mawar yang sejati, yang merasakan hidup, meski butuh proses dan akan layu.

Ko Rian, Yenni, Imey, maaf kalau aku mengecewakan kalian. Aku nggak bisa menyamakan langkah sebagai sudara. Aku punya jalanku sendiri. Dan aku harap kalian mengerti itu.

Bagaimanapun juga, kalian tetap keluargaku. Dan suatu hari nanti, saat aku mampu membuktikan bahwa keputusan yang kuambil adalah benar, aku akan pulang. Saat itu, aku harap aku akan melihat perubahan kalian.

Tolong, jangan sampai apa yang menimpaku, juga menimpa Yenni dan Imey. Biarkan mereka berdua menentukan jalan hidup mereka masing- masing.

Mohon doa kalian,

Ailena Claudia Tan

Aku tak mungkin menyerahkannya langsung. Jadi, kutulis alamat lengkap rumah keluargaku di amplop putih itu. Dan kukirimkan lewat kantor pos.Aku harap, saat mereka membaca surat itu, setidaknya ada pelajaran yang bisa mereka ambil.

Aku tak tahu kapan lagi akan kembali ke kota ini. mungkin tahun depan, atau dua tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Untukku, sekarang yang terpenting adalah melanjutkan langkah Satria yang berikutnya. Membuka pandangan orang- orang tentang hidup yang sebenarnya. Hidup yang dilandasi kebebasan. Hidup yang punya makna karena dihiasi cinta dan ketulusan, bukan status sosial semata.

Sampai saat itu, aku akan tetap jadi Mawar. Mawar yang menginspirasi banyak orang.

DearThe Wise Mawar

Cerita berjudul “Seribu Mawar” yang kamu tulis di edisi lalu, benar- benar mengena di hati saya. Terimakasih karena kamu sudah ikut membantu membuka mata hati saya untuk melihat indahnya hidup yang benar- benar dilandasi rasa syukur dan cinta. Saya pernah merasakan berada di posisi Ibunya Lara. Dan saya benar- benar menyesal atas apa yang telah saya lakuakan, sampai menyebabkan saya harus kehilangan salah satu puteri terbaik saya. Tapi, sungguh saya berusaha memperbaiki semua. Dua putri bungsu saya telah lulus kuliah sebagai mahasiswi terbaik di fakultas pilihan mereka sendiri. Mereka juga sudah menemukan pasangan hatinya masing- masing. Mereka sangat bahagia, begitu pula dengan saya dan suami saya. Sekali lagi trimakasih. Saya harap pembaca lainnya juga bisa belajar dari cerita- ceritamu. Supaya tidak ada lagi ibu- ibu lain yang bersikap seperti saya dan Ibunya Lara.

Rianti Tan

Untuk Mawar

Yang kuyakin adalah mawar sejati

Sejak awal aku sudah curiga. Dan saat membaca karyamu yang ada di edisi lalu, muncul satu pertanyaan besar di kepalaku. Apa kamu yakin bahwa kamu adalah seorang penulis? Karena kamu menuliskan semua seperti penyihir dan paranormal. Kamu tahu semua isi cerita secara mendetail. Saya akan percaya, kalau kamu mengatakan bahwa kamu adalah seorang mahasiswi terbaik di universitas terbaik, yang kabur untuk berkembang menjadi mawar yang sempurna. Dan kalau itu memang benar, ijinkan aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu. Keberhasilan kita.

Aku yakin, kalau aku ada di posisi Fadli, pemuda penjual bunga dalam ceritamu yang berjudul “Seribu Mawar” itu, aku akan melakukan hal yang sama. Atau tepatnya aku memang telah melakukan hal yang sama. Aku pun berharap sesuatu yang sama denganmu. Aku juga berdoa, supaya tidak ada lagi pecinta kehidupan yang bernasib sama dengan kita. Aku terus berdoa, agar semakin banyak orang yang berani mengambil langkah seperti yang kamu ambil. Satu lagi, aku harap kita bisa bertemu (lagi), setelah aku menyelesaikan studiku sekarang ini. Tinggal satu setengah tahun lagi. Bisa, kan?

Hmmm... sebagai seorang fans, aku mencintai karyamu. Tapi, sebagai seorang pria, aku mencintaimu, Ailena...

Seribu mawar dan rindu untukmu,

Satria( Ferdinan Kusumanegara)

Comments